CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Kemenangan Kecil Raina
KK

Kemenangan Kecil Raina

oleh Ainun Mubin Misbah N
CerpenGratis6 menit baca2 dibacaJFMM Participant
"Raina, minggu depan kamu akan menjadi perwakilan kelas untuk membacakan pidato saat upacara Hari Pendidikan ya,"
Kalimat dari Bu Siska itu langsung membuat jantung Raina serasa berhenti berdetak. Anak perempuan kelas lima SD itu hanya bisa mengangguk pelan. Tangannya yang semula sibuk merapikan buku tiba-tiba berubah menjadi dingin dan kaku. Berbicara di depan kelas saja membuat suaranya gemetar apalagi harus berdiri di depan ratusan siswa.
Sepanjang perjalanan pulang, wajah Raina murung. Biasanya ia bercerita tentang kegiatan sekolah kepada mamanya, tetapi sore itu ia hanya diam.
"Ada apa, Sayang? Mama perhatiin daritadi kok wajahnya ditekuk begitu?" tanya Mama sambil menyodorkan segelas susu hangat kepada anak semata wayangnya itu
Raina menarik napas panjang.
"Aku dipilih pidato saat upacara, Ma."
"Wah, itu kabar baik,”
"Bukan kabar baik. Aku takut."
Mama tersenyum lembut.
"Takut itu wajar. Semua orang juga pernah takut."
"Tapi aku pasti gagal."
Mama mengusap kepala putrinya.
"Belum mencoba kok sudah bilang gagal?"
Raina menunduk. Dalam pikirannya sudah terbayang teman-temannya menertawakan jika ia lupa isi pidato.
***
Hari-hari berikutnya, Raina rutin berlatih bersama mama. Setiap selesai mengerjakan PR, Mama mengajak Raina berdiri di ruang tamu.
"Anggap sofa itu murid-muridmu," ucap Mama dengan nada lembut
Raina mulai membaca teks pidato. Baru dua kalimat, suaranya mengecil.
"Lebih keras sedikit."
Raina mencoba lagi dan hasilnya masih tetap sama. Suaranya masih pelan. Akan tetapi, mama adalah orang yang selalu tenang membersamainya dan tidak pernah memarahinya sekalipun.
Beliau hanya tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa. Ayo kita coba ulangi,"
Malam demi malam mereka berlatih. Kadang di depan cermin. Kadang di halaman rumah. Kadang sambil membayangkan sedang berada di lapangan sekolah. Setiap kali Raina salah mengucapkan kata, Mama selalu memberikan semangat.
"Kesalahan bukan tanda kamu tidak bisa. Kesalahan itu tanda kamu sedang belajar,” ujar mama sambil memeluk Raina. Kalimat itulah yang membuatnya makin termotivasi untuk berlatih. Sebuah untaian kata-kata sederhana namun melekat kuat di hati Raina.
“Doakan aku berhasil ya, Ma,” ujar Raina sebelum tidur
***
Dua hari sebelum upacara, Bu Siska mengadakan latihan di sekolah. Saat namanya dipanggil, langkah kaki Raina terasa berat untuk maju.
Ia maju ke depan kelas. Baru mengucapkan salam saja suaranya sudah bergetar. Beberapa teman saling melirik. Raina semakin gugup. Tiba-tiba isi pidato yang sudah dihafalnya hilang begitu saja. Gadis kecil itu hanya terdiam.
Ruangan menjadi sunyi. Air matanya hampir jatuh namun Bu Siska menghampiri sambil tersenyum.
"Tarik napas pelan."
Raina mengikuti.
"Bagus. Sekarang mulai lagi dari awal."
Anehnya, kali ini ia berhasil menyelesaikan pidatonya sampai akhir.
Seluruh teman bertepuk tangan.
Tepuk tangan sederhana itu membuat rasa percaya dirinya tumbuh sedikit demi sedikit.
***
Malam sebelum upacara, hujan turun cukup deras.
Raina masih memegang teks pidatonya.
"Ma..."
"Iya?"
"Kalau besok aku lupa lagi bagaimana?"
Mama menggenggam kedua tangan putrinya.
"Dengarkan Mama baik-baik."
Raina mengangguk.
"Yang membuat seseorang hebat bukan karena dia tidak pernah takut."
"Lalu?"
"Karena dia tetap melangkah meskipun takut."
Raina memeluk Mamanya erat. Untuk pertama kalinya, ia merasa yakin dan percaya pada dirinya sendiri bahwa ia bisa melakukannya.
***
Pagi itu matahari bersinar cerah. Lapangan sekolah sudah ramai dipenuhi siswa berseragam merah putih. Suasana tersebut membuat jantung Raina berdetak semakin cepat. Tangannya berkeringat. Perutnya terasa mulas.
Dari kejauhan, ia melihat Mama berdiri di luar pagar sekolah. Mama memang sengaja datang lebih pagi agar bisa menyaksikan putrinya. Mama mengangkat kedua jempolnya.Tanpa suara.Tanpa kata. Akan tetapi, tenyuman itu seolah berkata, Mama percaya padamu.
Nama Raina dipanggil. Ia berjalan menuju podium. Ratusan pasang mata memandang ke arahnya. Kakinya sempat gemetar begitu pula dengan kedua tangannya.
Ia menutup mata sejenak. Mengingat latihan di ruang tamu. Mengingat latihan di depan cermin. Mengingat tepuk tangan teman-temannya. Dalam benaknya, ia terus mengingat kalimat Mama.
"Tetap melangkah meskipun takut."
***
Raina menarik napas panjang sambil membuka pidatonya, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Suaranya menggunakan mikrofon terdengar dengan jelas. Ia mulai membaca pidato dengan perlahan. Semakin lama, rasa gugupnya perlahan berkurang. Ia tidak lagi melihat keramaian. Yang ia lihat hanyalah wajah-wajah yang mendengarkan dengan tenang.
Sesekali ia mengangkat pandangan dari teks. Ternyata tidak semenakutkan yang ia bayangkan. Beberapa guru tersenyum bangga. Bu Siska menganggukkan kepala. Teman-temannya memperhatikan dengan serius.
Kalimat demi kalimat mengalir lancar. Hingga akhirnya ia mengucapkan penutup. "Demikian pidato yang saya sampaikan. Lebih dan kurangnya mohon dimaafkan. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh."
Beberapa detik suasana hening. Lalu, tepuk tangan bergemuruh memenuhi lapangan. Raina hampir tidak percaya. Ia benar-benar berhasil berdamai dengan rasa takutnya. Ini adalah pengalaman pertama dirinya tampil berpidato di depan umum.
***
Setelah upacara selesai, Bu Siska menghampirinya.
"Kamu luar biasa, Raina."
"Terima kasih, Bu."
"Kamu sudah berhasil mengalahkan ketakutanmu."
Kalimat itu membuat mata Raina berbinar. Bukan karena ia menjadi pembicara terbaik. Bukan pula karena semua orang memujinya namun karena hari itu ia berhasil melakukan sesuatu yang selama ini selalu ia hindari.
Raina berlari menuju gerbang sekolah. Mama sudah menunggu di sana. Begitu melihat mama, ia langsung memeluk erat.
Air mata haru mengalir di pipinya. Dengan napas yang masih tersengal karena berlari, ia berkata,
"Ma..."
Mama menjawab sembari membelai rambut putrinya, "Iya, Nak?"
Raina tersenyum lebar. Senyum paling indah yang pernah dimilikinya.
"Ma... aku berhasil."
Mama ikut menangis terharu.
"Iya. Mama tahu kamu pasti bisa."
"Tadi aku masih takut."
"Terus?"
"Aku ingat kata Mama. Orang hebat bukan yang tidak pernah takut, tapi yang tetap melangkah."
Mama mengangguk sambil menghapus air mata putrinya. "Hari ini kamu belajar sesuatu yang lebih penting daripada pidato."
"Apa itu, Ma?"
"Keberanian."
Raina menatap langit yang cerah, seolah-olah ia ikut tersenyum bahagia melihatnya.
Hari itu ia mengerti bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah memilih untuk tetap melangkah, meski lutut gemetar dan hati dipenuhi keraguan. Sejak saat itu, Raina tidak lagi menolak ketika diminta berbicara di depan kelas. Sesekali ia masih gugup, tetapi ia tahu cara menghadapinya.
Ia menarik napas. Tersenyum. Lalu melangkah. Karena setiap keberhasilan selalu diawali oleh keberanian untuk mencoba. Sekarang, setiap kali mengingat hari bersejarah itu, Raina selalu teringat pada pelukan hangat yang menunggunya di gerbang sekolah.
Pelukan seorang ibu yang tidak pernah lelah percaya pada anaknya, bahkan ketika sang anak belum percaya pada dirinya sendiri. Hari itu, kemenangan terbesar Raina bukanlah tepuk tangan yang bergemuruh di lapangan sekolah melainkan keberhasilannya mengalahkan rasa takut yang selama ini bersembunyi di dalam hati.
Sebuah kemenangan kecil yang akan menjadi bekal untuk menaklukkan mimpi-mimpi besarnya kelak. Semua itu bermula dari satu kalimat sederhana yang penuh kebanggaan, : "Ma, aku berhasil."
***
Biodata Penulis
Assalamualaikum. Namaku Ainun Mubin Misbah N (Ainun). Aku tinggal di Kota Makassar, Sulawesi Selatan. Saat ini, aku mengikuti program Pendidikan Kader Ulama (PKU) di Pondok Pesantren Salafiyah Tahfidzul Qur’an Ukhuwah Muslimin, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Aku telah menerbitkan 44 buku : Surat Cinta untuk Rasulullah, Mengulas Sisi Positif dan Hikmah dari COVID-19, Everything of Rainbow, Jadilah Diri Sendiri, Berdampil, Rindu kategori surat, Rindu kategori cerpen, Afellay, Langkah Awal Menyambut Tahun Baru, Kepak Sayap, Qaira and Arabic Lovers, Hijab Lovers, Segelas Teh dan Bayangan, Menuai Makna, Tenun Bangsa, Dulu Aku Kecil, The Miracle of Arabic Part 1 & 2, dan lain-lain.
Beberapa prestasi lainnya : Pemenang Lomba Artikel Kreatif Hari Bahasa Arab Sedunia, Juara 3 Lomba Menulis Surat Cinta untuk Rasulullah, English Writing Awards Grammarly, Arabic Awards Mondly Language, Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Islami, Juara 1 Lomba Hafalan Surah Pendek Tanpa Lihat Al Qur’an, Juara 1 Lomba MTQ dan Tilawah, dan juara 2 Lomba Menulis Puisi Islami Golden Islamic Competition 2025.
Untuk berkenalan lebih lanjut bisa melalui Instagram dan TikTok : @ainunmisbahn, Facebook : Ainun Mubin Misbah N, LinkedIn : Ainun Mubin Misbah N, email limaalfabet@gmail.com, nomor WhatsApp : 089504298162.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen