CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Kelereng Penyesalan
Kelereng Penyesalan

Kelereng Penyesalan

oleh Juha Lune
CerpenGratis8 menit baca9 dibacaJFMM Participant

“ Tuuuuk… tuuuk… tuuk…tuk. ”

Suara pantulan kelereng itu beradu lembut dengan lantai di bawah kasurku. Aku tak lagi terperanjat mendengarnya. Tidak seperti pertama kali, begitu mendengar suara itu, aku berselimut rapat hingga ke dagu. Terbayang di kepalaku ada sosok hantu yang ingin menjahili dengan menakut-nakutiku. Kini, aku sudah bisa meramalkan kapan kelereng itu muncul, aku tidak lagi takut justru menantikannya.

Aku menyibakkan selimut tipis yang menutupi setengah tubuhku, beranjak dari kasur untuk menekan sakelar lampu kamar hingga cahaya kuning yang sedikit redup menyiram ruangan. Aku berjongkok di samping tempat tidur, menyapu debu tipis dengan telapak tangan, lalu menggapai kelereng baru yang tergeletak pasrah di sana.

Kelereng baru.

Sebuah hadiah yang datang dari setiap kalimat pengandaian yang terlontar di meja makan pada sore hari. Ini adalah kelereng yang ketujuh.

Aku berdiri, menimang benda kecil itu di atas telapak tanganku. Kelereng kali ini memiliki pendar warna yang unik, bewarna ungu berpadu dengan guratan hijau keemasan. Ketika kubawa sedikit lebih dekat ke arah lampu, permukaan kacanya memantulkan bayangan yang bergerak pelan.

Di sana, aku melihat Ibu.

Bukan Ibu dengan daster katun yang warnanya pudar atau rambut yang diikat asal-asalan dengan jepit plastik. Di dalam bola kaca itu, Ibu tampak amat anggun sebagai seorang wanita karier yang sukses. Ia mengenakan kemeja biru gelap dengan rok pensil abu-abu yang sangat pas di badannya, kakinya terbalut sepatu hak tinggi hitam berujung runcing yang tampak berkilau. Kakinya yang melangkah di atas lantai marmer terlihat mantap dan penuh percaya diri.

“Wah… Ibu keren banget ya kalau jadi pekerja kantoran,” bisikku pelan. Mataku berbinar, memandangi potongan kehidupan alternatif di mana Ibu seharusnya mengambil tawaran promosi ke kantor pusat di luar kota belasan tahun lalu.

Aku berjalan menuju meja belajar, menarik kursi kayu yang sedikit berdecit, lalu membuka sebuah kotak kaleng bekas biskuit tempatku menyimpan "dunia alternatif" milik Ibu.

Begitu tutup kaleng terbuka, percakapan sore tadi di meja makan mendadak bergema kembali di kepalaku, lengkap dengan aroma teh hangat dan denting sendok yang mengiringinya.

“Siska, nih ada kiriman cokelat dari Tante Mela,” ujar Ibu sore tadi sambil meletakkan satu kotak berisi cokelat dengan berbagai rasa di depanku.

“Wah, habis pulang dari luar negeri lagi ya dia, Bu?” mataku berbinar melihat kemasan berhuruf asing itu.

Ibu tersenyum kecil, ada sedikit tatapan hampa yang melintas cepat di matanya sebelum ia tertawa halus. “Iya, biasa. Perjalanan bisnis, tugas kantor.”

“Iih, seru banget ya kerjaannya Tante Mela…”

Ibu menghentikan jemarinya yang sedang merapikan taplak meja. Matanya menerawang ke luar jendela, menatap deretan jemuran tetangga. “Iya ya, Nak… seru banget kayaknya. Coba aja dulu Ibu nggak nolak pas mau dipindahin ke kantor pusat, mungkin hidup Ibu bisa keren kayak Tante Mela sekarang.” Ibu tertawa lagi, tawa ringan yang selalu ia pakai untuk membungkus obrolan seperti ini. Namun ujung matanya mengkerut layu. “Tapi ya gimana… kamu waktu itu masih kecil banget, Nak.”

Aku menghembuskan napas pelan. Ibu selalu mengucapkannya sambil tersenyum, tanpa nada menyalahkan, tanpa kemarahan. Justru rasa hangat dari kasih sayangnya itulah yang perlahan-lahan menyisakan rasa perih yang sunyi di dadaku. Ibu melepaskan seluruh kilau dunianya hanya demi aku.

Dengan hati-hati, kutaruh kelereng ketujuh itu di dalam kotak kaleng, membiarkannya berdenting pelan saat bersentuhan dengan enam kelereng lainnya.

Sebelum menutupnya, aku mengambil sebatang pensil dan membuka buku harian bergaris milikku. Aku menuliskan satu baris kalimat pendek,

Kelereng ke-7, Ibu memakai pakaian bagus dan sepatu mengilap. Aku berharap Ibu punya karier yang sangat sukses dan hebat.

Aku menutup buku harian itu rapat-rapat. Mematikan lampu meja, lalu berjalan kembali menuju tempat tidur. Aku menatap langit-langit kamar yang sudah gelap, tersenyum tipis sambil berharap di masa atau dunia yang lain, Ibu benar-benar sedang mengenakan sepatu mengilap itu dan berjalan dengan penuh rasa percaya diri.

…

Malam ini hening. Tidak ada bunyi pantulan kaca di atas lantai, tidak ada kelereng baru yang menggelinding. Namun, di dalam genggamanku, terbaring satu kelereng berwarna biru laut dengan kilap kuning keemasan di tengahnya, yang kini telah terbelah menjadi dua.

Kelereng itu menyimpan impian Ibu yang dulu ingin melancong ke luar negeri menggunakan tabungan yang ia kumpulkan rupiah demi rupiah, sebelum akhirnya habis tak tersisa untuk melunasi utang-utang Ayah.

Tadi sore sepulang sekolah, aku menemani seorang teman ke toko buku. Di salah satu sudut etalase barang antik, mataku tertambat pada sebuah kotak penyimpanan kayu berukuran kecil berwarna hijau gelap dengan ukiran yang sederhana. Rasanya, kelereng-kelereng yang menyimpan potongan dunia alternatif Ibu akan jauh lebih layak dan dihormati jika tersimpan di sana, ketimbang di dalam wadah kaleng bekas biskuit yang kini sudah mulai berkarat. Tanpa berpikir panjang, aku membelinya menggunakan sisa uang saku yang selama ini aku simpan.

Sesampainya di rumah, dengan penuh semangat, aku memindahkan kelereng-kelereng itu. Namun, sayangnya, jemariku yang licin oleh keringat tak sengaja melepas kelereng biru keemasan itu.

TAK!

Dunia seolah berhenti berputar saat kaca itu menghantam lantai, terbelah menjadi dua bagian yang tajam. Aku terpaku meratapi kelereng yang sudah pecah itu dengan rasa kesal dan penyesalan akibat tidak berhati-hati. Aku tidak tahu marabahaya atau sihir apa yang akan muncul akibat pecahnya kelereng ini. Sebab tidak tahu harus berbuat apa, aku membungkus kedua belahan kaca itu dengan kain saputangan, lalu meletakkannya perlahan di dalam kotak hijau yang baru, berdampingan dengan kelereng-kelereng lainnya.

Keesokan siangnya, sebuah keajaiban datang menjawab ketakutanku.

Begitu melangkah melewati pintu rumah, Ibu menyambutku dengan pelukan erat dan tawa riang yang sudah lama hilang dari wajahnya. Dengan mata berbinar, Ibu bercerita bahwa ia baru saja menerima kabar kalau dirinya mendapatkan hadiah undian berlibur gratis ke luar negeri, sebuah undian yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu kapan pernah ia ikuti.

Mendengar berita itu, dadaku berdesir hangat. Otakku dengan cepat mengambil kesimpulan, pecahnya kelereng akan membuat impian ibu menjadi nyata. Aku tersenyum lebar karena melihat wajah bahagia Ibu, juga karena kesadaran yang muncul dalam benakku tentang apa yang bisa aku lakukan pada kelereng-kelereng itu.

…

Sudah dua malam berlalu sejak salah satu dari apa yang ibu inginkan terwujud. Tidak ada suara munculnya kelereng baru karena ibu tidak lagi melempar kalimat pengandaian di meja makan. Pikiran dan harinya sepenuhnya tersita oleh persiapan liburan gratisnya di bulan depan.

Namun, malam ini, keheningan itu pecah oleh suara yang paling aku takutkan.

Cklek.

Suara pintu kamarku yang dikunci dari luar. Sebuah penanda dingin bahwa "sang monster" akan pulang. Malam ini mungkin ia akan kembali melampiaskan amarahnya.

Malam terasa begitu panjang dan menyiksa. Aku meringkuk di atas kasur, menutup telinga rapat-rapat, namun bentakan kasar dari luar dan suara barang terlempar masih menembus dinding kamar. Bantal yang kupeluk makin basah oleh air mata yang tak sanggup kuhentikan. Dalam keputusasaan yang sunyi, kedua tanganku merengkuh erat kotak kayu hijau di atas dada. Benda itu menjadi satu-satunya penenang agar aku bisa bertahan melewati malam, sekaligus sebagai sebuah simbol perpisahan yang sudah kubulatkan dalam hati.

Jauh sebelum ayam berkokok, mataku sudah terbuka lebar. Rasa sakit di dada telah berganti menjadi ketenangan yang janggal.

Aku bangkit dari tempat tidur, mandi dengan air dingin, lalu mengenakan pakaian terbaik yang kupunya. Aku duduk di tepi kasur. Di atas pangkuanku, bertengger kotak kayu hijau yang kini terbuka, memperlihatkan kelereng-kelereng dengan warna yang begitu indah dan kemilau yang hampir memekakkan mata dalam remang subuh.

Pertama, aku membuka lipatan kain saputangan yang membungkus kelereng biru yang sudah terbelah. Di dalam pecahan kaca itu, masih terpantul bayangan Ibu dengan senyum lebar karena sedang menikmati hidangan asing di bawah langit kota yang belum pernah ia kunjungi.

Lalu, jemariku bergerak mantap mengambil kelereng di sebelahnya, kelereng berwarna oranye hangat dengan guratan dan kilau keemasan.

Kelereng pertama. Kelereng yang menyimpan dunia alternatif Ibu jika dulu ia mengambil keputusan paling mendasar dalam hidupnya yaitu, tidak pernah menikah dengan Ayah.

Samar-samar, percakapan sore berbulan-bulan lalu, hari di mana kelereng pertama ini lahir ke dunia, kembali bergema pelan di telingaku.

“Gimana ya... kalau dulu Ibu nekat membangkang dan nggak dengerin kata Nenekmu buat nikah sama Ayahmu?” tanya Ibu waktu itu, mengucapkannya sambil terkekeh ringan.

Aku langsung memotong riang sambil mengunyah nasi, “Ya aku nanti nggak ada dong, Bu!”

Ibu tertawa, lalu mengusap kepalaku dengan penuh kasih. “Iya ya... anak Ibu yang cantik ini nanti nggak ada.”

Ingatan itu membuat mataku kembali basah. Namun kali ini, tidak ada lagi rasa ragu atau ketakutan yang tersisa. Ibu tidak pernah membenciku. Ibu mencintaiku dengan seluruh sisa tenaga yang ia miliki. Hanya saja, cinta itu terikat pada sebuah ikatan pernikahan yang perlahan-lahan meremukkan jiwanya setiap hari.

Aku mendekatkan kelereng oranye itu ke bibirku, berbisik pelan, berharap Ibu bisa mendengarnya melewati batas dimensi,

“Nggak apa-apa, Bu... Aku nggak perlu ada. Yang penting Ibu bahagia ya...”

Tanpa menunggu jeda, aku mengangkat kotak kayu hijau itu tinggi-tinggi. Aku membalikkan wadahnya, membiarkan seluruh kelereng indah di dalamnya—merah, hijau terong, jingga, hingga pecahan biru keemasan, meluncur bebas dan menghempas lantai dengan keras.

PRANG!

Bunyi pecahan kaca bertabrakan meledak di dalam kamar yang sempit itu. Cahaya silau berwarna-warni langsung meletup keluar dari tiap kepingan kaca yang hancur, memenuhi seluruh ruangan dengan pendaran hangat dan menenangkan.

Aku tersenyum menatap tanganku yang mulai memudar. Namaku di lembar buku harian perlahan terhapus tanpa bekas. Jemari kakiku mendadak menjadi sangat ringan lalu menghilang perlahan menjadi butiran-butiran debu kaca yang berkilau.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen