Konon, anak perempuan pertama memiliki sebuah prinsip mutlak yang mereka pegang, yaitu "tidak boleh ada yang tau aku kalah hari itu, yang mereka harus tau aku tidak pernah merasa kesulitan apalagi payah." Padahal, anak perempuan pertama juga manusia, sama-sama menghidup oksigen, mengeluarkan zat karbondioksida, sama seperti anak tengah, bungsu dan lainnya.
Namun, aku tidak pernah menyesali menjadi anak perempuan pertama. Anak perempuan pertama juga memiliki seorang Ibu sebelum ia juga menjadi seorang Ibu. Sosok yang sering ia jadikan luapan segala bentuk emosi dari hari-hari yang tidak berpihak padanya, dari beberapa tidak keberuntungan yang ia dapatkan dan dari payahnya hidup yang dialami.
Hingga sampai pada suatu hari statusnya berubah sama-sama menjadi seorang Ibu. Nyatanya, kesulitan itu tidak hilang, namun menjadi sebuah refleksi ''baiklah, ternyata menjadi seorang Ibu sama sulitnya, kenapa waktu itu Ibu tidak sama sekali kelihatan kerepotan ya? padahal aku cukup menyadari sulitnya menghadapiku yang waktu itu masih remaja, dengan segala bentuk hormon dan emosi yang memusingkan." jawabanya memang sederhana, itulah salah satu bentuk nyata dari cinta yang penuh.
Jika mau kuberi satu fakta lain dari anak perempuan pertama, cintanya sungguhlah besar, hatinya luas untuk menerima, namun lemah ketika diminta untuk mengutarakan perasaan. Bukan gengsinya yang besar, namun saja ia sudah cukup lama berada di "survival mode-nya".
Sampai pada suatu malam, anak pertama ini datang bersimpuh melepas seluruh beban yang coba ia bawa sendiri selama ini. Ibu tetaplah Ibu, anak akan tetap menjadi seorang anak. Malam yang tidak akan pernah terlupakan karena segala bentuk emosi tumpah secara bersama. Ada fakta yang anak perempuan itu baru tau, ada fakta yang harus diterima oleh Ibu. Keduanya menangis, kita melihat dua sosok ibu saling memeluk dan mendekap luka yang selama ini sama-sama coba disimpan rapat, sangat tersedu.
Anak berdoa "Bu, hiduplah lebih lama, aku butuh dirimu"
Ibu berdoa ''Nak, jika Ibu harus hidup kembali 100 kalipun aku akan tetap memilih menjadi Ibumu''
setidaknya begitulah bentuk cinta diluar nalar manusia, tentu dengan campur tangan Tuhan dan Semesta.
Ini bukan soal Ibuku atau Ibumu, ini untuk semua Ibu, panjang umurlah, bahkan dunia membutuhkanmu.


