Lindayanti
Sekali duduk selesai
11 Oktober 2026
Mulai membaca
[ Terinspirasi oleh situasi karhutla di Kalimantan Tengah pada 2026. Nara, keluarganya, desa tempat tinggalnya, serta seluruh peristiwa personal dalam cerita ini merupakan fiksi, bukan kesaksian nyata ]
Aku dulu mengira langit selalu berwarna biru.
Sebab, sejak kecil, setiap kali Ibu menyuruhku mengambil jemuran, aku selalu mendongak dan melihat warna yang sama. Biru yang luas, biru yang membuatku bisa membayangkan bentuk-bentuk awan menjadi kelinci, ikan, atau kapal besar yang sedang berlayar menuju tempat jauh.
Namun, sejak beberapa minggu terakhir, langit di atas desa kami berubah menjadi abu-abu kecokelatan. Matahari tampak seperti bola merah pucat yang kelelahan. Kadang-kadang, ada serpihan kecil berwarna hitam jatuh di halaman rumah, menempel pada pakaian, rambut, bahkan makanan yang belum sempat Ibu tutup.
Awalnya, aku mengira itu debu biasa.
Aku bahkan pernah mengumpulkannya di telapak tangan dan menunjukkannya kepada adikku, Dini.
"Lihat, Din! Hujan hitam!"
Dini tertawa sambil bertepuk tangan. Usianya baru empat tahun. Ia belum tahu bahwa sesuatu yang jatuh dari langit tidak selalu membawa kegembiraan.
Ibu tidak tertawa ketika melihat kami.
Ia segera menarik tangan kami, menyuruhku mencuci tangan, lalu menutup semua jendela rumah. Setelah itu, Ibu mengambil kain untuk membersihkan abu di meja makan. Gerakannya cepat, tetapi aku melihat jemarinya gemetar.
"Jangan main di luar dulu, ya, Nak."
"Kenapa, Bu?"
"Asapnya tidak bagus untuk paru-paru."
Aku mengangguk meskipun tidak benar-benar mengerti. Bagiku, asap hanyalah sesuatu yang keluar dari tungku ketika Ibu memasak. Asap biasanya menghilang setelah api padam. Jadi, aku pikir, kalau kebakaran di hutan sudah berhenti, asap di desa kami juga akan pergi.
Aku tidak tahu bahwa ada api yang tetap hidup di bawah tanah, bersembunyi di antara akar dan lapisan gambut yang kering, lalu kembali membakar ketika kami mengira semuanya sudah aman.
Aku juga tidak tahu bahwa di tahun 2026, kebakaran hutan dan lahan sedang membuat banyak orang di Kalimantan Tengah kehilangan ketenangan yang selama ini mereka anggap biasa.
Yang kutahu hanya satu: aku ingin bermain di luar, tetapi Ibu melarangku.
Dan aku mulai membenci langit yang tidak lagi berwarna biru.
Sebelum asap datang, aku punya pohon kesayangan di belakang rumah.
Pohon itu tidak terlalu besar. Batangnya miring, daunnya lebat, dan salah satu dahannya cukup rendah untuk kugapai. Ayah pernah membuatkan ayunan dari ban bekas yang digantung dengan tali. Setiap sore, aku duduk di sana sambil mengayun kaki, sedangkan Dini berlarian mengejar kupu-kupu.
Kadang-kadang, Ayah pulang dari kebun dan ikut duduk di dekat kami. Bajunya selalu berbau tanah, keringat, dan dedaunan. Bagiku, itulah bau Ayah. Bau yang membuatku tahu bahwa sebentar lagi ia akan menggendongku, mengacak rambutku, lalu bertanya apakah aku sudah mengerjakan PR.
Sekarang, pohon itu tertutup debu abu-abu.
Daun-daunnya menggulung. Tanah di sekitarnya mengering dan retak. Kupu-kupu yang biasa hinggap di bunga liar dekat pagar tidak pernah terlihat lagi.
Aku berdiri di balik pintu, memandang pohon itu dari dalam rumah.
"Bu, kalau pohonku mati, nanti bisa tumbuh lagi, kan?"
Ibu yang sedang melipat pakaian berhenti sebentar.
"Bisa, Sayang. Kalau akarnya masih hidup dan ada air yang cukup."
"Kalau akarnya ikut terbakar?"
Ibu tidak langsung menjawab.
Aku menoleh kepadanya. "Kalau begitu, pohonnya tidak bisa tumbuh lagi?"
Ibu meletakkan pakaian di pangkuannya, lalu menarikku ke dalam pelukannya.
"Kita berdoa supaya pohon itu selamat, ya."
Aku mengangguk. Aku tidak ingin membuat Ibu sedih dengan pertanyaan-pertanyaan lain.
Malam itu, sebelum tidur, aku berdoa agar pohonku tetap hidup.
Aku juga berdoa agar hujan segera datang.
Aku tidak tahu doa mana yang harus kuucapkan lebih dulu agar semuanya kembali seperti semula.
Ayah semakin jarang tersenyum sejak kebakaran meluas.
Dahulu, ia selalu membawa sesuatu setiap kali pulang. Kadang-kadang buah rambutan, kadang-kadang ikan hasil pancingannya, atau sekadar permen murah yang dibelinya di warung dekat jalan besar. Sekarang, Ayah lebih sering pulang dengan tangan kosong.
Suatu sore, aku mendengar Ayah berbicara dengan Ibu di dapur.
"Kebun di sebelah timur sudah kena," katanya pelan. "Sebagian lahan tidak bisa didekati. Asapnya tebal sekali."
Ibu meletakkan gelas di meja. "Terus pekerjaanmu bagaimana?"
"Aku belum tahu."
"Uang kita tinggal berapa?"
Ayah terdiam cukup lama.
Aku mengintip dari balik dinding. Di tangan Ibu ada beberapa lembar uang yang disusun rapi. Uang itu biasanya digunakan untuk membeli beras, telur, minyak goreng, dan kebutuhan sekolahku.
Ayah mengambilnya, menghitung sebentar, lalu mengembalikannya kepada Ibu.
"Cukupkan dulu untuk anak-anak."
Aku tidak tahu apa artinya cukupkan dulu. Namun, sejak hari itu, aku mulai jarang melihat telur di meja makan.
Nasi kami tetap ada, tetapi lauknya semakin sedikit. Ibu lebih sering berkata bahwa ia sudah makan ketika aku menyodorkan piring kepadanya.
Aku percaya.
Sampai suatu malam, ketika aku terbangun karena haus, aku melihat Ibu duduk sendirian di dapur. Ia sedang memakan nasi sisa dari piring Dini, mencampurnya dengan sedikit garam.
Aku berdiri di ambang pintu tanpa suara. Ibu tidak menyadari kehadiranku. Ia mengunyah perlahan, sesekali mengusap sudut matanya dengan ujung kerudung. Saat itu aku baru mengerti bahwa orang dewasa juga bisa kelaparan. Mereka hanya lebih pandai menyembunyikannya.
Keesokan harinya, aku sengaja menyisakan separuh nasi di piringku.
"Kenapa tidak dihabiskan?" tanya Ibu.
"Aku kenyang."
Padahal perutku masih lapar.
Aku ingin Ibu memakan bagianku. Aku ingin Ibu tidak perlu menunggu sampai malam untuk makan.
Namun, Ibu justru mengusap kepalaku dan berkata, "Anak pintar harus makan yang banyak."
Ia memindahkan nasi itu kembali ke piringku.
Aku akhirnya menghabiskannya sambil menahan tangis.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa aku ingin menjadi anak kecil yang tidak perlu berpura-pura kenyang agar ibunya bisa makan. Sekolahku diliburkan ketika kabut asap semakin pekat.
Bu Ratna, guruku, mengirimkan tugas melalui telepon milik Ibu. Aku senang karena bisa mengerjakan soal-soal dari rumah, tetapi aku merindukan teman-temanku. Aku merindukan suara bel, papan tulis, dan bangku kayu yang sering membuat kakiku kesemutan.
Yang paling kurindukan adalah halaman sekolah.
Di sana ada pohon mangga tempat kami berteduh saat jam istirahat. Aku pernah berjanji kepada sahabatku, Riko, bahwa kami akan memetik mangga bersama ketika buahnya matang. Sekarang, aku bahkan tidak tahu apakah Riko masih tinggal di rumahnya.
Ibu melarangku keluar. Setiap kali aku mendekati pintu, ia menyuruhku menjauh dari asap. Dini juga mulai sering batuk. Batuknya kecil, tetapi kadang-kadang berlangsung lama sampai wajahnya memerah dan matanya berair.
Ibu membawanya ke tempat pelayanan kesehatan ketika keadaan memungkinkan. Setelah itu, Ibu semakin sering memeluk Dini dan memeriksa napasnya ketika tidur.
Aku pun mulai melakukan hal yang sama.
Setiap malam, aku mendekatkan telingaku ke dada Dini. Aku ingin memastikan adikku masih bernapas.
"Ngapain, Kak?" tanyanya suatu kali ketika terbangun.
"Mendengarkan jantungmu."
"Kenapa?"
"Karena aku sayang kamu."
Dini tersenyum, lalu memeluk lenganku.
"Kakak jangan pergi, ya."
Aku mengerutkan kening. "Aku enggak ke mana-mana."
"Janji?"
"Janji."
Dini kembali tidur dengan tangan kecilnya menggenggam jariku.
Aku menatap wajahnya lama sekali. Ada lingkaran samar di bawah matanya. Bibirnya kering. Tubuhnya terasa lebih ringan daripada yang kuingat ketika terakhir kali menggendongnya.
Aku ingin bertanya kepada Ibu apakah adikku akan sembuh.
Namun, aku takut mendengar jawabannya.
Jadi, aku hanya berbaring di samping Dini dan berharap malam tidak pernah berakhir.
Pada suatu pagi, Ayah pulang dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ada abu menempel di rambut dan alisnya. Bajunya kotor, sedangkan kedua tangannya gemetar ketika meletakkan tas di lantai.
"Kenapa, Yah?" tanyaku.
Ayah tidak menjawab. Ia langsung memelukku erat.
Aku bisa mencium bau asap yang melekat di bajunya. Bau itu menusuk hidungku, tetapi aku tidak berani melepaskan pelukan.
Ibu keluar dari kamar sambil menggendong Dini.
"Ada apa?"
"Api sudah mendekati beberapa rumah di ujung desa," jawab Ayah. "Kita harus bersiap-siap."
Aku menoleh ke arah jendela. Langit tampak lebih gelap daripada biasanya. Di kejauhan, sesuatu seperti kabut tebal bergerak perlahan di atas pepohonan.
"Rumah kita akan terbakar?" tanyaku.
Ayah berjongkok di depanku.
"Kita akan pergi ke tempat yang lebih aman dulu."
"Tapi pohonku bagaimana?"
Ayah menatapku. Matanya merah, entah karena asap atau karena hal lain.
"Nanti kita lihat lagi."
Aku ingin menolak. Aku ingin mengatakan bahwa aku tidak mau meninggalkan rumah, buku-bukuku, pohon kesayanganku, dan semua benda yang kukenal.
Namun, ketika kulihat Ibu mulai memasukkan pakaian ke dalam tas, aku akhirnya mengambil tas sekolahku sendiri. Aku memasukkan dua buku tulis, kotak pensil, dan buku gambar yang paling kusayangi.
Di halaman terakhir buku itu, ada gambar keluarga kami. Ayah, Ibu, aku, dan Dini berdiri di bawah pohon besar dengan matahari kuning di atas kepala. Aku menggambar semuanya tersenyum.
Aku tidak tahu mengapa, tetapi aku merasa harus membawa gambar itu. Seolah-olah, jika aku meninggalkannya, sebagian dari keluarga kami akan tertinggal di rumah.
Kami meninggalkan rumah bersama beberapa tetangga.
Ayah membawa tas pakaian, sedangkan Ibu menggendong Dini dan menggenggam tanganku. Jalanan dipenuhi orang-orang yang berjalan dengan wajah cemas. Beberapa membawa karung berisi pakaian. Ada yang menggendong bayi, ada yang menuntun anak-anak, dan ada pula yang berjalan sambil menoleh berkali-kali ke arah rumah mereka.
Aku melihat seorang nenek duduk di pinggir jalan sambil memeluk sangkar burung yang kosong. Seorang anak laki-laki menangis karena kehilangan sandal. Di dekat persimpangan, seorang lelaki berusaha menenangkan seekor anjing yang terus menggonggong ke arah asap.
Aku ingin bertanya mengapa semua orang terlihat begitu sedih.
Namun, aku sendiri hampir menangis.
Udara terasa panas dan sulit dihirup. Ayah menyuruhku menutup hidung dengan kain. Aku menggenggam tangan Ibu semakin erat.
Di kejauhan, kobaran api tampak di antara pepohonan. Warnanya jingga kemerahan, bergerak seperti sesuatu yang hidup. Asap membumbung tinggi, menutupi sebagian langit.
Aku belum pernah melihat api sebesar itu.
Selama ini, aku mengira api hanya bisa membakar kayu di tungku Ibu. Aku tidak pernah membayangkan api bisa memakan pohon, kebun, rumah, dan seluruh jalan yang biasa kulewati menuju sekolah.
"Ayah, kenapa apinya tidak berhenti?"
Ayah terus berjalan.
"Kami sedang berusaha memadamkannya, Nak."
"Kenapa tidak disiram air saja?"
Ayah menunduk, lalu mengusap kepalaku.
"Karena apinya terlalu luas."
Aku terdiam.
Terlalu luas.
Dua kata itu terdengar sederhana, tetapi tiba-tiba aku merasa sangat kecil. Jauh lebih kecil daripada semut yang biasa kulihat membawa remah-remah makanan di lantai rumah.
Aku tidak bisa membantu Ayah memadamkan api. Aku tidak bisa menyelamatkan pohonku. Aku bahkan tidak bisa membuat Dini berhenti batuk.
Yang bisa kulakukan hanyalah berjalan sambil menggenggam tangan Ibu.
Dan aku mulai takut jika suatu saat tangan itu terlepas.
Tempat pengungsian dipenuhi orang-orang yang tidak kukenal.
Ada tikar yang digelar di lantai, kardus-kardus berisi bantuan, botol air minum, serta anak-anak yang menangis mencari orang tua mereka. Suara orang berbicara bercampur dengan batuk, tangis, dan pengumuman dari petugas.
Kami mendapat tempat di sudut ruangan.
Ayah meletakkan tas, kemudian keluar lagi untuk membantu tetangga yang masih membutuhkan pertolongan. Ibu duduk bersamaku sambil memangku Dini.
Aku membuka buku gambarku.
Pohon besar yang kugambar terlihat sangat hijau. Rumput di bawahnya berwarna cerah. Aku bahkan menggambar beberapa bunga kecil dan kupu-kupu dengan sayap berwarna kuning.
Dini menatap halaman itu.
"Itu rumah kita?"
"Iya."
"Pohon Kakak masih ada?"
"Masih. Lihat, daunnya banyak."
Dini tersenyum.
"Kalau kita pulang, aku mau main ayunan."
Aku mengangguk. "Nanti Kakak dorong tinggi-tinggi."
"Setinggi langit?"
"Setinggi langit."
Dini tertawa kecil, lalu kembali menyandarkan kepalanya ke pangkuan Ibu.
Aku tidak tega mengatakan kepadanya bahwa aku tidak tahu apakah pohon itu masih berdiri. Aku juga tidak tahu apakah kami masih memiliki rumah untuk pulang.
Malam itu, Ibu membagi sepotong roti menjadi tiga bagian. Bagian terbesar diberikan kepada Dini. Bagian berikutnya kepadaku, sedangkan Ibu menyimpan potongan paling kecil.
Ayah belum kembali.
Aku memakan rotiku perlahan, berharap rasa kenyangnya bertahan sampai pagi. Ketika Dini mulai terlelap, aku mendengar Ibu berbisik sambil berdoa. Suaranya begitu pelan sampai aku hanya bisa menangkap beberapa kata.
Aku menatap langit-langit ruangan.
Di rumah, aku sering kesal karena Ibu menyuruhku tidur terlalu cepat. Sekarang, aku justru berharap bisa tidur dan terbangun di kamar sendiri, dengan suara burung di luar jendela dan bau nasi hangat dari dapur.
Aku memejamkan mata.
Dalam mimpiku, hujan turun deras. Aku berlari ke halaman, menari di bawah air, lalu memeluk pohon kesayanganku. Untuk pertama kalinya dalam berminggu-minggu, langit kembali berwarna biru.
Dini mulai demam dua hari kemudian.
Awalnya, Ibu mengira adikku hanya kelelahan. Ia mengompres dahi Dini, memberinya minum sedikit demi sedikit, dan mengusap punggungnya setiap kali batuk. Namun, menjelang malam, napas Dini terdengar berbeda.
Lebih cepat. Lebih berat.
Aku duduk di sampingnya sambil menggenggam boneka kelinci yang dibawanya dari rumah.
"Kakak," panggilnya lirih.
Aku segera mendekat.
"Apa, Din?"
"Aku mau pulang."
Aku menggigit bibir.
"Iya. Nanti kalau sudah boleh, kita pulang."
"Aku mau tidur di kamar kita."
"Iya."
"Aku mau main ayunan."
"Iya, Din."
"Aku mau lihat pohon Kakak."
Aku mengangguk berkali-kali. Air mataku mulai jatuh, tetapi aku buru-buru mengusapnya sebelum Dini melihat.
"Besok kita lihat, ya."
Dini mengulurkan jari kelingkingnya.
"Janji?"
Aku mengaitkan jari kami.
"Janji."
Ibu kemudian membawa Dini untuk mendapatkan pertolongan medis. Aku ingin ikut, tetapi Ayah yang baru kembali meminta agar aku menunggu bersama seorang tetangga di pengungsian.
Aku memeluk tas sekolahku erat-erat.
Sebelum pergi, Ibu berlutut di depanku.
"Tunggu di sini, ya, Sayang. Ibu akan membawa Dini berobat."
"Adik akan sembuh, kan, Bu?"
Ibu menatapku lama. Kemudian ia memelukku dan mencium keningku.
"Ibu akan melakukan semuanya untuk Dini."
Aku mengangguk, meskipun jawaban itu bukan jawaban yang kuinginkan.
Aku ingin Ibu berkata bahwa Dini pasti sembuh. Aku ingin Ibu tersenyum seperti dulu dan mengatakan bahwa besok kami akan pulang, pohonku masih berdiri, dan semuanya akan baik-baik saja.
Namun, Ibu hanya memelukku lebih erat.
Setelah mereka pergi, aku duduk di sudut ruangan sambil menunggu. Setiap kali ada langkah kaki mendekat, aku mengangkat kepala. Setiap kali seseorang membuka pintu, aku berharap melihat Ibu menggendong Dini dengan wajah lega.
Aku menunggu sampai malam semakin larut. Aku menunggu sampai suara anak-anak lain berhenti. Aku menunggu sampai Ayah duduk di sampingku dan menggenggam tanganku tanpa mengatakan apa-apa.
Lalu, untuk pertama kalinya, aku melihat Ayah menangis. Aku tidak ingat berapa lama kami menunggu sebelum Ibu kembali.
Yang kuingat hanya wajahnya.
Ibu berjalan masuk dengan langkah lambat. Kerudungnya berantakan. Matanya bengkak. Kedua tangannya kosong.
Aku berdiri.
"Ibu, mana Dini?"
Ibu menatapku, tetapi tidak menjawab.
Aku melihat ke belakangnya, mencari adikku. Mungkin Dini sedang digendong petugas. Mungkin ia tertidur di dalam kendaraan. Mungkin Ibu menyembunyikannya untuk membuat kejutan.
"Ibu, Dini mana?"
Ibu menjatuhkan lututnya ke lantai dan memelukku.
Tangisnya pecah.
Aku belum pernah mendengar Ibu menangis seperti itu. Bukan tangis pelan yang disembunyikan di dapur, bukan pula tangis ketika ia merasa lelah. Tangis itu seperti sesuatu yang robek dari dalam tubuhnya.
Aku mulai ketakutan.
"Bu, kenapa? Dini kenapa?"
Ayah berjongkok di samping kami. Ia mengusap wajahnya berkali-kali, tetapi air matanya terus jatuh.
Aku memandang mereka bergantian.
Lalu Ibu berbisik, nyaris tanpa suara.
"Dini sudah tidak sakit lagi, Nak."
Aku menggeleng.
"Kalau sudah tidak sakit, kenapa tidak dibawa pulang?"
Ibu memelukku semakin erat.
"Maafkan Ibu."
Aku mendorong tubuhnya pelan.
"Aku mau Dini."
Ibu menangis semakin keras.
"Aku mau adikku!"
Orang-orang di sekitar kami terdiam. Ada yang mendekat, ada yang menundukkan kepala. Namun, aku tidak peduli kepada siapa pun.
Aku hanya ingin adikku kembali.
Aku ingin mendengar suaranya yang cerewet. Aku ingin ia menarik selimutku saat tidur. Aku ingin ia menangis karena aku mengambil boneka kelincinya. Aku bahkan ingin mendengar batuknya yang membuatku ketakutan setiap malam.
Apa saja.
Aku mau apa saja asalkan Dini kembali.
Aku menarik tas sekolahku dan membuka buku gambar di halaman terakhir.
"Lihat, Bu! Aku sudah menggambar rumah kita. Ada pohonnya. Ada ayunannya. Dini juga ada."
Aku menunjuk gambar adikku yang sedang tersenyum.
"Kalau kita pulang, Dini bisa main lagi. Aku sudah janji mau mendorong ayunannya setinggi langit."
Ibu menutup mulutnya dengan kedua tangan. Aku tidak mengerti mengapa ia menangis semakin keras. Aku menarik ujung bajunya.
"Bu, bilang sama Dini kalau aku sudah menunggu."
Tidak ada jawaban.
"Bu, bilang sama Dini kalau aku tidak akan mengambil bonekanya lagi."
Ayah memelukku dari belakang. Aku meronta, mencoba melepaskan diri, tetapi pelukannya justru semakin erat.
"Kenapa Ayah menahanku?" aku berteriak. "Aku mau Dini!"
Ayah tidak mengatakan apa-apa.
Malam itu, aku akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah diajarkan di sekolah. Ada janji yang tidak bisa ditepati, meskipun kita sudah berusaha sekuat tenaga.
Dan ada orang yang kita cintai, tetapi tidak bisa kita bawa pulang.
Beberapa hari kemudian, kami kembali ke desa setelah keadaan dinyatakan cukup aman untuk perjalanan kami. Tidak semua warga pulang pada waktu yang sama. Ada yang rumahnya rusak, ada yang kehilangan kebun, dan ada yang masih menunggu kabar tentang keluarganya.
Rumah kami masih berdiri.
Sebagian dindingnya menghitam oleh asap. Halaman dipenuhi abu. Udara masih menyisakan bau terbakar, bercampur aroma tanah kering yang membuatku teringat pada hari ketika kami pergi.
Aku berlari ke belakang rumah.
Pohonku masih ada.
Namun, sebagian besar daunnya telah mengering. Beberapa dahan hangus. Ayunan ban yang dibuat Ayah tergeletak di tanah. Aku memungutnya, membersihkan debu dengan ujung baju, lalu membawanya ke bawah pohon.
"Dini sudah pulang," bisikku.
Tidak ada yang menjawab.
Aku mengikat kembali tali ayunan itu pada dahan yang masih cukup kuat. Ayah membantuku tanpa banyak bicara. Setelah selesai, aku duduk di atas ban dan mengayunkan kaki perlahan.
Dahulu, Dini selalu berdiri di depanku sambil berteriak meminta giliran. Ia akan tertawa setiap kali aku mendorongnya tinggi-tinggi. Kadang-kadang, ia berpura-pura menjadi putri yang sedang terbang ke istana di atas awan.
Sekarang, aku bisa mengayun setinggi yang kuinginkan.
Tidak ada yang berebut.
Tidak ada yang tertawa.
Tidak ada yang meminta gilirannya.
Aku menunduk dan menangis sampai dadaku terasa sakit.
Malamnya, aku meletakkan boneka kelinci Dini di samping bantal. Ibu sudah mencucinya, tetapi masih ada noda kecil yang tidak bisa hilang di bagian telinganya. Aku memeluk boneka itu sambil menatap tempat tidur kosong di sebelahku.
Aku masih bisa membayangkan Dini berbaring di sana, dengan rambut kusut dan mulut sedikit terbuka. Aku bahkan bisa membayangkan bagaimana ia akan mengeluh jika aku menarik selimutnya.
Namun, ketika aku mengulurkan tangan, yang kusentuh hanya seprai dingin. Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi meminta Ibu mematikan lampu sebelum tidur. Aku takut kegelapan membuatku lupa pada wajah adikku.
Musim hujan akhirnya datang.
Mula-mula hanya gerimis, kemudian hujan turun lebih deras. Air mengalir di atap rumah, membasahi tanah yang selama berbulan-bulan kering. Aku berdiri di teras, membiarkan angin membawa aroma tanah basah yang dulu sangat kusukai.
Ibu duduk di belakangku.
"Pohonmu mungkin bisa tumbuh lagi," katanya.
Aku menoleh. Wajahnya masih terlihat lelah, tetapi ia berusaha tersenyum.
Aku mengangguk.
Beberapa hari kemudian, aku menemukan tunas kecil di dekat akar pohon. Warnanya hijau muda, begitu rapuh hingga aku takut menyentuhnya.
Aku berlari memanggil Ayah.
"Ayah! Lihat! Pohonku hidup!"
Ayah datang dan berjongkok di sampingku. Ia tersenyum, lalu mengusap kepalaku.
"Iya, Nak. Pohonmu masih berusaha hidup."
Aku memandangi tunas itu lama sekali.
Aku ingin Dini melihatnya.
Aku ingin menggendongnya, membawanya ke halaman, lalu menunjukkan daun kecil yang tumbuh dari tanah hitam. Aku ingin mengatakan bahwa pohon kami tidak menyerah. Bahwa meskipun api telah mengambil banyak hal, masih ada sesuatu yang mencoba bertahan.
Namun, Dini tidak akan pernah melihatnya.
Aku mengambil buku gambarku. Di halaman terakhir, aku menambahkan satu gambar baru: sebuah tunas kecil di bawah langit biru. Di sampingnya, aku menggambar Dini dengan gaun kuning kesayangannya.
Kali ini, aku tidak menggambar ayunan.
Aku menggambar adikku sedang memeluk pohon.
Lalu, di bagian bawah halaman, aku menulis dengan huruf-huruf yang masih sedikit miring.
Dini, pohon kita tumbuh lagi. Tapi aku masih belum tahu bagaimana caranya membuat rumah terasa seperti rumah tanpa kamu.
Aku menutup buku itu dan memeluknya erat-erat.
Orang-orang berkata kebakaran telah berlalu. Asap perlahan menghilang. Tanah mulai ditumbuhi rumput. Burung-burung sesekali kembali terdengar di antara pepohonan.
Mereka bilang semuanya akan membaik.
Mungkin benar.
Mungkin suatu hari nanti, pohonku akan kembali rindang. Mungkin bunga-bunga akan tumbuh di halaman. Mungkin aku akan kembali bermain di luar tanpa takut menghirup udara yang membuat dadaku sakit.
Tetapi, tidak ada hujan yang bisa mengembalikan Dini.
Tidak ada tunas yang bisa menggantikan tawanya.
Dan tidak ada warna hijau yang cukup indah untuk menutupi lubang di dalam hatiku.
Malam itu, aku duduk di samping jendela sambil memandangi pohon yang perlahan pulih. Ibu tertidur di dalam kamar. Ayah belum pulang dari pekerjaannya. Di meja, ada tiga piring yang baru saja dicuci Ibu dan disusun terbalik agar kering.
Aku menghitungnya satu per satu.
Satu untuk Ayah.
Satu untuk Ibu.
Satu untukku.
Aku terdiam cukup lama, lalu mengambil satu piring lagi dari lemari.
Piring kecil milik Dini.
Aku meletakkannya di meja, tepat di samping piringku.
Barangkali besok aku akan kembali menyimpannya. Barangkali Ibu akan menangis ketika melihatnya. Namun, malam itu aku ingin meja makan kami terlihat seperti dahulu.
Aku ingin percaya bahwa Dini masih punya tempat di rumah ini.
Sebelum tidur, aku membuka jendela sedikit dan menatap langit. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa melihat beberapa bintang.
Dahulu, aku sering menghitungnya bersama Dini. Kami selalu berselisih tentang jumlahnya, lalu tertawa karena tidak pernah sepakat. Aku mengangkat wajah dan mencoba menghitungnya sendiri.
Satu.
Dua.
Tiga.
Aku berhenti ketika pandanganku mulai kabur oleh air mata.
"Din," bisikku ke arah langit, "kalau kamu bisa melihatku, aku mau bilang sesuatu."
Aku menunggu, berharap angin membawa suara adikku. Namun, yang terdengar hanya rintik hujan di atap.
"Aku minta maaf karena tidak bisa menyelamatkanmu."
Aku menggigit bibir, berusaha menahan tangis.
"Aku sudah menepati janjiku. Aku menjaga bonekamu. Aku juga menjaga pohon kita."
Suaraku semakin kecil.
"Tapi aku tidak bisa menjaga kamu."
Aku menutup wajah dengan kedua tangan.
Malam itu, aku menangis tanpa memanggil Ibu. Aku tidak ingin membuatnya sedih lagi. Aku tahu Ibu juga kehilangan seseorang yang sangat dicintainya. Aku tahu Ayah pun menyimpan kesedihan yang tidak pernah ia ceritakan kepadaku.
Namun, aku baru berusia delapan tahun.
Aku belum tahu bagaimana caranya merelakan seseorang yang seharusnya tumbuh bersamaku.
Aku belum tahu bagaimana caranya menerima bahwa adikku tidak akan pernah menjadi anak berusia lima tahun, enam tahun, atau tujuh tahun.
Aku hanya tahu bahwa setiap kali hujan turun, aku akan teringat pada hari ketika aku berjanji membawa Dini pulang.
Dan setiap kali aku melihat tunas baru tumbuh dari tanah, aku akan bertanya-tanya mengapa pohon bisa mendapatkan kesempatan kedua, sedangkan adikku tidak.
Di luar, hujan terus turun.
Aku berharap airnya cukup untuk membersihkan abu dari daun-daun, menyuburkan tanah, dan menumbuhkan kembali bunga-bunga yang hilang.
Aku berharap hutan kembali hijau.
Aku berharap tidak ada anak lain yang harus meninggalkan rumahnya sambil membawa buku gambar, lalu pulang hanya dengan kenangan.
Sebab, sekarang aku mengerti, sesuatu yang terbakar tidak selalu meninggalkan abu yang bisa dilihat orang.
Ada kesedihan yang tetap tinggal di dalam dada. Ada suara tawa yang tidak pernah kembali. Dan ada sebuah tempat di meja makan yang akan selalu kosong, bahkan ketika seluruh rumah sudah dibersihkan dari abu.
Namaku Nara. Umurku delapan tahun. Aku pernah takut kehilangan pohon kesayanganku. Ternyata, yang paling kutakutkan bukanlah melihat pohon itu mati.
Melainkan tumbuh besar tanpa adikkundan perlahan lupa bagaimana suara tawanya terdengar.
Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku akan berhenti menangis ketika mengingat Dini.
Namun, aku berjanji akan terus mengingatnya.
Sebab, jika suatu hari nanti semua orang sudah melupakan kebakaran yang pernah melanda desa kami, aku ingin ada seseorang yang masih mengingat bahwa di antara hutan yang terbakar dan tanah yang menghitam, pernah ada seorang anak kecil bernama Dini.
Anak kecil yang hanya ingin pulang.
Anak kecil yang menyukai hujan.
Anak kecil yang tidak pernah tahu bahwa dunia bisa begitu kejam kepada seseorang yang bahkan belum sempat tumbuh besar.
Dan aku akan mengingatnya, selama aku masih bisa mengingat warna biru langit, aroma tanah setelah hujan, dan hangatnya tangan kecil yang pernah menggenggam tanganku sambil meminta sebuah janji.
Janji yang sampai hari ini masih ingin kutepati.
Aku akan membawamu pulang, Din.
Meskipun aku tahu, rumah kita tidak akan pernah benar-benar utuh lagi.
TAMAT