CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Ka'bah Semakin Samar
KB

Ka'bah Semakin Samar

oleh Zenith Ramadhan
CerpenGratis5 menit baca9 dibacaJFMM Participant
More videos

Pagi itu tenang. Angin menyelinap pelan melalui pintu yang terbuka, menyibak sehelai gordyn tipis yang menutup jendela di samping pintu. Pagi itu terasa dingin, tapi Ibu sudah duduk di kursi teras, memandang jauh kearah cakrawala, seolah menanti matahari yang masih malu—malu.

Dian yang hendak memakai sepatu sebelah kanannya memandang wajah ibu yang teduh, sedikit resah, tetapi fokus pada satu titik. Tatapan kosong tetapi penuh harap. Pandangan panjang yang hampa di sepanjang tatap mata, tetapi jelas di ujung mata.

Waktu seolah berhenti sejenak, Dian pun terjeda dalam hening, kedua tangannya masih memegang ujung tali sepatu yang hendak diikatnya. Kendaraan tetangga yang lalu lalang seolah tak terlihat dan tak terdengar. Semesta seolah benar-benar terjeda dalam sejauh pandangan Ibu.

Dian teralihkan dari pandangan kosong menuju angkasa lamunan yang penuh sesak. Ia memaksakan diri membuyarkan lamunan dan melanjutkan ikatan tali yang sempat terjeda. Ia sadar, melamun saja tidak cukup. Ia harus bekerja, menjadi roda yang menggulirkan dunia ibu dan dunianya sendiri. Jika bukan ia, siapa lagi manusia yang bisa diandalkan di rumah ini? Seandainya . . . tetap menjadi kalimat yang tidak bisa diselesaikan. Dian memilih menjalani realita. Ia terlalu sibuk untuk mengandaikan yang mungkin tidak akan pernah terjadi atau sekedar menyesali yang tak pernah terjadi.

Ia berdiri menghentakkan kakinya, membangunkan Ibu dari lamunan panjang. Ia memasang senyum dan menyembunyikan nafas yang berat. Ibu membalas senyumannya. Dian mencium tangan ibu, “Dian berangkat ya, Bu. Doa’in Dian,” ucapnya singkat tertahan beban mental yang tersangkut di tenggorokkan. Ini pagi yang tenang. Dian tidak ingin merusak pagi ibu. Senyuman mereka saling berbalas, namun sekamin lama semakin memudar seiring langkah Dian yang semakin menjauh.

Dian berjalan kaki ditemani bayang-bayang harap bahwa semesta akan memihaknya lagi hari ini. Dalam bayangannya ia mengingat sosok Bapak yang wajahnya hanya muncul sebagai karakter animasi tanpa mata. Bapak dipanggil berpulang saat ia masih balita, dan Ibu selalu bertahan dalam kesendirian dan kemandiriannya. Dian kecil tidak pernah menatap wajah Bapak. Bahkan sampai dewasa, ia tidak pernah tahu bagaimana tatapan seorang bapak terhadap anaknya. Ia hanya tahu tatapan Ibu.

Sudah lebih dari seperempat abad, Ibu selalu banting tulang memberikan dunia dan mencukupi kebutuhan dasar Dian. Kini Ibu sudah tak sekuat itu. Ibu tak sesehat itu lagi tetapi bagi dian Ibu tetap sehebat itu. “Ini saatnya Dian yang sibuk menghidupi Ibu. Dian berharap kali ini Dian bisa tetap melihat Ibu dan berjuang untuk ibu selama seperempat abad ke depan, bahkan lebih.”

Semangat Dian menggebu. Hanya saja, dunia sekarang tak sebaik dulu. Hidup di jaman keras ini, sungguh berat. Hanya satu motivasi Dian untuk tetap mengayun kakinya langkah demi langkah setiap hari: cita-cita Ibu, yang belum tercapai. Dian tidak punya cita-cita profesi, hanya satu saja cita-citanya: cita-cita ibu shalat di depan Ka'bah.

Sayangnya, semakin hari, rasanya Ka'bah itu semakin samar. Dunia seolah menginjak perekonomian mereka. Padahal, Dian adalah seorang sarjana. Sialnya, "Kenapa sulit sekali mendapatkan pekerjaan yang "layak menghidupi" di kota yang se-ramai ini?" keluhnya sesekali.

Sebuah pesan masuk saat ia berdiri dalam desakkan penumpang KRL lainnya, "Penerimaan dana sebesar Rp5.500.000,- . . . ." Dian menutup kembali ponselnya. Ia mengucap "alhamdulillah" dalam hati, tetapi nafasnya panjang. Di kepalanya langsung terbayang daftar tagihan dan hal lainnya yang harus ia bayar:

- Kontrakkan: Rp1.500.000,-

- Listrik: Rp300.000,-

- Ongkos kerja: Rp500.000,-

- Kuota: Rp100.000,-

- Sembako bulanan: Rp300.000,-

- Sabun dll. : Rp200.000,-

- Sisanya untuk Makan: Rp1.600.000,- (?) dan

Tabungan haji ibu: Rp1.000.000/bulan*


Nafas panjangnya menghembuskan tanya, "Kapan terkumpulnya ya kalau satu juta per bulan?" "Apakah takdir baik akan sampai lebih dulu daripada malaikat maut?"

Ia sampai 10 menit sebelum jam kerjanya. Ia membayar kewajiban-kewajibannya terlebih dahulu, kemudian membagi-bagi gaji imutnya ke dalam pos-pos yang sudah ditentukan. Ia pastikan selalu mengisi pos tabungan haji ibu, baru sisanya untuk makan. Seadanya saja, sampai terkumpul uang tabungan ibu.

Ia menelepon Ibu untuk memberi kabar bahwa ia sampai di kantor dan sudah menerima gajinya, tapi kali ini lidahnya mendahului kontrolnya, "Bu, maaf ... Ka'bah itu tampaknya semakin samar," ia terisak. Sesaat hening membiarkan isak tangis Dian mereda. Kemudian suara tenang ibu mulai terdengar, "Nak, terima kasih atas usaha dan kerja kerasmu. Ibu tidak pernah menuntut cita-cita itu untuk terwujud melalui kerja kerasmu. Ibu percaya bahwa Haji itu undangan dari Sang Pemilik Rumah, baitullah. Mari kita tetap hidup layak, makan yang enak, hargai kerja kerasmu. Kamu berhak atas hasil jerih payahmu. Tidak harus melulu Ibu, Nak. Rayakan lah untuk dirimu sendiri sesekali. Bila waktunya undangan itu sampai kepada ibu, maka ibu akan sampai tepat waktu. Ibu akan berdo'a untuk kebaikanmu di dunia dan akhirat. Bahkan saat Ka'bah itu jauh tak terlihat pun, do'a ibu tetap sama, Sayang. Kamu berhak atas dirimu sendiri, Ibu tidak pernah menuntut balas atas kasih sayang ibu. Melihatmu tumbuh dewasa menjadi anak berbakti sayapun cukup bagi Ibu. Kamu tak perlu jadi siapa-siapa, cukup jadi dirimu sendiri, hidup untuk dirimu sendiri pun ibu tetap bangga."

. . . isak sesekali memecah hening. Ibu menyuruh Dian menutup teleponnya dan kembali bekerja. Dian tak sanggup berkata-kata. Ia menghapus air matanya. Ia mengucap terima kasih dan salam singkat untuk Ibu sebelum menutup teleponnya, dan kembali bekerja.


Ia menarik nafas panjang untuk terakhir kalinya sambil mengucap bismillah, dan mulai bekerja. Ka'bah boleh saja samar dalam harapan, tetapi asa itu tetap nyala walau hanya berpendar. Ia percaya bahwa suatu hari, ia akan sampai pada titik itu.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen