CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Just for My Mom
JF

Just for My Mom

oleh Dita
CerpenGratis4 menit baca7 dibacaJFMM Participant

Aku punya ibu yang luar biasa.

Setidaknya, menurut Instagram.

Setiap pagi aku mengunggah foto sarapannya.

“Homemade breakfast for the most amazing woman in my life. ❤️”

Padahal sarapannya cuma roti tawar dan telur.

Tapi kalau difoto dari atas, ditambah sedikit bunga di samping piring, kelihatannya seperti brunch di hotel.

Postingan itu biasanya mendapat sekitar dua ratus likes.

Kalau sedang beruntung, tiga ratus.

Ibu tidak pernah melihatnya.

Ibu tidak punya Instagram.

Katanya, “Ngapain lihat kehidupan orang?”

Aku tidak pernah menjelaskan bahwa justru karena itu aku membuat kehidupan Ibu di Instagram.

Hari ulang tahun Ibu, aku mengunggah foto kami.

Aku mencium pipinya.

Ibu tersenyum.

Caption-nya:

“Semoga aku masih diberi kesempatan untuk membahagiakan Ibu, seperti Ibu yang selalu membahagiakanku. ❤️”

Seribu dua ratus likes.

Aku hampir menangis.

Bukan karena terharu.

Karena untuk pertama kalinya postinganku masuk explore.

Temanku bilang,

“Gila, Dit. Kamu anak berbakti banget.”

Aku mengangguk.

“Semua demi Ibu.”

Kalimat itu selalu berhasil.

Sejak saat itu, aku mulai serius.

Aku membuat kalender konten.

Senin: masakan Ibu.

Selasa: quote tentang Ibu.

Rabu: throwback masa kecil.

Kamis: video Ibu menyiram tanaman.

Jumat: “Things I learned from Mom.”

Sabtu: foto kami belanja.

Minggu: konten emosional.

Aku bahkan membuat satu folder khusus:

MOM CONTENT.

Di dalamnya ada 347 foto.

Ibu sedang tidur.

Ibu sedang makan.

Ibu sedang marah.

Ibu sedang tertawa.

Ibu sedang tidak tahu bahwa sedang difoto.

Yang terakhir justru paling laku.

Suatu hari sebuah brand menghubungiku.

Mereka ingin bekerja sama.

Produk mereka?

Vitamin untuk orang tua.

Mereka melihat kontenku dan berkata,

“Relationship Anda dengan ibu sangat genuine.”

Aku tersenyum.

Genuine.

Aku suka kata itu.

Kedengarannya mahal.

Aku menerima kerja sama tersebut.

Ibu mendapat vitamin gratis.

Aku mendapat uang.

Kami sama-sama bahagia.

Win-win.

Aku bahkan membuat video:

“Karena kita tidak bisa membalas semua pengorbanan orang tua, setidaknya kita bisa menjaga kesehatan mereka.”

Video itu viral.

Komentarnya membuatku terharu.

“Beruntung banget punya anak seperti kamu.”

“Semoga saya bisa seperti kamu nanti.”

“Your mom must be so proud.”

Aku membaca komentar terakhir tiga kali.

Lalu melihat Ibu yang sedang tidur di sofa.

Aku tersenyum.

“Bu.”

Ibu membuka mata.

“Hm?”

“Aku bikin Ibu terkenal.”

Ibu mengernyit.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Beberapa bulan kemudian, aku mulai mendapat banyak tawaran.

Skincare.

Suplemen.

Asuransi.

Paket wisata.

Bahkan ada restoran yang menawarkan makan gratis kalau aku membawa Ibu.

Aku menerima semuanya.

Tentu saja.

Aku anak yang tahu bersyukur.

Kami makan gratis.

Aku bikin konten.

Restoran dapat promosi.

Aku dapat engagement.

Ibu dapat nasi goreng.

Win-win lagi.

Suatu malam, Ibu bertanya,

“Kamu sebenarnya kerja apa?”

Aku sedang mengedit video.

“Content creator.”

“Kerjanya apa?”

Aku berpikir.

“Ya… bikin orang percaya sesuatu.”

Ibu mengangguk.

“Oh.”

Aku kembali ke laptop.

Lima detik kemudian Ibu bertanya,

“Terus kamu percaya?”

Aku berhenti mengetik.

“Percaya apa?”

“Yang kamu bikin.”

Aku tertawa.

“Ibu ini ngomong apa sih?”

Ibu ikut tertawa.

Aku kembali bekerja.

Beberapa minggu kemudian, follower-ku mencapai seratus ribu.

Aku membuat video perayaan.

Aku memeluk Ibu.

Menangis.

Ibu juga menangis.

Aku berkata di depan kamera:

“Semua ini tidak akan mungkin terjadi tanpa Ibu.”

Benar.

Secara teknis.

Video itu mendapat 2,3 juta views.

Komentarnya luar biasa.

Ada yang meminta aku membuat buku.

Ada yang meminta aku membuka kelas.

Ada yang meminta aku membagikan tips menjadi anak berbakti.

Aku mulai mempertimbangkan membuat ebook:

10 Cara Membahagiakan Orang Tua Tanpa Menguras Kantong.

Aku sudah punya materinya.

Lalu suatu hari, Ibu meminta sesuatu.

“Bisa hapus foto Ibu?”

Aku tertawa.

“Foto yang mana?”

“Semua.”

Aku mengira Ibu bercanda.

Ternyata tidak.

“Kenapa?”

Ibu diam sebentar.

“Aku capek.”

“Capek difoto?”

“Capek jadi Ibu kamu di internet.”

Aku tidak tertawa lagi.

“Ibu kan tidak pernah lihat.”

“Itu masalahnya.”

Aku menutup laptop.

Untuk pertama kalinya, aku tidak punya caption untuk situasi ini.

Malam itu aku membuka semua postinganku.

Satu per satu.

Foto Ibu.

Video Ibu.

Cerita tentang Ibu.

Kisah tentang pengorbanannya.

Tentang masa kecilku.

Tentang bagaimana Ibu membesarkanku.

Tentang betapa beruntungnya aku memiliki beliau.

Aku membaca semuanya.

Lalu aku menyadari sesuatu yang sangat memalukan.

Aku tahu semua cerita tentang Ibu. Dulu.

Tapi aku tidak tahu sebenarnya Ibu sekarang suka apa.

Aku tahu makanan favorit Ibu ketika aku kecil.

Tapi aku tidak tahu makanan favoritnya sekarang.

Aku tahu lagu yang biasa Ibu dengarkan saat antar aku sekolah.

Tapi aku tidak tahu lagu apa yang sekarang dia dengarkan ketika sendirian.

Aku tahu ukuran bajunya.

Tapi aku tidak tahu apakah dia masih suka warna biru.

Aku tahu bagaimana membuat internet menangis karena kisah Ibu.

Tapi aku tidak tahu kapan terakhir kali Ibu benar-benar tertawa.

Aku masuk ke kamar.

“Ibu.”

“Hm?”

“Maaf.”

Ibu melihatku.

“Kenapa?”

Aku duduk di sampingnya.

“Besok kita pergi, yuk.”

“Ke mana?”

Aku tidak tahu.

Aneh.

Selama ini aku selalu punya kamera.

Tapi tidak pernah punya tujuan.

“Ke mana saja.”

Ibu tersenyum.

“Kalau begitu jangan bawa HP.”

Aku mengangguk.

“Iya.”

“Jangan foto.”

“Iya.”

“Jangan bikin konten.”

“Iya.”

“Jangan cerita ke siapa-siapa.”

Aku tertawa.

“Iya, Bu.”

Ibu memandangku lama.

Kemudian berkata,

“Sekarang baru rasanya kamu ngajak Ibu jalan.”

Besoknya kami pergi.

Tidak ada foto.

Tidak ada story.

Tidak ada caption.

Tidak ada hashtag.

Tidak ada sponsor.

Tidak ada yang tahu.

Kami makan bakso.

Ibu menumpahkan kuah ke bajunya.

Kami tertawa.

Aku tidak mengambil kamera.

Kami naik angkot.

Ibu salah turun.

Kami berjalan hampir satu kilometer.

Ibu mengomel.

Aku tertawa lagi.

Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasa sedang kehilangan kesempatan membuat konten.

Aku hanya merasa sedang menghabiskan waktu bersama Ibu.

Malamnya, sebelum tidur, aku membuka Instagram.

Aku melihat angka follower-ku.

100.327.

Aku menekan tombol Archive .

Satu postingan.

Dua.

Sepuluh.

Seratus.

Semuanya.

Aku tidak menghapusnya.

Hanya menyimpannya.

Karena mungkin suatu hari nanti aku akan ingin melihatnya lagi.

Atau mungkin tidak.

Aku belum tahu.

Aku mematikan layar.

Lalu terdengar suara Ibu dari kamar.

“Dit?”

“Iya?”

“Besok masak telur, ya.”

“Telur apa?”

“Yang kuningnya setengah matang.”

Aku tersenyum.

“Siap.”

“Jangan difoto.”

Aku tertawa.

“Enggak.”

Hening sebentar.

Lalu Ibu berkata,

“Bagus.”

Aku mematikan lampu.

Pagi itu aku membuatkan telur untuk Ibu.

Tidak ada kamera.

Tidak ada story.

Tidak ada caption.

Tidak ada yang tahu.

Ibu menggigit sedikit, lalu tersenyum.

“Enak.”

Aku ikut tersenyum.

Aku hampir mengambil HP.

Hampir.

Lalu aku tersadar.

Ternyata, aku yang selama ini butuh dilihat.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen