CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Ibuku Singa Betina
IS

Ibuku Singa Betina

oleh Norma Rahmawati
CerpenGratis6 menit baca3 dibacaJFMM Participant

Dulu, aku mengira ibuku adalah perempuan paling galak di dunia.

Aku pernah berharap memiliki ibu seperti ibu teman-temanku.

Ibu yang lembut. Yang suka memeluk anaknya. Yang tidak mudah marah. Yang mau mendengarkan cerita anak-anaknya sampai selesai.

Ibuku tidak seperti itu.

Ia adalah perempuan yang hampir selalu pulang dalam keadaan lelah, membawa bau pasar yang menempel di pakaian dan rambutnya.

Setiap pagi, ketika langit masih gelap, ia sudah pergi.

“Ibu berangkat dulu.”

Hanya itu.

Tidak ada kecupan di kening.

Tidak ada pelukan.

Ia pergi begitu saja.

Lalu pulang ketika hari sudah gelap.

Dan entah mengapa, kepulangannya justru sering menjadi awal pertengkaran di rumah.

“Kenapa rumah berantakan?”

"Kenapa kamu belum mengerjakan pekerjaan rumah?”

“Sudah Ibu bilang, jangan boros air!”

“Belajar! Jangan cuma main!”

Suara ibu hampir selalu terdengar tinggi.

Aku merasa rumah kami tidak pernah benar-benar tenang.

Ada saja yang membuat ibu marah.

Ayah pun tidak luput dari omelannya.

Selalu ada saja yang salah di matanya.

Aku membencinya.

Aku membenci suaranya.

Aku membenci wajahnya yang hampir selalu terlihat tegang.

Aku membenci caranya berbicara yang terdengar seperti sedang memarahi seluruh dunia.

Aku membenci caranya menghitung uang ketika aku meminta sesuatu.

“Tidak usah beli itu. Tidak penting.”

“Uang bukan untuk dihamburkan.”

“Masih ada yang lama, pakai itu saja.”

Aku menganggap ibu pelit.

Aku tidak tahu bahwa uang yang menurutku sedikit itu harus dibagi untuk begitu banyak kebutuhan.

Aku tidak tahu bahwa di kepala ibu ada harga beras, listrik, uang sekolah, kebutuhan rumah, utang dagangan, dan entah berapa banyak hal lain yang tidak pernah dia ceritakan.

Aku hanya tahu aku ingin sesuatu.

Dan ibu berkata tidak.

Maka aku menyimpulkan:

Ibu tidak sayang aku.

Aku juga malu.

Bukan karena ia pedagang.

Tetapi karena orang-orang sering membicarakannya.

Katanya ibu galak.

Katanya ibu terlalu keras.

Katanya ibu suka marah.

Aku mendengar semuanya.

Dan diam-diam aku setuju.

Aku pernah berharap ibu berdandan seperti ibu teman-temanku.

Menggunakan bedak.

Menyisir rambut dengan rapi.

Memakai pakaian bagus.

Tetapi ibuku tidak pernah peduli pada hal-hal seperti itu.

Ia selalu memakai pakaian sederhana.

Tangannya kasar.

Kakinya sering terlihat pecah-pecah.

Wajahnya kusam.

Rambutnya kadang hanya diikat seadanya.

Aku pernah berpikir, kenapa ibu tidak bisa menjadi seperti perempuan lain?

Kenapa ibu tidak bisa lebih cantik?

Lebih lembut?

Lebih menyenangkan?

Kenapa harus selalu marah?

Aku tidak pernah menyadari bahwa mungkin pertanyaan yang seharusnya kutanyakan adalah:

Mengapa ibu selalu lelah?

Aku ingin ibu yang berbeda.

Maka aku berjanji kepada diriku sendiri:

Suatu hari nanti, kalau aku punya anak, aku tidak akan menjadi seperti ibu.

Aku akan menjadi ibu yang lembut.

Aku akan selalu mendengarkan anakku.

Aku akan banyak tersenyum.

Aku akan memeluk anakku.

Aku akan mengatakan bahwa aku menyayanginya.

Aku tidak akan membentaknya hanya karena rumah berantakan.

Aku tidak akan membuat anakku merasa bahwa ia adalah beban.

Aku pikir menjadi ibu hanya soal mencintai anak.

Ternyata aku salah.

Bertahun-tahun kemudian, aku menikah.

Lalu seorang bayi lahir dari rahimku.

Ketika pertama kali menggendongnya, aku menangis.

Tubuh kecil itu begitu rapuh.

Tangannya menggenggam jariku.

Aku menatap wajahnya dan membuat janji yang pernah kubuat bertahun-tahun lalu.

“Aku akan menjadi ibu yang lebih baik.”

Dan selama beberapa waktu, aku berhasil.

Aku menjadi ibu yang sabar. Ibu yang lembut. Ibu yang suka tersenyum.

Sampai anakku tumbuh.

Ia mulai berlari.

Mulai berteriak.

Mulai menumpahkan makanan.

Mulai menangis ketika keinginannya tidak dituruti.

Mulai bertanya hal yang sama berulang-ulang.

Dan aku mulai kelelahan.

Ada hari-hari ketika aku belum sempat sarapan, tetapi sudah harus menyiapkan makanan.

Ada malam ketika tubuhku ingin tidur, tetapi anakku demam.

Ada pekerjaan yang menunggu.

Ada rumah yang tidak pernah benar-benar rapi.

Ada pengeluaran yang harus dipikirkan.

Ada banyak hal yang tidak pernah terlihat oleh anak kecil.

Sampai suatu sore, aku sedang mengerjakan sesuatu ketika anakku datang.

“Ma.”

Aku tidak menjawab.

“Ma.”

“Sebentar, Nak.”

“Ma, lihat ini.”

“Sebentar.”

Ia menarik tanganku.

Aku menoleh.

Dan sesuatu di dalam diriku meledak.

“Jangan ganggu Mama terus!”

Anakku terdiam.

Matanya membesar.

Kemudian perlahan tangannya turun.

Ia pergi tanpa berkata apa-apa.

Aku membeku.

Kalimat itu.

Nada itu.

Entah mengapa terdengar begitu familiar.

Dan tiba-tiba aku teringat ibu.

Malam itu aku duduk di tepi tempat tidur anakku.

Ia sudah tidur.

Aku menatap wajah kecilnya lama sekali.

Lalu kenangan tentang ibu datang satu per satu.

Bukan lagi hanya suara marahnya.

Aku mulai melihat hal-hal lain.

Ibu yang bangun sebelum matahari terbit.

Ibu yang pergi bekerja ketika kami masih tidur.

Ibu yang berdiri berjam-jam di pasar.

Ibu yang pulang dengan kaki lelah.

Ibu yang masih memasak setelah seharian bekerja.

Ibu yang masih mencuci agar kami bisa memakai baju yang bersih.

Ibu yang selalu mengurus kami.

Ibu yang tetap bangun keesokan harinya meski tubuhnya belum pulih.

Aku menutup wajah.

Untuk pertama kalinya, aku bertanya kepada diriku sendiri:

Berapa kali ibu menangis sendirian?

Aku tidak tahu.

Karena aku tidak pernah bertanya.

Aku hanya menilai.

Aku hanya menuntut.

Aku hanya melihat ibu dari sisi seorang anak.

Hari-hari berikutnya, ingatanku berubah.

Dulu aku menganggap ibu pelit.

Sekarang aku mengerti bahwa mungkin ia hanya takut kehabisan uang.

Dulu aku menganggap ibu tidak perhatian.

Sekarang aku tahu bahwa mungkin bekerja dari pagi hingga malam adalah satu-satunya cara yang ia tahu untuk menjaga kami.

Dulu aku menganggap ibu tidak pernah punya waktu.

Sekarang aku sadar bahwa waktunya memang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.

Dulu aku membenci omelannya.

Sekarang aku mengerti bahwa mungkin ia juga tidak tahu bagaimana menyampaikan kekhawatiran selain dengan suara keras.

Ibu bukan manusia sempurna.

Namun, bukankah aku juga tidak sempurna?

Aku ingin pulang.

Aku ingin duduk di samping ibu.

Aku ingin menggenggam tangannya.

Aku ingin melihat wajahnya.

Aku ingin berkata, “Bu, sekarang aku mengerti.”

Namun, kehidupan tidak memberiku kesempatan.

Ibu meninggal sebelum aku sempat meminta maaf.

Aku datang ke makamnya pada suatu sore.

Langit mendung.

Aku duduk di depan batu nisannya.

Lama sekali.

Tidak ada siapa-siapa.

Hanya angin dan suara daun yang bergesekan.

Aku menyentuh nama yang terukir di batu itu.

Nama seorang perempuan yang pernah sangat kubenci.

“Bu...”

Suara itu pecah.

Aku menarik napas.

“Maaf.”

Air mataku jatuh.

“Dulu aku pikir Ibu tidak menyayangiku.”

Aku tertawa kecil, pahit.

“Ternyata aku yang tidak mengerti.”

Aku mengusap batu nisan itu.

“Maaf karena aku menganggap Ibu pelit.”

Aku menangis.

“Maaf karena aku malu punya Ibu seperti Ibu.”

Dadaku sesak.

“Maaf karena aku lebih mengingat omelan Ibu dari pada semua yang Ibu korbankan.”

Aku menunduk.

“Sekarang aku sudah menjadi seorang ibu.”

Sekarang aku memahami sesuatu yang dulu tidak pernah kupahami.

Menjadi ibu bukan hanya tentang memberikan cinta.

Menjadi ibu juga tentang ketakutan.

Tentang tanggung jawab.

Tentang lelah yang tidak bisa dijelaskan.

Tentang tetap berdiri ketika sebenarnya ingin menangis.

Tentang menjadi kuat karena ada anak-anak yang bergantung kepada kita.

Aku tersenyum di antara air mata.

“Bu, sekarang aku tahu.”

Aku menatap batu nisan itu.

“Ibu mungkin tidak bisa menjadi seperti ibu peri.”

Angin bergerak pelan.

“Ibu mungkin tidak bisa selalu lembut.”

Aku menarik napas.

“Ibu mungkin tidak selalu sabar.”

Suaraku bergetar.

“Ibu mungkin tidak pandai mengatakan sayang.”

Aku memejamkan mata.

“Tapi Ibu selalu ada.”

Aku mengusap air mata.

“Ibu selalu menyayangiku dengan cara Ibu sendiri.”

Dulu aku mengira ibu adalah perempuan paling galak di dunia.

Sekarang aku tahu.

Ia hanya seorang perempuan yang terlalu lama berusaha kuat di depan anak-anaknya.

Menghadapi kehidupan.

Menghadapi rasa takut.

Menghadapi dunia.

Aku pernah berharap ia menjadi lebih lembut.

Aku pernah berharap memiliki ibu yang berbeda.

Namun sekarang aku mengerti.

Tidak semua ibu dilahirkan untuk menjadi ibu peri.

Ada ibu yang harus menjadi singa demi melindungi keluarganya.

Ada ibu yang harus mengaum agar anak-anaknya tetap aman.

Dan ada ibu yang mungkin tidak pernah tahu bagaimana mengatakan, "Ibu sayang kalian."

Tetapi setiap pagi ia bangun.

Setiap hari ia bekerja.

Setiap malam ia pulang.

Itulah caranya mengatakan cinta.

Aku menundukkan kepala di depan makamnya.

“Bu...”

Aku tersenyum sambil menangis.

“Terima kasih sudah menjadi singa betina untuk kami.”

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen