Baru pulang dr rumah ibuk,
Dengerin ceritanya, pilunya perasaan beliau
Menghadapi kesepian, setelah ditinggal suaminya,
Aku tahu, dia punya luka sangat dalam pada suaminya,
Tp aku tau, kesepian ini bisa membunuhnya
Raga yg tak sampai menyapa, padahal terlihat diantara nyata ( nangis banget dia, dicuekin 3 menantunya, lalu berpikir bahwa mereka benci mertuanya yg sudah tua ini serta sakit sakitan)
Peduli yg tak sampai kasih, hingga tak pandai berbagi ( mereka sering hilir mudik, tp ga pernah sampe kerumahnya sendiri. Rumah sepi banget, jd kalau gua gada pun gada ubahnya, sama aja kan. Buat sampe kerumah aja enggak, apalagi bawain makanan 🙃)
Begitulah perasaan beliau, ibuku yg sebagai mertua.
Bagaimana aku menolongnya ya Alloh ?
Ini bukan mengenai bawa perasaan karena sudah tua,
Ini murni memang karena perasaan yg di abaikan
Aku hanya sampai pada du'a " bahagiakan Ibuku di sisa usianya Ya Rabb"
Hanya itu, dari segala upaya terbesar yg sering ku himpitkan di sela sela waktu antara suami, anak anak serta Ibuku
Ini menjadi titik satu pemahaman buat Ku, bahwa bagaimana pun kita akan tetap sendirian
Karena keabadian menyapa pada akhir hayat, dan akan kembali pada diri sendiri
Ibuku adalah pahlawan super tak bersolek
Punya segudang kepahitan dalam hidupnya,
Dan merekah ketika di sunting ayah ku,
Dan lagi lagi menelan kecewa luar biasa,
Semua berubah, ketika lucu dia menangis ketika menagis dia melucu,
Hanya sampai di Ibuku, ketika pelajaran putus rantai membuming sekarang, itu sudah terjadi pada Ibuku
Dia tidak akan meneruskan kepahitan hidupnya pada empat anaknya,
Dia terus pada pandangan lurusnya, bahwa tak ada rugi menjadi orang baik,
Lewat pesan kata singkatnya " Biarkan orang lain menjadi bejat, asal bukan dari diri kita"
Dia yakin, apa yg menjadi pilihan hidupnya bagian yg tak terelakan dr takdir Tuhan,
Dan Tuhan sebaik sebaiknya maha Penolong,
Dari aku si bungsu, yg baru mengenalmu 12 tahun terakhir ini,
Maafkan kami, anak anakmu Ibuku
Hanya du'a terbaik yg tak terlewatkan, untuk Mu wahai sumber surga Ku
