CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Ibu tidak akan pernah berubah.
IT

Ibu tidak akan pernah berubah.

oleh Mawa
CerpenGratis8 menit baca5 dibacaJFMM Participant
Halo, perkenalkan nama aku Mawa. Aku merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara yang saat ini tengah struggle dengan banyak hal. Rasanya, kalau membahas soal struggle semua anak, mau itu anak bungsu, anak pertama, anak kedua bahkan anak ke tujuh-belas pun pasti juga akan mengalami masa masa struggle. By the way, ini day one aku menulis cerpen karena melihat di threads bahwa ini salah satu media yang bisa menampung semua cerita. So, izinkan aku untuk menceritakan pengalaman ku sedikit, ya hanya sedikit.

Roda waktu rasanya berputar begitu cepat, mengubah banyak hal di sekelilingku. Suara bising kendaraan di luar rumah makin padat, warna cat dinding kamar yang dulu merah muda kini sudah berganti krem netral, dan tubuhku sendiri bukan lagi bocah mungil yang suka bersembunyi di balik pintu. Namun, di tengah semua perubahan itu, ada satu hal yang seolah membeku oleh waktu.

Ibu. Beliau tidak akan pernah berubah.

Sore itu, aroma minyak kayu putih dan dentang sendok beradu dengan cangkir mengudara di dapur. Aku melangkah pelan keluar kamar, melihat sosok wanita setengah baya itu sedang berdiri di depan kompor. Bahunya tampak turun, napasnya terdengar berat dan terengah sebuah gestur familiar yang sangat aku kenal sejak kecil. Itu adalah tanda bahaya. Energi Ibu sedang di titik nadir, dan rasa lelahnya sudah mencapai ubun-ubun.

"Ibu, mau dibantu?" tanyaku pelan, berusaha seberhati-hati mungkin.

Ibu berbalik dengan cepat. Raut wajahnya tegang, matanya menatapku tajam. "Kamu itu dari tadi di kamar saja! Ibu ini capek dari pagi ngurus rumah, belanja, belum lagi nyuci! Nggak ada yang peka sedikit pun di rumah ini!" suaranya melengking tinggi, memotong udara sore yang mendadak terasa mencekam.

Ibu mulai mengomel panjang lebar. Hal-hal kecil yang tidak ada hubungannya ikut terseret: sapu yang letaknya miring, piring yang belum kering sempurna, hingga lampu teras yang lupa dinyalakan. Setiap kata yang keluar dari bibirnya bak letupan api kecil yang siap membakar apa saja di sekitarnya.

Kalau ini terjadi sepuluh tahun lalu, saat aku masih berseragam sekolah, aku pasti sudah berlari ke kamar, mengunci pintu, lalu menangis sesenggukan. Dulu, aku selalu bertanya-tanya pada diri sendiri: Apakah aku anak yang jahat? Kenapa Ibu membenciku? Kenapa Ibu selalu marah-marah? Dulu, aku selalu berharap suatu hari nanti Ibu akan berubah menjadi sosok lembut yang menyambutku dengan senyuman hangat tanpa pernah membentak.

Tapi sore ini, aku hanya berdiri diam. Tidak ada air mata. Tidak ada rasa sesak berlebihan.

Aku menatap garis-garis kerutan di dahi Ibu yang makin mendalam, untaian uban yang mulai menyelinap di antara rambut hitamnya, dan tangannya yang kasar akibat beban kerja bertahun-tahun. Di balik suara tingginya yang memekakkan telinga, aku melihat pola yang sama persis seperti sepuluh atau lima belas tahun lalu.

Ibu kalau capek, pasti marah-marah.
Ibu kalau lagi kehabisan energi, cara mengekspresikannya adalah dengan mengomel.

Dulu, sekarang, dan mungkin sampai nanti, mekanisme pertahanan diri Ibu dari rasa lelah memang seperti itu. Beliau tidak tahu cara meminta tolong dengan lembut, tidak pernah diajari cara mengomunikasikan rasa lelah tanpa meluapkan emosi. Ibu adalah produk dari masa lalunya, dan itu tidak pernah berubah.

"Ibu duduk dulu ya, biar aku yang terusin masak," ucapku dengan nada suara yang sengaja kubuat sedatar dan selembut mungkin, sama sekali tidak membalas nada tingginya.

Ibu sempat mendengus, mematikan kompor dengan sedikit menghentakkannya, lalu berjalan ke ruang tengah sambil tetap bergumam kesal.

Aku menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis sebuah senyuman kedewasaan yang lahir dari proses panjang yang melelahkan. Dulu aku membuang banyak energi hanya untuk meratapi dan berharap Ibu bisa berubah menjadi sosok ibu ideal seperti di dalam dongeng atau sinetron. Namun, makin aku dewasa, makin aku paham bahwa menuntut Ibu untuk berubah adalah usaha yang sia-sia dan hanya menyiksa diriku sendiri.

Aku tidak bisa mengubah Ibu. Tapi aku bisa mengubah caraku meresponsnya.

Sebagai anak, tugas utamaku sekarang bukan lagi mengubah perangai Ibu, melainkan belajar memahaminya. Memahami bahwa kemarahannya saat lelah bukanlah tanda ia membenciku, melainkan jeritan tubuhnya yang butuh istirahat. Memahami bahwa Ibu, dengan segala kekurangannya, memang tidak akan pernah berubah.

Beberapa menit kemudian, setelah suasana hening, aku membawakan secangkir teh hangat ke ruang tengah. Ibu sedang bersandar di sofa dengan mata terpejam, wajahnya terlihat begitu rapuh dan lelah. Kemarahan meledak-ledak tadi seolah menguap begitu saja, menyisakan sosok wanita tua yang butuh ketenangan.

"Tehnya, Bu," kataku pelan sambil meletakkannya di meja.

Ibu membuka mata, menatap cangkir itu, lalu menatapku. Tidak ada kata maaf dari bibirnya Ibu memang tidak pernah mengucapkannya. Tapi beliau mengambil cangkir itu, menyesapnya perlahan, lalu bergumam pendek, "Makasih."

Bagi orang lain, Ibu mungkin terlihat galak atau keras. Tapi bagiku, Ibu adalah Ibu. Beliau tidak pernah berubah dari dulu sampai sekarang. Dan di titik ini, menerima dan memahami Ibu apa adanya adalah bentuk cinta tertingginya yang bisa kuberikan sebagai anaknya.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen