CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Ibu Seperti Apa yang Harus Aku Ceritakan?
Ibu Seperti Apa yang Harus Aku Ceritakan?

Ibu Seperti Apa yang Harus Aku Ceritakan?

oleh Aulia Ramadhanti
CerpenGratis2 menit baca6 dibacaJFMM Participant
Ibu?
Harus seperti apa aku menceritakan sosoknya? Sosok wanita yang lemah lembutkah? Wanita paruh baya yang selalu bercucuran keringat demi menopang hidup anak-anaknya? Atau justru seorang wanita yang berhasil menorehkan luka begitu dalam pada diri anaknya?
Jika harus menceritakan tentang sosok ibu, jujur aku tidak tahu harus menceritakan tentang apa? yang kerap kali muncul di dalam benakku saat mendengar kata ini hanya terbayang luka. Rasa kecewa yang masih bercokol dan kemarahan yang pelan-pelan kucoba tutupi. Anehnya aku masih saja tertarik untuk mengungkapkannya.
Ibu, tidak ada kenangan manis yang muncul di dalam benakku. Bahkan saat ini, aku hanya tersenyum getir. Kenapa tidak ada kenangan manis yang muncul di dalam ingatanku tentangmu. Wanita yang mempertaruhkan hidupnya untuk membawaku ke dunia.
Bu, apa aku membencimu? Aku sendiri tidak tahu jawabannya.
Yang pasti aku tidak lagi memikirkan apa yang sedang kau alami. Aku tidak seperti anak-anak yang lain, yang akan selalu bertanya bagaimana keadaannya. Khawatir saat ibu jatuh sakit.
Tidak ada rasa itu di dalam diriku, Bu? Apa aku salah satu anak durhaka sebab tidak memiliki rasa itu?
Tapi ada satu hal yang pasti muncul di dalam diriku. Rasa saat hatiku seperti menciut, mengkerut saat aku melihat interaksi manis seorag anak perempuan dengan ibunya yang sudah setengah baya.
Rasanya tidak ada pembatas. Tidak ada rasa malu atau canggung memperlihatkan kemesraan itu. Tapi kenapa aku tidak bosa melakukannya? Untuk sekadar menggenggap tangannya saja aku tidak mampu. Aku tidak memiliki keberanian untuk itu.
Bu, kenapa aku menjadi seperti ini? Begitu canggung untuk bergelayut manja pada ibuku sendiri.
Bu, runtuh sudah pertahananku hari ini. Air mataku berlomba membasahi wajahku meski sudah sekuat tenaga aku menahannya. Aku tidak ingin terlihat lemah, Bu. Walau sebenarnya aku runtuh dari dalam.
Di belakang aku mampu mengungkapkan semua ini. Tapi ketika aku menatapmu secara langsung hatiku berubah sekeras batu. Aku tidak peduli padamu. Aku tidak bisa bermanis manja padamu.
Tolong aku...
Sebab kini aku pun seorang ibu. Aku tidak ingin anakku merasakan apa yang aku rasakan. Tapi aku tidak tahu bagaimana menjadi ibu yang berlemah lembut pada anak-anakku.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen