Mama. Ibu.
Dua kata penuh arti, dua kata bermakna sama. Dua kata yang menjadi jimat bagi yang mengucapkannya. Dipakai di seluruh situasi, diharapkan untuk menjadi solusi dan eksekusi.
Dan tentunya dengan fungsionalitas yang luar biasa. Bisa dipakai semena-mena, “MAAAA, di mana kacamataku?” “Bu, lihat kertasku, tak?”
Kata-kata yang diucapkan seenaknya dari mulutku, sebagai anaknya.
Seolah-olah dialah yang tahu akan segalanya, dan itu benar, dia memang tahu akan segalanya. Dia tahu dan bisa memberikanku jawabannya, seolah-olah dia hafal semua tentang diriku. Mungkin itu yang membuat seorang ibu hebat, seorang ibu adalah pujaan dari anak-anaknya.
Tapi apakah itu adalah hal terhebat? Mungkin iya, mungkin tidak. Takkan ada yang pernah tahu batasnya sampai mana.
Satu hal yang pasti tentunya, aku sebagai anaknya tidak punya batas. Aku berpikir dengan mengucapkan kata sebutannya itu, dunia akan menjadi tenang, tidak ruwet. Semua masalah akan selesai oleh dirinya. Itu yang kupikirkan sampai sekarang, di umurku yang 20 tahunan ini.
Walau kutahu manusia tidak sempurna, walau kutahu bahwa ibuku juga seorang manusia, masih saja kuharap dirinya lebih tahu.
“Maa, lihat pensilku tidak?”
“Tidak, coba cari di laci.”
“Tidak adaaa, Maa... Ih, ke mana itu pensilnya ya?”
“Penting nih, Maa. Maa.”
“Makanya lah, Maa. Udah berapa kali kubilang jangan beres-beresin barang-barangku.”
...
“Ma? Jangan marah lah. Bercanda, Ma. Ntar coba kucari lagi. Ma? Ma..?”
Kudengar dentuman kakinya menuju kamarku. Begitu dia membuka pintu, dia mengambil pensil itu dari laci yang sudah kucari sepuluh kali.
“Nih, ada pensilnya.”
Kuambil pensil dari dirinya, “Ehehe, makasih ma.” Sebelum dia buka mulut, ku mengacungkan jariku dan berdiri tegak, sembari berucap, ”Makanya cari tuh pake mata, jangan pake dengkul, gitu aja gak ketemu.” Kalimat yang sudah kudengar ratusan kali atau malah ribuan kali, karena skenario seperti ini selalu terjadi. Sering terjadi, dan selalu sama. Kalimat yang akan keluar dari mulutnya setiap kali menemukan barangku yang tidak berhasil kutemukan.
Sungguh enak bukan? Punya seorang Ibu, seorang Mama? Tinggal sebut namanya, berikan statement tugasnya, dan dia akan eksekusi. Langsung, cekat, dan tepat. Walau mungkin di tengah-tengah akan diselingi ocehan dan dumelan darinya yang sudah dihafal di luar kepala sampai ku bisa sebut kata per kata.
Berulang kali, tetap memberikan hasil yang sempurna. Barangnya ketemu, sekecil apapun masalahnya hingga sebesar apapun itu, sebutlah dia. Mama. Ibu. Atau apapun panggilan kamu ke dia. Dia akan datang. Pasti. Kecuali dia sudah berada di alam yang lain. Kalau datang yang itu, nantinya jadi beda genre dong. (HAHAHAH, apasih ini…) Oke, balik ke topik.
Pernah terpikir tak, runtutan seperti itu mirip seperti apa ya? Di dunia zaman sekarang ada yang mirip banget dengan cara kerja seperti itu? AI? Robot? Iya, GPT. Sama kan? Tinggal sebut namanya dengan panggilan lalu berikan statement kerja atau keluhanmu, dan mereka berdua akan mengeksekusi. Praktis, cepat, dan benar. Dan tentunya gratis dong, bisa kamu akses dimanapun kamu berada.
Gampang kan? 100% Service, Luar biasa lah pokoknya. Bintang 5 dari 5, rating 10 dari 10. Berikan tepuk tangannya dong. Prok prok prok, itulah dia.
Ibu. Mama.
Dua kata, satu arti. Mencakup segalanya, menyelesaikan segalanya. Dengan hanya disebutkan panggilannya itu, semesta akan beres sendiri. Tak perlu pusing. Karena dengan sebut dia, dia akan datang dan menyelesaikannya.
Ibu. Mama.
Dua kata yang menjadi nama dia bagi anak-anaknya, atau apapun panggilannya. Kata yang menggantikan nama aslinya. Ku sudah cukup umur, sudah bisa dibilang dewasa untuk tahu, bahwa mamaku bukan lah mama. Namanya bukan mama. Dia punya nama sendiri. Dia punya panggilan sendiri. Tapi apakah itu akan mengubah panggilanku akan dirinya? Oh tentu tidak bisa. Ku akan panggil dia Mama terus sampai akhir.
Ibu. Mama.
Dua kata, dari berbagai jenis panggilan yang mengubah sosoknya. Mengambil alih sosoknya, memakan namanya sendiri untuk dipanggil seenaknya oleh anak-anaknya dengan mudah. Dua suku kata, simpel. Di awal anak terlahir, kata yang mungkin paling gampang disebut adalah dua suku kata tersebut, Ibu dan Mama. Kata yang menjadi panggilan pertama, terakhir dan selamanya untuk sosok yang mendatangkan kita ke dunia ini. Takkan lagi dia akan dipanggil namanya, dia akan dikenal sebagai Mamanya anak A, atau Ibu nya anaknya B. Beliau akan hilang begitu saja, namanya akan menjadi sebatas catatan kaki, namanya takkan punya arti. Takkan bisa menjadi jimat. Karena memanggil namanya dengan nama asli takkan menyelesaikan dunia, takkan bisa menemukan barang-barangku, yang ada malah nambah masalah, karena aku akan merasa sandal yang terbang pas di mukaku. Tak sopan, kan? Makanya dia akan kusebut mama.
Ibu. Mama.
Dua kata, satu jimat, satu keyakinan. Satu harapan, satu guru, satu pengalaman, satu pelayanan, satu kasih sayang, satu nama, dan satu beban. Mau bebannya plus atau minus, tetap aja ada. Satu bebannya, dan apa beban itu? Anak. Aku, Kamu. Kita semua. Kitalah bebannya, aku tahu itu. Aku menyadari aku bebannya. Akulah yang merampas namanya sendiri menjadi satu panggilan yang gampang kusebut, kupanggil, ku gunakan sebagai tameng. Mama adalah jimatku. Dan akulah pengguna jimat itu, akulah yang menggunakan dia seenak jidatku, sesuka hatiku, semarah-marahnya aku, sesedih-sedihnya aku, akan ku gunakan dia. Anggap seperti lightsabernya di Star Wars (kena copyright gak ya..ehe?). Atau Kyuubi-nya Naruto yang bisa dikeluarkan saat ku sedang kesulitan dan kewalahan.
Ibu. Mama.
Bebanmu takkan ku bisa takar, kecuali kalau secara teknis. Karena ku bebanmu, yaaa berarti bebanmu se -PIPPP- kilogram, kalau dilihat langsung dari timbangan. Rasanya kurang kalau ku ucapkan terimakasih, ku tak pernah ucapkan aku sayang Mama juga, rasanya aneh. Rasanya tidak pas, rasanya bukan aku. Yaps, bukan aku, tapi Kamu juga bukan Mama. Kamu punya namamu sendiri, ceritamu sendiri, kamu adalah dirimu sendiri. Dan aku, hanya pernah mengucapkan maaf, maaf dan maaf lagi dan lagi. Terima kasih saja keluar saat kau temukan barangku, saat kau menyelesaikan masalahku, saat kau membuka utas tali pikiranku dan meluruskannya. Itulah engkau, tidak pernah meminta diriku untuk mengucapkan rasa syukur ku padamu, tidak pernah memintaku untuk menyembah engkau, tidak pernah memintaku untuk bilang sayang padamu. Karena bagimu, akulah wujud itu. Aku lah yang kamu perjuangkan, aku lah bebanmu yang kau rela pikul. Aku lah hadiah bagimu. Akulah jimatmu kan?
Ibu adalah jimatnya. Mama adalah jimatnya. Anak adalah jimat juga bagi Ibu atau Mama. Takkan bisa dipisahkan, kecuali oleh satu dua hal yang semoga tidak terjadi di hidupku. Kalaupun itu terjadi, kamu masih akan menjadi jimatku, sampai ku tak bisa berucap lagi, sampai mulutku tidak berguna, tak peduli seberapa jauh kamu berada atau dimanapun aku berada, aku akan memanggil namamu. Sebutanku padamu, Mama. Mama. MAMAAAAA. Dua suku kata yang bisa menembus segala hal demi melihatku bahagia, demi melihat diriku berdiri tegak, demi diriku untuk hanya menemukan kembali pensilku.
Terima kasih… terima kasihku di sini hanya akan menjadi sesuatu yang simpel. Yang tidak ada artinya, karena terima kasih ku selama ini ada dalam diriku, tidak bisa dikeluarkan. Itu tersimpan baik-baik di dalam lubuk hatiku, dimana aku bekerja keras untuk memberimu yang terbaik, di mana aku menundukkan kepalaku padamu, di mana aku menghormatimu, di mana aku akan membenahi diriku saat kau berteriak padaku, di mana aku akan takut padamu saat kamu emosi, di mana aku akan mencarimu jika aku tidak bisa menemukanmu, di mana aku akan memanggilmu, dengan sebutanmu itu berkali-berkali hanya untuk menemukan barangku yang kau rapikan tanpa pamrih, yang kau bersihkan tanpa minta biaya, yang kau rawat tanpa minta ada jaminan, yang kau kandung dalam perutmu selama 9 bulan, yang kau besarkan, yang kau ajari selama ini, yang kau omelin saat ada yang salah, yang kau temani saat dirinya mengambil langkah pertama, yang kau jaga sepenuh hati, yang kau selalu maafkan kesalahannya, yang kau berikan perlindungan, yang kau berikan kasih sayang, yang kau datangi saat dia memanggilmu. Yang.. kau sebut anak, yang kau banggakan.
Karena terima kasihku akan muncul sebagai sosok yang tahu namanya menjadi nama penggantimu, yang merampas namamu, yang bisa bangga saat aku disebut dan kau sebut sebagai anakmu. Karena kamu telah berganti nama pakai namaku. Agar kamu bisa memamerkan aku, agar bebanmu terasa lebih ringan, agar aku benar-benar menjadi jimatmu.
Maka, mohon bersabarlah dengan aku, dengan dunia ini, mohon pikulah bebanmu lebih lama lagi, aku masih berusaha untuk meringankan itu. Aku masih berusaha mencari letak harta karun di dunia, aku masih mencari diriku. Aku akan butuh dukunganmu, doamu, kehadiranmu di setiap langkahku ini walau mungkin dan pasti kata-kata yang keluar dari mulutku tidak kamu sukai, tidak kamu tolerir, tidak menghormatimu, tidak membalas kasihmu. Percayalah, dan ku yakin dirimu tahu bahwa aku tidak sungguh seperti itu, tidak meyakini itu. Karena kamu lah jimatku, dan aku akan berusaha untuk menjadi jimatmu yang baik.
Tunggulah, dan bersabarlah ya mama. Aku kan janji ku akan berusaha sekuat hati untuk dirimu. Ini hubungan simbiosis mutualisme pula atau parasitisme ya AHAHAHAH, atau komensalisme? Tiga-tiganya, kek ya? Segini aja tulisanku hari ini, sekian yang bisa kusampaikan, memang ini agak bertele-bertele, memutar-mutar, berantakan, tapi...
itulah aku, anakmu yang kau banggakan. Sekarang dan senantiasa.
