CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Ibu: Cinta Pertama Anak Laki - Laki
Ibu: Cinta Pertama Anak Laki - Laki

Ibu: Cinta Pertama Anak Laki - Laki

oleh Tika Apriyanti
CerpenGratis5 menit baca8 dibacaJFMM Participant
Hasan kembali menatap anak perempuannya, Zakiyah yang tengah asik bermain tanah. Entah sudah berapa banyak tanah yang masuk ke sela- sela kuku, kaki dan tangannya. Ia bahkan tidak mengerti betapa bahayanya bakteri dan cacing yang bisa menyelinap masuk ke dalam tubuh mungilnya. Yang ia tahu, dengan tanah yang dicampur sedikit air, ia bisa membentuk apapun yang ia mau, termasuk satu piring makanan. Dibentuknya tanah itu menjadi nasi, ayam goreng, dan tempe goreng. Nyam… nyamm… begitu yang keluar dari mulut kecil gadis berusia lima tahun itu, memperagakan betapa nikmatnya makanan palsu yang tengah ia santap. Hasan meringis, dadanya menjadi sesak. Ia berlari ke dapur, menemui Maryam, istri tercintanya.
“Aku ingin keluar dulu, ya.” ucap hasan sembari mengambil kantong kresek di sela- sela panci dan penggorengan yang sudah menghitam. Maryam mengangguk, tak lupa ia mengambil botol air mineral bekas yang diisi kembali dengan air yang sudah direbusnya untuk diberikan kepada hasan– bekal untuk mencari uang.
“Doakan aku.” begitu kalimat yang selalu hasan ucapkan setiap kali kakinya mau melangkah keluar. Maryam cenderung tidak banyak bicara. Bukan karena marah, tetapi setiap kata yang keluar dari mulut suaminya seolah menjadi pancingan bagi air matanya untuk keluar. Dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia sungguh tidak tega melihat suaminya harus memulung sampah setiap hari bahkan hingga larut malam hanya untuk mendapatkan uang yang mungkin hanya cukup untuk membeli setengah liter beras.
Dulu, saat awal- awal menikah, Hasan memiliki pekerjaan tetap. Gajinya memang tidak besar, tetapi sudah lebih dari cukup untuk membiayai hidup keluarga kecilnya. Tetapi makin kesini, hidup semakin berat. PHK dimana- mana, pekerjaan baru susah di dapat. Sialnya, hidup terus berjalan. Hasan bukan dari keluarga berada, sementara Maryam adalah yatim piatu yang hidup bersama sang nenek. Keduanya bertemu karena satu sekolah, di SMK.
Tapi bagaimanapun kerasnya hidup, Hasan adalah laki-laki yang tangguh, ia tidak mudah menyerah. Laki- laki itu langka ditemukan saat ini. Maryam kerap mendengar cerita- cerita dari temannya, dimana suami- suami mereka kecanduan bermain judi online, main perempuan lagi sampai kabur entah kemana. Tetapi Hasan tidak tergiur, siang malam ia tetap mencari pekerjaan halal untuk bisa bertahan hidup. Ia selalu ingat pesan almarhum ibunya– hidup hanya sementara.
Hasan remaja, pernah bermimpi ingin menjadi seorang masinis. Ia sudah jatuh cinta dengan profesi itu saat beberapa kali pergi ke Jakarta mencari sang ayah dengan sang ibu. Matanya tidak berkedip setiap kali melihat para masinis dengan tubuh tegap, seragam pas bodi, dan sepatu pantofel yang mengkilap jalan penuh percaya diri di lorong- lorong stasiun. Almarhum ibunya berbisik “suatu saat kau pasti bisa menjadi seperti mereka.” kalimat itu lah yang sampai saat ini masih terngiang di telinganya setiap kali melihat tumpukan- tumpukan plastik yang seolah semakin mengubur dalam- dalam mimpinya.
Diam- diam, Maryam kerap menjumpai Hasan merenung di teras rumah peninggalan ibunya yang kini mereka tempati tetapi lebih mirip gudang rongsok (barang bekas). Air matanya kerap keluar di atas pipinya yang sudah dipenuhi debu jalanan. Maryam tahu betul, Hasan tidak pernah mau istri dan anaknya tahu ia menangis. Tetapi beratnya beban kehidupan, kadang membuat air mata itu mengalir begitu saja.
“Bu…bu….”
Zakiyah berteriak, suara langkah kakinya menggema semakin dekat terdengar masuk ke dalam dapur.
“LIHAT INI.” katanya sambil menjunjung tinggi sebuah kantong kresek berwarna putih, seperti kantong kresek yang tadi diambil Hasan.
“Apa ini?” Tanya Maryam sambil duduk di hadapan Zakiyah.
“Beras dan Ayam.” Hasan berdiri di ambang pintu. Matanya berbinar. Tentu tidak sampai hati kalau Maryam bertanya dari mana dua bahan masakan berharga itu ia dapatkan?
“Biar Ibu masak.” Maryam mengambil kantong kresek itu dan membawanya ke atas meja kayu yang biasa mereka gunakan untuk makan bersama. Kemudian di masaknya kedua bahan itu dengan penuh cinta.
“Tidak usah takut, makanan itu halal.” jelas hasan saat Zakiyah sudah kembali bermain di halaman. Seolah ia tahu betul apa yang sejak tadi mengganjal di hati istrinya.
“Apakah plastik- plastik kemarin sudah cukup dijual?”
“Belum.” ucap hasan. Ia mengeluarkan sebuah kertas seperti nota dari dalam tas pinggangnya yang lusuh. “Aku menjual emas peninggalan Ibuku.” jelasnya lagi. Kalimat itu membuat mata Maryam membesar.
“Emas?” ulangnya lagi. Ia tidak pernah tahu bahwa Hasan memiliki emas peninggalan ibunya.
“Ya. Ibuku memberikannya, jauh sebelum ia jatuh sakit.”
“Lalu mengapa kau menjualnya? Itu peninggalan ibumu. Terlalu berharga.”
“Aku sudah memikirkannya matang- matang. Ibuku berpesan agar aku bisa menggunakannya saat benar-benar butuh. Aku tak mungkin membiarkan Zakiyah kelaparan.”
Maryam menangis sejadi- jadinya. Ia tahu betul bahwa Hasan bukanlah anak yang suka merongrong. Ibu mertuanya berhasil mendidik dia menjadi manusia yang sangat mandiri dan bertanggung jawab, meski hidup melarat sekalipun.
“Sudah, jangan menangis. Sisa uangnya bisa kita tabung untuk kemudian hari.”
“Aku tahu pasti sangat berat bagimu menjual peninggalan ibumu.” Maryam berkata terbata- bata. Air matanya terus mengalir hingga ia sesenggukan.
“Aku yakin, jika ibuku masih ada, ia pun akan melakukan hal yang sama. Seperti saat dulu dia membesarkan ku seorang diri. Dia rela melakukan apapun untuk membesarkan ku.” kali ini Hasan tak mampu membendung air matanya.
“Aku membeli ini. Besok rencananya aku ingin mengajak kau dan zakiyah ke makam.” Diberikannya sekantong bunga dan air di dalam botol yang akan ia gunakan untuk mengunjungi makam almarhum ibunya.
“Tentu saja.” Maryam tersenyum, matanya yang sembab nampak begitu bahagia.
Hasan dewasa, bahkan belum sempat membawa almarhum ibunya pergi dengan kereta yang ia kemudikan. Ia lebih dulu mengantar ibunya dengan kereta jenazah yang ia panggul menuju peristirahatan terakhir sang ibu. Tetapi jasad ibunya yang sudah terkubur, seolah tidak pernah hilang begitu saja dari ingatannya. Semua nasehat- nasehat yang selalu dilantunkan, adalah bekal kehidupan yang selalu Hasan pegang. Peninggalan yang akan selalu tumbuh dalam hatinya.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen