CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Ibu, Aku Ingin Pergi, Tapi Aku Mengerti
IA

Ibu, Aku Ingin Pergi, Tapi Aku Mengerti

oleh putri oktaviani
CerpenGratis3 menit baca6 dibacaJFMM Participant

Ibuku pensiun sebagai guru PNS di salah satu sekolah dasar di Jakarta Selatan pada tahun 2023. Di tahun yang sama, aku juga terkena PHK. Saat itu, aku adalah satu-satunya anak yang masih tinggal di rumah karena belum menikah.

Aku pasti terpuruk. Tapi ternyata, ibuku justru terlihat lebih terpukul dan bersedih. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu. Mungkin ia memikirkan bagaimana nasib anaknya dan seperti apa masa depanku nanti.

Namun, tidak butuh waktu lama sampai akhirnya aku mendapatkan pekerjaan lagi. Aku percaya, salah satunya berkat doa ibu yang tidak pernah berhenti. Aku selalu percaya bahwa doa seorang ibu akan sampai ke langit ketujuh.

Setelah pensiun, kegiatan ibuku lebih banyak dihabiskan di rumah. Ia kembali menjalani kesehariannya sebagai seorang ibu: menyiapkan bekal, merapikan cucian, dan mengurus berbagai hal di rumah. Untuk urusan bersih-bersih, tentu saja kami membagi tugas.

Dulu, ibu pernah ingin memiliki rumah di Jawa Tengah. Katanya, ia ingin menghabiskan masa pensiunnya di Jawa. Tapi sampai akhirnya ia benar-benar pensiun, entah mengapa rencana itu tidak pernah terwujud. Setiap kali aku bertanya, ia selalu bilang tidak jadi. Ketika kutanya alasannya, ia pun tidak pernah benar-benar menjawab.

Tapi aku punya pemikiran sendiri.

Mungkin ibu merasa anak semata wayangnya ini belum cukup mahir mengurus dirinya sendiri. Mungkin ia berpikir aku belum benar-benar bisa mandiri. Ia takut aku kenapa-kenapa. Takut aku terlantar kalau ditinggal sendirian.

Padahal, anaknya ini sebenarnya ingin keluar dari hiruk-pikuk zona nyaman di rumah. Aku ingin pergi tanpa harus menentukan kapan harus kembali. Aku ingin menjalani hidupku sendiri. Aku ingin bisa berkegiatan di akhir pekan tanpa harus terlebih dahulu punya alasan untuk meminta izin.

Kini, tahun demi tahun, ibuku semakin menua. Cara berpikirnya pun tidak lagi secepat dan sesigap dulu ketika ia masih bekerja. Sebagai anak, aku harus belajar memiliki kesabaran yang jauh lebih besar dalam menghadapinya.

Semakin bertambah usia, terkadang ibu justru semakin seperti anak kecil. Ada kalanya ia mudah kesal, marah, atau mengalami tantrum yang luar biasa, meskipun terkadang aku sendiri tidak tahu apa penyebabnya.

Sekarang, mengurus cucu juga menjadi salah satu kegiatannya dari Senin sampai Jumat, ketika anak dan menantunya sibuk bekerja. Kadang aku melihatnya seperti dua anak kecil yang sedang berhadapan. Bedanya, hanya usia mereka yang terpaut jauh.

Capek? Pasti.

Namanya juga hidup.

Tapi di antara semua lelah, perubahan, dan perjalanan hidup yang kami jalani, ada satu pesan ibu yang selalu kuingat:

“Selalu minta berkahnya saja sama Tuhan.”

Apa pun aktivitas yang kita lakukan, apa pun rezeki yang kita terima, semoga semuanya selalu diberkahi Tuhan.

Mungkin, pada akhirnya, itulah doa yang paling sederhana sekaligus paling penting dalam hidup.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen