Bu Sari adalah seorang ibu sederhana yang membesarkan Dimas seorang diri setelah suaminya meninggal. Sejak kecil, Dimas menjadi alasan Bu Sari untuk terus bekerja. Ia berjualan, mencuci pakaian tetangga, dan menerima pekerjaan apa pun agar anaknya bisa sekolah.
Bu Sari tidak pernah meminta balasan.
“Yang penting kamu jadi orang baik, Nak. Ibu tidak perlu hidup mewah.”
Dimas tumbuh dewasa, mendapatkan pekerjaan, lalu menikah. Namun setelah mengenal kehidupan yang lebih nyaman, keinginannya semakin besar. Ia ingin memiliki rumah bagus, kendaraan, dan usaha sendiri.
Suatu hari, Dimas datang kepada ibunya.
“Bu, bagaimana kalau Ibu mengambil pinjaman pensiun dari bank? Uangnya kita pakai untuk modal usaha. Nanti Dimas yang bayar cicilannya.”
Bu Sari sebenarnya ragu. Ia takut uang pensiunnya habis untuk membayar utang. Namun karena percaya kepada anaknya, akhirnya ia menyetujui.
Uang pinjaman cair.
Sayangnya, usaha Dimas tidak berjalan seperti yang ia janjikan. Uang habis untuk membayar utang dan kebutuhan pribadi. Cicilan tetap berjalan.
Dimas kemudian mengincar rumah ibunya.
“Bu, rumah ini kalau dijual bisa jadi modal besar.”
“Tidak, Nak. Ini satu-satunya rumah Ibu.”
Dimas terus membujuk hingga akhirnya Bu Sari menyerahkan sertifikat rumah dengan keyakinan bahwa anaknya hanya ingin menggunakannya sebagai jaminan.
Namun ketika mengetahui rumah tersebut akan dijual, Bu Sari menolak.
Pertengkaran besar terjadi.
Dalam keadaan emosi, Dimas melakukan tindakan yang mencelakai ibunya. Bu Sari harus dirawat dan akhirnya kehilangan penglihatannya.
Saat melihat ibunya terbaring, Dimas mulai menyadari betapa besar kesalahannya.
“Maafkan Dimas, Bu.”
Bu Sari hanya berkata pelan,
“Yang paling menyakitkan bukan mata Ibu yang tidak bisa melihat. Tapi hati Ibu yang tidak pernah menyangka akan disakiti oleh anak sendiri.”
Setelah kejadian itu, kehidupan Dimas perlahan hancur.
Usahanya bangkrut.
Utangnya menumpuk.
Orang-orang yang dahulu mendekatinya mulai pergi.
Istrinya meninggalkannya.
Teman-temannya tidak lagi mengangkat telepon.
Dimas kehilangan pekerjaan dan terpaksa hidup sederhana. Rumah dan harta yang dulu ia kejar ternyata tidak memberinya kebahagiaan.
Setiap malam, ia teringat ibunya.
Ia teringat bagaimana Bu Sari dahulu bekerja hingga kelelahan demi membayar sekolahnya.
Ia teringat tangan ibunya yang selalu menyiapkan makanan.
Dan ia teringat kalimat sederhana:
“Yang penting kamu jadi orang baik.”
Untuk pertama kalinya, Dimas benar-benar menyesal.
Suatu sore, setelah sekian lama pergi, Dimas kembali ke rumah ibunya.
Ia berdiri lama di depan pintu.
Tangannya gemetar.
“Bu…”
Bu Sari mengenali suara itu.
“Dimas?”
Dimas berlutut di hadapan ibunya dan menangis.
“Maafkan Dimas, Bu. Dimas kehilangan semuanya karena terlalu mengejar harta.”
Bu Sari meraba wajah anaknya.
“Ibu mungkin tidak bisa melihatmu lagi, Nak. Tapi Ibu masih bisa merasakan bahwa kamu sedang menangis.”
Dimas memeluk ibunya.
“Aku ingin memperbaiki semuanya.”
Bu Sari terdiam.
“Masa lalu tidak bisa diperbaiki. Tapi kamu masih punya kesempatan untuk menjadi anak yang lebih baik.”
Sejak hari itu, Dimas mulai merawat ibunya. Ia mengantar ke rumah sakit, membantu pekerjaan sehari-hari, dan berusaha melunasi semua utang yang ditinggalkannya.
Ia tidak lagi mengejar rumah mewah atau kehidupan berlebihan.
Ia hanya ingin menghabiskan waktu bersama ibunya.
Dimas akhirnya memahami bahwa sertifikat rumah yang dulu dianggap sebagai jalan menuju kekayaan justru menjadi awal kehancurannya.
Harta bisa dicari kembali. Rumah bisa dibangun kembali. Tetapi kasih sayang dan kepercayaan seorang ibu adalah sesuatu yang tidak ternilai.
Dan bagi Dimas, penyesalan terbesar dalam hidupnya bukan karena kehilangan harta.
Melainkan karena hampir kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya tanpa pernah meminta apa pun sebagai balasan.
