Raka memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Tubuhnya membungkuk, matanya tajam menatap jalan yang hanya diterangi lampu-lampu kota.
“Gas, Raka! Jangan kasih kendor!”
Teriakan teman-temannya terdengar dari belakang.
Raka tersenyum miring.Ia memang seperti itu. Balapan liar, judi, mabuk, berkelahi, dan menghabiskan malam bersama teman-temannya sudah menjadi bagian dari hidupnya.
Nasihat ibunya? Ia anggap angin lalu. Bahkan tak jarang ia membentak perempuan yang telah melahirkannya itu.
“Raka, jangan pulang malam terus, Nak. Ibu khawatir.”
“Ah, Ibu ini cerewet banget!”
“Raka, ibu cuma takut kamu kenapa-kenapa.”
“Aku sudah besar, Bu! nggak perlu diatur!”
Kalimat itu sering sekali keluar dari mulutnya.
Dan setiap kali Raka membentak, ibunya hanya terdiam. Tidak pernah membalas.
Tidak pernah marah.
Perempuan itu hanya menatap punggung anak laki-lakinya yang pergi meninggalkan rumah.
Lalu berdoa.
“Ya Allah... jaga anakku. Suatu hari nanti, lembutkanlah hatinya.”
Malam itu Raka pulang menjelang subuh.
Matanya merah. Bau asap rokok melekat di pakaiannya. Ia membuka pintu rumah dengan kasar.
Namun langkahnya terhenti.
Ibunya sedang duduk di ruang tamu. Perempuan itu masih mengenakan mukena.
Di atas meja terdapat segelas air putih yang belum disentuh.
“Kamu baru pulang, Nak?”
Raka mendengus.
“Iya.”
“Sudah makan?”
“Nggak.”
“Ibu masakkan, ya?”
“Nggak usah.”
Raka hendak masuk kamar.
Namun suara ibunya membuat langkahnya berhenti.
“Raka...”
“Apa?” ketusnya
“Besok temani Ibu ke rumah sakit, ya?”
Raka menghela napas panjang.
“Besok aku ada acara.”
“Cuma sebentar.”
“Ibu pergi sendiri saja.”
Wajah perempuan itu langsung berubah sendu.
Namun ia tetap tersenyum.
“Ya sudah kalau begitu.”
Raka masuk ke kamarnya tanpa menoleh.
Ia tidak tahu...malam itu adalah salah satu malam terakhir ia mendengar suara ibunya.
Pagi harinya, Raka masih tertidur ketika terdengar suara benda jatuh dari dapur.
BRAK!
Ia terbangun.
“Bu?”
Tidak ada jawaban. Raka keluar kamar dan menemukan ibunya tergeletak di lantai.
“Ibu!”
Untuk pertama kalinya, wajah Raka benar-benar panik.
Ia berlari menghampiri. Tubuh ibunya terasa begitu lemah.
“Bu! Bangun, Bu!"
Tangannya gemetar ketika menghubungi ambulans.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Raka takut kehilangan seseorang.
Seseorang yang selama ini justru paling sering ia sakiti dengan kata-katanya.
Rumah sakit terasa begitu dingin.
Raka duduk di depan ruang ICU dengan pakaian yang masih sama seperti semalam. Tangannya terus menggenggam erat.
Sudah beberapa jam dokter belum keluar.
Hingga akhirnya pintu ICU terbuka.
Seorang dokter menghampirinya.
“Kamu anak pasien bernama Bu Siti?”
Raka berdiri.
“Iya, Dok. Bagaimana ibu saya?”
Dokter menarik napas panjang.
“Kondisi ibu kamu sangat kritis.”
Dunia Raka seakan runtuh.
“Bisa disembuhkan, Dok?”
“Kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tapi kamu harus siap dengan segala kemungkinan.”
Raka terdiam.
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Dok... saya boleh masuk?”
Dokter mengangguk.
Di dalam ruang ICU, Raka melihat ibunya terbaring dengan berbagai alat medis.
Perempuan yang selama ini selalu kuat itu kini tampak begitu rapuh.
Raka mendekati ranjang.
“Ibu...”
Kelopak mata perempuan itu bergerak perlahan. Kemudian terbuka.
“Raka?”
“Iya, Bu.”
Tangannya langsung menggenggam tangan ibunya yang dingin. Raka menundukkan kepala.
“Maafin Raka, Bu.”
Ibunya tersenyum lemah.
“Kenapa minta maaf?”
“Karena Raka jahat sama Ibu.”
Air mata Raka jatuh.
“Raka nggak pernah dengar kata-kata Ibu. Raka sering membentak Ibu. Raka bikin Ibu sedih.”
Ibunya mengusap tangannya dengan lemah.
“Anak Ibu...”
“Maafin Raka ya, Bu,” pintanya sekali lagi.
“Ibu sudah memaafkanmu sejak lama.”
Kalimat itu justru membuat tangis Raka semakin pecah.
“Ibu selalu mendoakan Raka,” ucap wanita itu dengan suara yang lemah.
Raka menggenggam tangan ibunya semakin erat.
“Bu…ibu harus sembuh.”
Ibunya tersenyum.
“Ibu tidak tahu kapan Allah akan memanggil Ibu.”
“Jangan ngomong begitu, Bu.”
“Tapi Ibu punya satu permintaan.”
Raka mengangguk cepat.
“Apa pun permintaan ibu, Raka akan lakukan.”
“Bertobatlah, Nak.”
Raka terdiam.
“Berhentilah melakukan semua hal yang selama ini menghancurkan hidupmu.”
Ibunya menarik napas.
“Berhentilah berjudi. Jangan lagi balapan liar. Jangan berkelahi. Tinggalkan teman-teman yang membawa kamu kepada keburukan.”
Air mata Raka terus mengalir.
“Dan mulai dekatlah dengan Allah.”
Raka menundukkan kepala.
“Raka janji, Bu.”
“Benarkah?” tanya ibunya.
“Iya, Bu. Raka janji.”
“Jangan hanya karena Ibu sedang sakit.”
Raka menggeleng.
“Bukan, Bu. Raka akan berubah.”
Ia mencium tangan ibunya.
“Mulai hari ini dan seterusnya.”
Ibunya tersenyum.
“Itu sudah cukup untuk Ibu.”
Malam itu Raka duduk di samping ranjang ibunya. Ia tidak pergi ke mana-mana. Tidak bertemu teman-temannya. Tidak menyentuh motor balapnya.
Tidak bermain judi.
Untuk pertama kalinya, ia melaksanakan sholat lima waktu dan membaca Al-Qur'an.
Saat ia membaca Al-Quran air matanya jatuh membasahi halaman.
“Ya Allah...”
Raka menutup wajahnya.
“Kalau selama ini aku terlalu jauh dari-Mu, tolong beri aku kesempatan untuk berubah.”
Beberapa hari kemudian...Kondisi ibunya semakin memburuk.
Raka tetap berada di sampingnya.
Ia tidak pernah meninggalkan sholat.
Setiap selesai sholat, ia berdoa.
“Ya Allah, kalau masih boleh, berikan aku kesempatan membahagiakan Ibu.”
Namun takdir berkata lain. Pagi hari… detak jantung di layar monitor mulai melemah.
Dokter dan perawat segera memberikan penanganan khusus. Tapi, kondisi ibunya tak berubah hingga seorang perawat memanggil Raka untuk masuk ke ruang ICU.
Raka yang berada di luar ruangan langsung berdiri.
“Ibu!”
Di dalam ruangan ibunya sudah tidak bisa berkata-kata. Ia hanya menggerakkan jarinya saat mendengar suara Raka yang memanggilnya.
Raka tau mungkin usia ibunya tidak akan lama lagi. Dengan airmata yang tak berhenti mengalir Raka membimbing ibunya untuk mengucapkan kalimat tauhid.
Terlihat mulut ibunya bergerak mengikuti Raka yang mengucapkan kalimat tauhid.
Dan setelah itu ibunya menghembuskan nafas terakhir dengan tenang. Raka panik saat melihat ibunya tak lagi bergerak. Dan layar monitor yang menunjukkan garis lurus.
Dokter dan perawat yang melihat itupun langsung memeriksa kondisi ibunya. Setelah itu dokter menggeleng sambil berkata.
“Maafkan kami, Mas. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkehendak lain.”
Raka tidak mampu berkata apa-apa.
Tubuhnya melemas.Ia jatuh terduduk di lantai.
“Ibu...”
Tangisnya pecah.
“Ibu... Raka belum sempat membahagiakan Ibu.”
Ia menutup wajahnya. Namun di antara kesedihan itu, Raka teringat satu hal.
Janji.
Ya, janji yang ia ucapkan di samping ranjang ibunya.
“Raka janji, Bu.”
Ia mengusap air matanya.
“Raka akan tetap berubah.”
Beberapa bulan berlalu. Raka bukan lagi pemuda yang dulu.
Ia meninggalkan dunia hitamnya. Kini ia sudah bekerja dengan giat. Bahkan sebagian gajinya sering ia sisihkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Termasuk menyantuni anak-anak yatim dan kaum dhuafa.
Ia juga tidak pernah lagi mencari masalah.
Setiap pagi, ia pergi ke masjid.
Setiap malam, ia membaca Al-Qur'an.
Orang-orang yang dahulu mengenalnya sebagai pemuda bengal kini hampir tidak percaya melihat perubahan itu.
“Raka? Kamu benar-benar berubah,” ucap salah satu warga di sana.
Raka hanya tersenyum.
Suatu sore, Raka datang ke makam ibunya.
Ia membawa bunga dan berjongkok di samping pusara.
“Bu...”
Suaranya bergetar.
“Raka sudah menepati janji.”
Ia tersenyum sambil menahan air mata.
“Raka sekarang sudah nggak berjudi.”
“Sudah nggak balapan liar.”
“Sudah nggak berkelahi.”
“Raka juga sudah belajar menjadi anak yang baik.”
Ia menundukkan kepala.
“Raka tahu Ibu mungkin nggak bisa melihat perubahan Raka dengan mata.”
“Tapi Raka percaya...”
Air matanya jatuh.
“Ibu pasti melihatnya dari tempat yang paling indah.”
Raka mengusap batu nisan itu.
“Terima kasih karena tidak pernah menyerah mendoakan Raka.”
Ia tersenyum.
“Ini hadiah terindah Raka untuk Ibu. Bukan uang, bukan rumah, bukan kemewahan.Tapi seorang anak yang akhirnya kembali kepada Allah. Semoga hadiah ini bisa membuat ibu bahagia di sana.”

