Rumah mereka kecil, dua kamar, satu kipas angin yang baling-balingnya udah agak oleng kalau muter kencang. Zoya hafal setiap bunyi di rumah itu bunyi kompor gas yang harus dipencet dua kali baru nyala, bunyi sandal jepit Bu Zeliha yang terseret di lantai tiap subuh mau ke pasar, bunyi Ponsel butut yang notifikasinya kadang telat masuk sampai sejam. Dan satu bunyi lagi yang cuma Zoya yang tahu artinya: bunyi Bu Zeliha diam sebentar sebelum ngomong, semacam napas ketahan, tiap kali ditanya soal uang.
"Mah, aku belum bayar trip. Yang lain udah pada lunas."
Bu Zeliha lagi ngiris bawang, gak nengok. "Berapa sih itu, Sayang?"
"Satu juta delapan ratus,Mah. Ke Bukittinggi, tiga hari dua malam."
Diam. Cuma suara pisau kena talenan.
"Coba Mamah tanya dulu ke Bu RT, ada kas arisan kali masih bisa dipinjem."
Zoya udah apal jawaban kayak gini. Bukan jawaban, tapi cara ngulur. Ia naik darah bukan karena duitnya doang tapi karena rasanya kayak tiap kali ia butuh sesuatu, ibunya selalu punya seribu satu alasan buat nunda, sementara ibu-ibu lain di grup WA kelas udah pamer struk transfer dari jam tujuh pagi.
"Udah, Mah, gak usah. Aku bilang aja ke wali kelas aku gak ikut. Lagian bukan hal penting-penting amat."
Itu bohong, dan Bu Zeliha tahu itu bohong, sama kayak Zoya tahu ibunya sering bohong soal makan. Tapi dua-duanya sama-sama diem-diem aja, karena rumah itu udah lama jalan pakai aturan gak tertulis: kalau ada yang nyakitin, mendingan dipendem daripada dibahas panjang-panjang.
Malam itu Zoya tidur duluan tanpa pamit. Bukan hal besar. Tapi buat mereka berdua, itu jarang kejadian.
Paginya ada amplop cokelat di atas meja, disandarin ke botol kecap biar gak kepeleset jatuh. Zoya buka, isinya persis satu juta delapan ratus, campuran lima puluhan ribu yang agak lecek kayak baru diambil dari mesin ATM dan beberapa lembar dua puluh ribuan yang keliatan udah lama disimpen di dompet.
Ia gak nanya dari mana. Kadang orang lebih milih gak tahu jawabannya, karena takut jawabannya bikin nyesek.
Tiga hari di Bukittinggi, Zoya sibuk fotoin Jam Gadang, ngevlog di Ngarai Sianok, ketawa-ketawa sama teman sekelompok yang orang tuanya kerja kantoran dan gampang aja transfer uang jajan tambahan pas anaknya bilang kepengen jajan random. Ia gak kepikiran sama sekali soal ibunya di rumah, sendirian, sampai pulang dan lihat cincin di jari manis Bu Zeliha udah gak ada.
"Cincin Mamah ke mana?"
"Oh. Hilang kali, Nak. Udah lama juga longgar itu."
Zoya percaya aja. Lagian cincin itu murah juga, bukan emas, cuma perak yang udah mulai pudar warnanya. Ia gak nyangka kalau "Hilang" itu artinya dijual ke toko emas ujung gang, sama Bapak toko yang katanya nawar rendah banget karena bukan emas asli, cuma dapat separuh dari yang Bu Zeliha harapkan.
Yang bikin semuanya kebongkar bukan pengakuan. Malah lebih menyebalkan dari itu: gula darah.
Tiga hari setelah Zoya balik dari Bukittinggi, Pak Zaki tetangga sebelah gedor pintu subuh-subuh, teriak manggil Zoya karena denger suara benda jatuh dari dapur. Bu Zeliha ditemukan rebah di lantai, wajan masih di atas kompor, tempenya udah gosong sampai berasap.
Di IGD, angka di layar monitor nunjukin 42. Dokter mudanya, yang keliatan capek abis jaga semalaman, ngomong sambil nulis di rekam medis, gak sempet nengok Zoya. "Ini bukan drop biasa, Dek. Ini kayak orangnya emang jarang makan porsi penuh. Udah berapa lama?"
Zoya gak jawab. Bukan karena gak tau, tapi karena baru sadar dia emang gak pernah beneran merhatiin. Berapa kali dia liat piring ibunya kosong pas makan malam dan cuma mikir, "oh Mamah diet kali." Berapa kali dia denger alasan "Mamah udah makan tadi" dan langsung percaya gitu aja, soalnya lebih gampang percaya daripada nanya lebih jauh.
Sambil nungguin di lorong, Zoya iseng buka-buka tas kerja ibunya buat cari KTP, siapa tau perlu buat administrasi rumah sakit. Yang ketemu malah map plastik bening, agak kusut di pinggirnya, isinya print-out email yang kertasnya udah mulai menguning kena panas tas.
Judulnya: Pengumuman Pemenang Lomba Cerpen Nasional Kategori Pelajar Naskah "Rumah yang Menunggu Pulang", atas nama Zoya Al Karim.
Zoya baca judul itu dua kali karena gak ngerti. Dia gak pernah daftar lomba apa-apa. Tapi pas dia buka lampirannya dan mulai baca isinya, ada sesuatu yang familiar bukan familiar kayak déjà vu, tapi familiar kayak baca tulisan sendiri. Karena emang itu tulisannya sendiri. Tugas Bahasa Indonesia kelas 4 SD, yang dulu dia buang ke tong sampah kelas gara-gara cuma dapet nilai 78 dan Bu Guru bilang "ceritanya kurang rapi alurnya."
Ternyata Bu Zeliha mungutin kertas itu dari tong sampah pas hari penerimaan rapor, tahun itu juga. Menyimpannya di map, disimpan di lemari paling bawah, selama lebih dari sepuluh tahun. Terus entah kapan Zoya gak tau persisnya kapan diketik ulang, dikirim ke lomba nasional, atas nama Zoya, karena emang syaratnya harus pake nama penulis asli.
Di balik map itu ada kertas lain, ditulis tangan, agak miring-miring kayak ditulis buru-buru:
"Zoya, kalo kamu baca ini, berarti Mamah belum sempet cerita langsung. Mamah gak makan siang beberapa minggu ini bukan karena diet, tapi biar bisa nutup ongkos ngeprint sama kirim naskah ke kantor pos, soalnya lombanya harus dikirim fisik, gak bisa online. Uang di amplop itu bukan uang Mamah, itu emang uangmu, hasil menang lomba, Mamah cuma bantu ngurusin administrasinya aja. Mamah sengaja gak bilang dari awal karena pengen kamu tau dulu dari orang lain dari juri lomba itu kalau tulisanmu emang bagus. Baru kalo kamu udah percaya sendiri, Mamah juga mau bilang Mamah selalu percaya sama kamu, dari sepuluh tahun lalu, waktu kamu masih kelas 4 dan nangis gara-gara nilai jelek. Cincin bukan hilang, Mamah titip ke toko emas, bisa ditebus lagi kalo ada rejeki lain. Maaf sayang, Mamah gak sempet cerita ini ke kamu pelan-pelan."
Zoya duduk di lantai lorong rumah sakit, punggung nyender ke dinding yang dingin, map plastik itu masih di pangkuannya. Dia inget banget momen nangis di kelas 4 itu gimana dia sempet mikir nulis itu buang-buang waktu, karena nilainya jelek. Dia gak pernah nyangka ada orang yang nyimpen kegagalan kecilnya itu selama sepuluh tahun, nunggu waktu yang tepat buat nunjukin ke dia sendiri bahwa dia salah soal dirinya.
Dia gak langsung nangis. Butuh beberapa menit sebelum akhirnya kepalanya nunduk dan bahu dia mulai gemeter, pelan, kayak nahan sesuatu yang udah kelamaan ditahan.
Bu Zeliha sadar sekitar jam sembilan pagi. Zoya masuk begitu perawat ngasih izin, langsung genggam tangan ibunya yang masih ada plester infus, kulitnya dingin.
"Mahh. Aku baca suratnya."
Bu Zeliha ngangguk pelan, belum kuat ngomong banyak. "Kamu marah?"
"Enggak, Mah." Zoya diem sebentar, nyari kata yang pas. "Aku cuma nyesel kenapa baru tau sekarang. Kenapa Mamah gak certain ini ke aku aja dari dulu."
"Soalnya kalo Mamah certain dari dulu, kamu bakal mikir kamu menang gara-gara Mamah yang daftarin. Mamah pengen kamu tau, kamu emang bisa nulis bagus, dari diri kamu sendiri, bukan gara-gara Mamah."
Zoya ketawa kecil, campur nangis, suaranya berantakan. Seperti Anak kecil merengek "Ribet banget sih jadi Mamah."
"Iya soalnya jadi Mamah emang ribet, Sayang."
Mereka gak lanjut ngobrol banyak setelah itu. Bu Zeliha ketiduran lagi kena obat penenang, dan Zoya duduk di sampingnya tangan sebelah kanan sambil pegang tangan mamahnya dan mencium tangan Mamahnya, sementara tangan sebelah kiri sambil megangin map plastik yang isinya bukan cuma bukti kemenangan lomba, tapi Bukti bahwa ada seseorang yang percaya penuh kepada nya bahkan lebih lama daripada dia percaya dengan dirinya sendiri.
dan gak pernah sekalipun minta dibilang Makasih untuk itu semua.
Terimakasih untuk semua para ibu yang sangat mencintai dan menyayangi anaknya dengan cara-cara yang tidak kita ketahui namun berdampak besar untuk setiap anak.

