CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Emak yang Kusembunyikan
EY

Emak yang Kusembunyikan

oleh Anna Asa'ari
CerpenGratis8 menit baca3 dibacaJFMM Participant


Ada kehilangan yang datang dengan suara tangis. Ada pula yang menyelinap perlahan-lahan, seperti petang yang kehilangan matahari. Tidak terdengar apa-apa, tetapi tahu-tahu hari telah gelap, dan kita baru sadar bahwa sesuatu yang amat kita perlukan telah pergi.

Begitulah selepas Emak tiada.

Rumah itu masih rumah yang sama. Pintu dapur masih menghadap halaman belakang. Kulkas berdiri di tempatnya. Cobek dan ulekan tersimpan di sudut dapur. Tali jemuran terbentang di belakang rumah. Namun bagiku rumah itu seperti kehilangan napas.

Aku berdiri di halaman, memandang tali jemuran yang kosong. Dulu, hampir saban hari, ada daster Emak bergoyang ditiup angin. Ada baju-baju yang baru dicuci, sarung, handuk, pakaian cucu-cucunya.

Sekarang angin hanya sekadar lewat. Tak ada kain yang menyambutnya.

Aku masuk ke dapur. Mataku mencari-cari sesuatu yang tidak mungkin kutemukan lagi. Aku sedang mencari suara. Suara Emak yang dahulu keras. Suara yang dulu sering membuatku malu. Kini, suara itulah yang paling ingin kudengar.

Emak berpulang pada 3 Februari 2026. Sejak hari itu, aku baru tahu bahwa rumah dapat menjadi begitu sunyi meskipun di dalamnya masih ada manusia.

Adikku masih tinggal di sana bersama keluarganya. Anak-anaknya masih bermain. Piring masih dicuci. Nasi masih ditanak. Air masih mengalir dari keran. Tetapi ada satu suara yang membuat semuanya berbeda.

Suara Emak sudah tiada lagi.

---

Aku pernah menyembunyikan Emak dari dunia. Kalimat itu berat untuk dituliskan. Namun bukankah mengenang seseorang berarti berani menyentuh kembali bagian-bagian diri kita yang paling ingin dilupakan?

Ketika aku masih SMP, aku tidak suka Emak datang ke sekolah. Aku tidak mau diantar. Tidak mau dijemput. Apalagi sampai Emak mengambil rapor.

Kalau ada teman yang bertanya tentang ibuku, aku lebih suka mengalihkan pembicaraan. Bukan karena Emak jahat. Bukan pula karena ia tidak menyayangiku.

Justru kasih sayangnya terlalu banyak. Hanya saja, ketika itu aku masih terlalu muda untuk memahami bahwa kasih sayang tidak selalu datang dalam bentuk yang elok dipandang mata.

Emak hanya bersekolah sampai kelas dua sekolah dasar. Ia tidak pandai membaca. Pendengarannya kurang baik sehingga kalau berbicara mesti keras. Tubuhnya pun kecil. Tingginya kira-kira seratus tiga puluh sentimeter.

Aku melihat semua itu dan aku malu. Malu bukan kepada Mak sebenarnya. Aku malu kepada pandangan orang. Aku takut teman-temanku melihatnya. Takut mereka memperhatikan tubuhnya yang pendek, suaranya yang keras, pakaiannya yang sederhana.

Aku takut menjadi bahan pembicaraan. Maka Emak kusuruh tetap di rumah. Aku tidak tahu apakah ia mengerti. Aku tidak tahu apakah hatinya pernah terluka. Ia tidak pernah bertanya. Tidak pernah berkata, “Mengapa kau malu kepada Mak?”

Ia diam. Barangkali seorang ibu memang begitu. Ada luka yang disimpannya sendiri agar anaknya tetap merasa baik-baik saja.

---

Pernah seorang saudara jauh melontarkan gurauan yang sampai hari ini masih terngiang di telingaku.

“Nyai pendek.”

Begitu ia menyebut Emak. Mungkin baginya hanya kelakar. Mungkin ia tidak berniat melukai siapa-siapa. Tetapi saat itu darahku terasa mendidih.

Aku menoleh.

“Mak punya nama.”

Ia terdiam.

“Namanya bukan Nyai Pendek.”

Sesudah itu tak ada yang bicara. Emak tidak berada di sana. Ia tidak mendengar. Aku pun tidak pernah menceritakannya.

Aneh benar hati manusia. Aku malu apabila orang melihat Emak. Tetapi aku marah ketika orang merendahkannya. Barangkali jauh di dasar hatiku, aku sudah tahu bahwa perempuan itu begitu berharga. Hanya saja aku belum pandai mengakuinya.

---

Ada satu jalan tanah merah yang sampai sekarang masih dapat kulihat dengan mata terpejam. Jalan menuju simpang angkot.

Ketika aku SMA, jalan itu belum beraspal. Jika kemarau, debunya melekat di kaki. Jika hujan, tanah liatnya berubah menjadi licin dan becek.

Aku memakai kaus kaki panjang sampai ke bawah lutut. Sepatu sekolah tentu tidak mungkin kupakai melewati jalan semacam itu. Maka dari rumah aku mengenakan sandal. Sepatuku dibawa Emak.

Aku masih ingat kantong plastik bening itu. Sepasang kaos kaki dan sepatu sekolah dimasukkan ke dalamnya, kemudian dipeluk Emak di depan dada.

Kami berjalan beriringan. Kira-kira sepuluh menit.

“Hati-hati licin.”

Aku memperlambat langkah.

“Jangan terlalu ke pinggir.”

Aku bergeser.

“Hati-hati jatuh.”

Kalimat-kalimat itu dahulu terdengar biasa. Kini, justru kalimat itulah yang datang kepadaku ketika aku merindukan Emak. Emak tidak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku dengan kata-kata yang indah. Ia hanya memastikan aku tidak jatuh.

Setelah sampai di ujung jalan, aspal menyambut kami. Aku mengambil sepatu dari tangannya. Kuganti sandal dengan sepatu sekolah. Bersih. Tidak terkena lumpur.

Kemudian aku naik angkot. Emak pulang seorang diri.

Dahulu aku tidak pernah memikirkan perjalanan pulangnya. Tidak pernah membayangkan sandal kecil itu menapaki jalan yang sama. Tidak pernah bertanya apakah ia lelah. Aku hanya memikirkan sepatu sekolahku.

Kini, setiap kali mengingat pagi itu, yang kulihat bukan lagi sepasang sepatu. Aku melihat dua tangan kecil yang mendekapnya. Aku melihat seorang perempuan yang berjalan dalam lumpur demi memastikan anaknya tiba di sekolah dengan sepatu yang tetap bersih.

Betapa banyak cinta yang dahulu tidak dapat kulihat.

---

Emak juga punya satu perkara kecil yang selalu dilakukannya setiap kali aku hendak ulangan. Teh telur.

Telur ayam kampung dikocok bersama gula. Kemudian dituangi air mendidih dan diberi teh. Sederhana benar. Emak percaya minuman itu membuatku kuat, mudah menghafal dan pintar.

Aku tidak pernah membantah. Kuminum sampai habis. Sampai sekarang, bagiku teh telur buatan Emak adalah yang paling sedap di dunia.

Padahal aku tahu resepnya. Telur masih dapat kubeli. Gula masih mudah dicari. Teh ada di dapur. Air tinggal dimasak. Tetapi ada satu bahan yang sudah tidak mungkin kutambahkan. Tangan Emak.

Mungkin itu sebabnya setiap kali mencium aroma telur dan teh yang baru diseduh, ada sesuatu yang bergerak perlahan di dalam dada.

Aku tidak sedang mengingat minuman. Aku sedang mengingat seorang perempuan yang berdiri di dapur, mengocok telur dengan gula, lalu menyodorkan segelas minuman kepadaku.

“Habiskan.”

Satu kata. Sesederhana itu. Namun sekarang, aku sanggup memberikan apa saja untuk mendengarnya lagi.

---

Emak suka bercerita. Masalahnya, cerita Emak selalu berputar di tempat yang sama. Cerita yang sudah kudengar akan kembali diceritakan.

Aku hafal awalnya. Hafal bagian tengahnya. Bahkan tahu bagaimana akhirnya. Dahulu aku sering jemu.

“Mak, sudah. Cerita yang lainlah.”

Kadang aku menyuruhnya diam.

Kini, aku ingin sekali duduk di sampingnya dan mendengar cerita yang sama sampai malam. Biar seratus kali. Biar seribu kali. Aku tidak akan memotong. Aku akan mendengarkan sampai Emak sendiri lupa bahwa cerita itu pernah diceritakannya. Bahkan suara bersinnya pun kurindukan.

Dahulu suara itu lewat begitu saja di telingaku. Sekarang, sunyi membuatku sadar betapa berharganya bunyi-bunyi yang pernah kuanggap remeh.

Begitulah manusia. Kita sering baru tahu harga sebuah suara setelah ia berubah menjadi kenangan.

---

Aku menikah pada 2006. Tahun 2013, aku meninggalkan rumah dan ikut suami ke Jakarta. Emak tetap tinggal bersama adikku.

Aku pikir aku akan selalu dapat pulang. Aku pikir rumah itu akan tetap menjadi tempat yang dapat kudatangi kapan saja. Aku pikir Emak akan selalu duduk di sana, membuka-tutup kulkas, mencuci pakaian, mengulek cabai, mengomel ketika ayam tetangga masuk dapur. Aku pikir waktu akan memberi kesempatan.

Ternyata tidak. Emak pergi lebih dahulu. Sejak itu, rumah yang dahulu ingin kutinggalkan terasa seperti tempat yang paling ingin kudatangi.

Aku baru mengerti sebuah perkara yang amat sederhana: rumah bukanlah tempat, rumah adalah seseorang.

Bagi aku, seseorang itu adalah Emak.

---

Kini bila aku datang ke sana, langkahku terasa lebih perlahan. Aku melewati halaman belakang. Tali jemuran itu sunyi. Aku masuk ke dapur. Cobek dan ulekan hanya menjadi benda. Aku melewati kamar mandi. Tak terdengar lagi suara air.

Sesekali pintu kulkas terbuka, tetapi bukan tangan Emak yang membukanya. Setiap kali ayam tetangga melintas di halaman, aku hampir menunggu suara gerutu dari dalam rumah. Namun yang datang hanya diam.

Aku pernah malu mempunyai Emak. Kini aku malu kepada diriku sendiri. Betapa dulu aku melihat tubuhnya yang pendek, tetapi tidak melihat perjalanan panjang yang telah ditempuhnya untuk membesarkan kami.

Aku melihat pendidikannya yang hanya sampai kelas dua, tetapi tidak melihat bagaimana perempuan yang tidak pandai membaca itu mengajarkanku membaca hidup.

Aku mendengar suaranya yang keras, tetapi tidak memahami bahwa dari suara itulah aku belajar mendengar perhatian.

Aku melihat seorang ibu yang sederhana. Padahal ia sedang memberikan seluruh hidupnya dengan cara yang ia tahu.

Emak tidak pernah memintaku membalas apa-apa. Tidak pernah meminta aku membanggakannya. Tidak pernah meminta namanya disebut di depan orang banyak. Sekarang, setelah ia tiada, justru aku yang ingin memperkenalkannya kepada dunia.

Ini Emak.

Perempuan kecil yang pernah kusembunyikan. Perempuan yang tidak pandai membaca, tetapi pandai sekali menjaga anaknya agar tidak jatuh. Perempuan yang tidak banyak kata manis, tetapi tangannya selalu bekerja untuk kami. Perempuan yang suaranya dahulu membuatku malu, tetapi kini menjadi suara yang paling ingin kudengar. Perempuan yang dahulu ingin kujauhkan dari pandangan orang, tetapi kini ingin kutulis namanya dengan tinta yang tidak lekang.

Emak.

Maafkan aku. Dahulu aku terlalu sibuk memandangmu melalui mata orang lain. Kini aku belajar melihatmu dengan mataku sendiri. Ternyata, Emak tidak pernah sekecil yang kukira. Akulah yang terlalu kecil untuk memahami besarnya cintamu.

Andai suatu pagi nanti aku dapat kembali ke jalan tanah merah itu, aku tidak akan membiarkan Emak berjalan di sampingku sambil mendekap sepatu dalam kantong plastik bening.

Kali ini aku akan menggenggam tangannya. Aku akan berjalan lebih perlahan. Aku akan membiarkan Emak mengingatkanku berkali-kali.

“Hati-hati licin.”

Aku akan menjawab, “Iya, Mak.”

Lalu sebelum sampai ke ujung jalan, mungkin untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku akan berhenti. Kupeluk perempuan kecil itu dari belakang. Kudekap seerat-eratnya.

Sebab kini aku tahu, suatu hari nanti jalan itu akan kehilangan langkahnya. Suatu hari nanti rumah akan kehilangan suaranya. Dan seorang anak akan berdiri sendirian di dapur, menunggu suara yang tidak akan pernah menjawab lagi.

Emak yang dahulu kusembunyikan dari dunia, ternyata adalah seseorang yang ingin kuperkenalkan kepada seluruh dunia setelah ia tiada.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen