Emak. Emakku bernama Hagya Sofia. Emak-ku sebenarnya lebih cocok dipanggil Mami. Teman-temannya ada yang memanggilnya Mami Sofi karena bahasa inggrisnya lancar seperti jalan tol. Maklum tujuh tahun lebih jadi TKW, dari sebelum menikah sudah pernah pengalaman di luar negeri. Tiap ada tamu di toko oleh-oleh lancar betul diajak ngobrol sama Emak.
Emak bisa bernyanyi lagu barat dari band atau penyanyi luar manapun tanpa teks lirik. Semua ia hapal di luar kepala. Lihatlah seleranya mulai dari Guns n Rose sampai lagu Viking yang bikin aku sakit kepala, justru jadi lagu setelan wajib Emak bersih-bersih dan nyetrika di rumah. Aku pernah ditertawakan orang karena namaku Axl tapi aku tak tau Guns n Rose itu apa, seleraku malah lagu-lagu koplo, walaupun setelah itu aku cari tahu dan paham kalau Axl itu paling ganteng, pantes emakku pake namanya untuk namaku.
"Emakmu ini sudah bikin namamu dari jaman dia SMA," kata salah satu Om teman emak, waktu itu aku baru umur sembilan atau sepuluh tahun. Sekarang baru aku paham artinya.
Emak memang lebih cocok jadi Mami. Dia cantik sekali. Apalagi waktu kerja di salon. Tiap hari rambutnya ganti warna, ganti model. Hari ini ungu, besok hijau. Hari ini ikal, besok lurus lepek lalat pun kepeleset. Emak yang kulitnya putih dan wajahnya kecil cantiknya kebangetan. Orang salon mana ada yang tidak cantik ya?
Belum lagi kesukaannya 'ngafe' dengan teman-teman sosialitanya. Emak paling suka caffee latte, pahit tapi enak katanya. Aku sendiri terlalu bebal tak bisa menikmati minuman kebarat-baratan.
"Bodoh, mana ada?" kata Emak, kalau aku minta kopi tubruk saja.
Kata emakku, kopi hitam di cafe harganya justru dua kali lipat dari kopi yang dipesannya. Espresso atau Americano ... Semacam itulah namanya.
Emakku mungkin lebih cocok dipanggil Mama. Teman kerja terutama bawahan memanggilnya Mama Sofia. Dandannya memang sering tomboy tapi lihat kecerdasannya, semacam CEO wanita di drama China. Soal pekerjaan tidak ada tandingannya. Kerjanya terlihat keren kemana-mana selalu gaul dengan pejabat. Minimal pejabat tingkat desa sampai kabupaten semua teman Emak. Sekali sebulan ada saja urusannya emakku ke luar kota. Semarang, Yogyakarta, Jakarta. Naik pesawat sudah biasa. Aku saja naik pesawat hanya satu kali ke Singapura, itu juga waktu umur tujuh apa delapan tahun diajak emakku karena anaknya yang disana pelantikan jadi polisi
Emakku mungkin lebih cocok dipanggil Ibu. Sepuluh tahun lalu, beliau sakit gagal ginjal dan harus cuci darah setiap senin-kamis. Aku heran dengan emakku ini, dibilang sakit dia sehat, dibilang sehat dia sakit. Di rumah sakit dia dipanggil Ibu Hagya Sofia.
Walau hidupnya tergantung mesin cuci darah, dia tetap aktivitas normal seperti biasa. Sehari-hari masih bekerja. Sekali-sekali masih suka plesir dengan teman-temannya katanya untuk stok photo. Masih juga suka nongkrong di kafe. Mana ada yang percaya dia pasien stadium lima.
Hanya aku.
Aku saja yang tahu kalau emak ngedrop. Aku yang tahu keluhan emak yang tidak dia bilang. Aku yang bersabar dengan omelan Emak kalau emosinya sedang tidak terkendali. Aku yang paling tahu betapa hebat dan kuatnya emakku berjuang dengan jarum Fistula.
Emak tetap seorang ibunda terbaik bagiku. Walaupun di dunia dia adalah superwoman. Bagiku dia tetap emak yang melahirkanku, mengasuhku, membesarkanku.
Hobinya masak walau jarang masak karena orangnya sibuk. Padahal masakannya adalah makanan terenak di dunia bagiku.
Emakku adalah mami, mama, ibu dan bunda yang luar biasa tiada duanya.
