CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Dua Anak Bungsu
Dua Anak Bungsu

Dua Anak Bungsu

oleh Wangi Gitaswara
CerpenGratis5 menit baca21 dibacaJFMM Participant

Di rumah kami, suara pintu adalah bahasa pertama yang kupelajari.

Satu kali dibanting berarti Ayah marah.

Dua kali dibanting berarti Ibu akan menangis.

Kalau setelah itu terdengar langkah kaki yang cepat, aku akan menangis dan bersembunyi di balik selimut sampai napasku sesak.

Aku tidak pernah tahu harus membela siapa. Itulah masalahnya.

Kalau Ayah marah karena Ibu terlalu banyak bicara, aku membenci Ibu.

Kalau Ibu menangis karena Ayah terlalu banyak mengumpat, aku membenci Ayah.

Lalu pagi datang, dan mereka tetap menjadi orang tuaku.

Aku anak kedua dari dua bersaudara.

Anak bungsu. Sama halnya dengan Ibu . Ia punya lima orang kakak yang sangat jarang ditemuinya.

———

Aku tidak tahu kapan tepatnya Ibu mulai sakit.

Mungkin sejak sebelum aku lahir. Mungkin sejak sebelum ia menikah.

Yang kutahu, penyakit itu datang seperti cuaca. Tidak bisa dihentikan, hanya bisa dibaca tanda-tandanya.

Ada masa ketika Ibu hampir tidak tidur.

Ia bangun sebelum matahari, membuka semua jendela, mencuci pakaian, memasak tiga macam makanan, lalu membagikannya ke seluruh tetangga hingga tak tersisa lauk di meja. Ia berbicara cepat tentang membuka toko, pindah rumah, mengajak kami pergi ke luar kota.

Matanya terlihat sangat terang.

Aku justru takut ketika Ibu terlihat bahagia seperti itu. Sebab setelahnya sering datang hari-hari ketika cahaya itu padam.

Ibu bisa berbaring sepanjang hari, tidak mandi, tidak makan, dan menolak membuka tirai.

Pernah suatu malam aku bertanya kenapa. Ia menjawab, “Kepala Ibu berisik.”

Aku tidak mengerti.

Ada juga malam ketika Ibu mendengar seseorang memanggil namanya dari dapur.

Ia berjalan ke sana.

Tidak ada siapa-siapa.

Ketika kembali, wajahnya pucat.

“Arman tadi di sana.”

Nama itu muncul dalam banyak percakapan Ibu.

“Arman bilang Ibu cantik.”

“Arman tidak pernah membentak.”

“Kalau Ibu menikah dengan Arman, mungkin hidup Ibu berbeda.”

Aku tidak pernah bertemu Arman.

Aku membayangkan ia sebagai laki-laki tinggi dengan tangan hangat.

Aku membencinya sebelum pernah melihat wajahnya.

Ayah membencinya lebih dulu.

Mungkin karena Arman adalah satu-satunya nama yang selalu berhasil membuat Ibu tersenyum.

———

Ayah punya amarah yang besar di rumah kami yang kecil.

Ia akan berteriak setiap kali Ibu banyak bertanya. Pernah melempar piring. Pernah membanting pintu. Pernah menendang kursi tempat Ibu sedang duduk. Ibu tidak sampai terluka. Tidak pernah babak belur. Tapi di dalamnya, aku bisa membayangkan sudah sehancur apa hati Ibu.

Ayah juga pernah berselingkuh.

Bukan sekali.

Aku tahu karena rahasia di rumah kami tidak pernah benar-benar menjadi rahasia.

Aku belajar bahwa menjadi anak berarti mengetahui sesuatu dan berpura-pura tidak tahu.

Belajar menahan malu setiap kali mereka bertengkar di depan umum.

Belajar tidak rindu Ibu setiap kali ia harus pergi ke panti rehabilitasi saat penyakitnya memburuk.

Belajar tidak benci Ayah karena bagaimanapun ia selalu mengusahakan segala yang ia bisa.

Untuk kesembuhan Ibu.

Ia adalah pemantik sekaligus penawar bagi penyakit Ibu.

Setelah menikah, Kakakku menetap di pulau seberang bersama keluarga kecilnya. Aku tidak pernah iri padanya.

Seseorang harus tinggal untuk memastikan rumah ini tidak sampai runtuh atau hangus terbakar.

Dan orang itu adalah aku.

———

Tidak lama setelah Kakak menikah, Ibu kembali dirawat. Meski dalam dua minggu sudah cukup stabil untuk menerima kunjungan.

Sore itu, ia duduk di ranjang dengan rambut berantakan.

“Arman belum datang,” katanya.

“Tidak ada Arman, Bu.”

Ia menunjuk kepalanya.

“Ada. Di sini.”

Malam itu, setelah Ibu tidur, seorang perawat memberikan kotak kecil yang ditemukan di antara barang-barangnya.

Di dalamnya ada buku catatan tua.

Halaman pertama berbunyi:

‘Untuk Arman.’

Aku membacanya.

Bukan surat cinta.

Arman adalah nama yang Ibu berikan kepada dirinya sendiri.

Dirinya sebelum menikah.

Dirinya sebelum sakit.

Dirinya yang ingin menjadi jurnalis, yang suka menjahit, dan percaya bahwa hidup tidak harus dijalani seperti yang diharapkan orang lain.

Pada halaman terakhir, ada tulisan yang tintanya hampir pudar.

‘Kalau suatu hari aku lupa siapa aku, jangan biarkan aku mati sebagai istri seseorang.’

Aku menutup buku.

Tanganku dingin.

Tiba-tiba aku memahami semua kalimat tentang Arman.

Ibu tidak sedang merindukan laki-laki.

Ibu sedang merindukan dirinya sendiri.

——

Aku pulang malam itu dan menemukan Ayah tertidur di kursi ruang tamu.

Televisi menyala tanpa suara.

Dan untuk pertama kalinya, ia tampak sangat ringkih, tua dan tidak berdaya.

Aku ingin membencinya. Aku sudah mencoba berkali-kali. Tetapi kebencian membutuhkan jarak, sedangkan aku tumbuh terlalu dekat dengan semua lukanya.

Aku tahu ia pernah menyakiti Ibu.

Aku tahu Ibu juga pernah menyakitinya.

Tetapi aku juga tahu keduanya adalah manusia.

Dan aku lelah menjadi hakim bagi dua orang yang seharusnya menjadi tempatku berlindung.

Malam itu aku membuka buku Ibu lagi.

Di antara halaman-halamannya ada sebuah foto lama.

Ibu masih sangat muda. Ia duduk di antara keluarganya, dengan deretan saudara di sampingnya.

Di belakang foto tertulis:

Dua Anak Bungsu.

Aku membaliknya.

Ada tulisan Ibu:

‘ Kami sama-sama paling kecil. Tapi sama-sama paling sering mengalah. Sama-sama hangat. Tapi juga paling mudah menangis dan terluka. ’

Aku membaca kalimat itu berulang kali.

Lalu aku menyadari sesuatu.

Mungkin Ibu tidak pernah benar-benar berhenti menjadi anak bungsu.

Ketika menikah, si bungsu menjadi istri.

Ketika punya anak, si bungsu menjadi ibu—yang kemudian melahirkan bungsu lainnya yang kini sepanjang hidupnya bersusah payah mencerna getirnya kehidupan.

——

Beberapa hari kemudian, Ibu pulang.

Ia berdiri di depan cermin.

“Rambut Ibu jelek.”

“Besok kita potong.”

Ia tersenyum.

“Kamu sudah punya pacar?”

Aku menggeleng.

“Kenapa?”

Aku hampir menjawab seperti biasa.

Karena aku tidak mau menikah.

Tapi kali ini aku menjawab sambil bergurau, “ Aku kan konsultan pernikahan, Bu. Sehari-hari sudah cukup mengurus pernikahan orang lain.”

Ibu menatapku melalui cermin.

Untuk sesaat, wajahnya terlihat sangat jernih.

“Jangan seperti Ibu,” katanya.

Aku menahan napas.

“Jangan hidup hanya untuk seseorang.”

Aku ingin bertanya apakah ia sedang membicarakan Ayah, Arman, atau aku.

Namun tatapannya kembali kosong.

“Arman suka rambut panjang,” katanya.

Aku memejamkan mata.

Malamnya, aku duduk di lantai kamarnya sambil memegang buku catatan itu, menyadari sesuatu.

Aku tidak pernah punya suami.

Tidak pernah punya anak.

Tidak pernah memakai cincin.

Tetapi aku sudah menjadi seorang istri sepanjang hidupku.

Istri dari sebuah rumah yang tidak pernah bisa kuselamatkan.

———

Pagi berikutnya, aku menemukan Ibu berdiri di depan cermin.

“Arman?” tanyanya.

Aku berdiri di belakangnya.

“Bukan, Bu.”

Dengan wajah kebingungan, ia bertanya lagi, “Siapa kamu?”

Untuk beberapa detik, aku tidak bisa menjawab.

Sebab pertanyaan itu ternyata bukan hanya milik Ibu. Itu adalah pertanyaan yang selama ini tidak pernah berani kutanyakan kepada diriku sendiri.

Siapa aku jika Ibu tidak membutuhkanku?

Siapa aku jika rumah ini akhirnya tenang?

Siapa aku jika tidak ada lagi yang harus kuselamatkan?

“Ini aku, Bu..”

Ibu masih terlihat bingung. Ia terdiam cukup lama.

Kemudian ia menatapku lagi.

“Ranum?”

Dadaku terasa sesak.

Aku mengangguk, menahan air mata.

“Iya, Bu.”

Ia meraih tanganku.

“Ibu ingat.”

Hanya dua kata.

Tapi entah mengapa, rasanya seperti Ibu baru saja menemukan jalan pulang kepadaku.

Aku mencium keningnya.

Dan untuk sesaat, kami hanya berdiri di depan cermin.

Dua anak bungsu.

Dua perempuan yang kehilangan diri sendiri.

Pagi itu, entah bagaimana, kami akhirnya saling menemukan.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen