CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Di Kehidupan Lainnya Untukmu, Bu
Di Kehidupan Lainnya Untukmu, Bu

Di Kehidupan Lainnya Untukmu, Bu

oleh nats way
CerpenGratis7 menit baca21 dibacaJFMM Participant
"Nih, biar kamu tahu kenapa ibumu minggat."

Buku itu diberikan Bapak kepadaku beberapa tahun setelah Ibu pergi. Aku masih ingat bagaimana Bapak mengeluarkannya dari tumpukan barang lama di kamar, lalu meletakkannya begitu saja di hadapanku. Tidak ada raut sedih, tidak ada keraguan, bahkan tidak ada sedikit pun rasa bersalah dalam sorot matanya yang semakin menua.

Aku menatap buku itu tanpa menyentuh sedikit pun. Bersampul hitam kusam, sudut-sudutnya terlipat, dan ada beberapa bekas noda yang membuat kertasnya menguning. Aku mengenali tulisan tangan di bagian depan, tulisan Ibu.

Bapak kemudian berlalu begitu saja, seolah menyerahkan sebuah barang yang tidak lagi memiliki arti. Baginya, mungkin buku itu adalah bukti. Bukti bahwa Ibu mengeluh terlalu banyak, bukti bahwa Ibu tidak pernah puas, atau mungkin pembenaran bahwa kepergian Ibu memang pantas terjadi karena pada akhirnya Ibu memilih orang lain.

"Ibumu selingkuh," kata Bapak sebelumnya. "Kalau memang dia nggak begitu, ya nggak mungkin dia tega ninggalin kamu."

Aku tidak menjawab apapun. Aku hanya diam, sebab aku sendiri tidak tahu harus percaya kepada siapa. Aku tahu Ibu berhubungan dengan seseorang. Aku tahu ada pengkhianatan yang terjadi. Aku tahu ada hal-hal yang tidak bisa dibenarkan begitu saja. Tetapi entah kenapa, setiap kali Bapak mengucapkan kalimat itu, ada sesuatu di dalam diriku yang merasa tak terima. Seolah-olah kehidupan Ibu sebelum hari kepergiannya sengaja dipotong menjadi satu kalimat sederhana, yaitu karena selingkuh. Seakan semua yang terjadi sebelumnya tidak pernah ada.

Malam itu, ketika rumah sudah sunyi, aku membawa bukunya ke kamar. Aku duduk di lantai dengan bersandar pada sisi ranjang, lalu membuka halaman pertama perlahan. Awalnya aku hanya ingin tahu apa yang sebenarnya pernah ditulis Ibu kepada Bapak. Mungkin aku akan menemukan alasan yang selama ini tidak pernah mereka ceritakan kepadaku. Mungkin aku akan menemukan kebencian atau aku akan menemukan sesuatu yang membuatku semakin kecewa pada salah satu dari mereka.

Di halaman pertama berisi tanggal yang sudah bertahun-tahun lewat. Tulisan tangan Ibu masih sangat kukenal. Ada beberapa bagian yang tintanya mulai pudar, tetapi aku masih bisa membaca hampir semuanya.

Kutemukan catatan tentang bagaimana ia memikirkan uang sekolah, susu, makanan, kebutuhan rumah, dan berbagai hal kecil yang dulu tidak pernah kupahami nilainya. Tentang Bapak menganggur, namun sering pulang malam. Ada pula kalimat-kalimat pendek tentang kelelahan yang ditulis di sela-sela hari panjang untuk dijalani seorang diri.

Aku membaca halaman demi halaman dengan napas berat. Sesekali aku berhenti hanya untuk mengusap mata, lalu kembali membacanya karena rasanya ada bagian dari Ibu yang selama ini tidak pernah kukenal sedang berbicara kepadaku dari masa lalu. Selama ini aku mengenal Ibu sebagai perempuan kuat. Perempuan yang setiap pagi selalu kulihat punggung rapuhnya memakai sepatu dengan tergesa agar tak terlambat bekerja. Namun kini, aku menemukan ketakutan yang tidak pernah Ibu tunjukkan di depanku dan di antara semuanya, aku mengetahui mimpi-mimpinya perlahan hilang setelah kehidupan memaksa untuk memilih antara menjadi dirinya sendiri atau menjadi seseorang yang diandalkan keluarga.

Aku menutup buku itu sebentar. Ingatanku melayang pada masa lalu.

Dulu aku tidak pernah bertanya mengapa Ibu sering terlihat lelah. Bagiku, Ibu memang selalu pergi bekerja, ibu yang mengurus rumah, ibu yang merawatku dan kakakku. Kalau ada sesuatu yang tidak bisa dibeli, aku hanya tahu bahwa Ibu sedang tidak punya uang. Jika Ibu tampak murung, aku mengira ia hanya lelah. Aku tidak pernah berpikir bahwa di balik semua itu mungkin ada seorang perempuan yang tengah bertanya-tanya apakah hidupnya akan selalu seperti itu.

Aku kembali membuka halaman berikutnya. Ada satu tulisan yang membuatku terdiam cukup lama. Ibu bercerita tentang keinginannya untuk melanjutkan sesuatu yang dulu pernah ia tinggalkan. Tentang pekerjaan impiannya atau kehidupan yang ingin ia jalani. Tidak ada kalimat menyalahkan aku dan kakakku sebagai anak-anaknya. Justru hampir di setiap halaman, aku menemukan bagaimana ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua pengorbanan itu akan sepadan selama anak-anaknya baik-baik saja.

"Jadi selama ini..." gumamku pelan. "Kenapa hidup nggak adil banget sih sama ibu?" Air mataku jatuh sebelum aku sempat menyeka.

Aku dihantui penyesalan karena selama ini aku hanya mengenal Ibu sebagai ibuku. Aku tidak pernah benar-benar membayangkan bahwa sebelum ada aku, keluarga, rumah yang harus diurus dan anak-anak yang harus dibesarkan, Ibu adalah seorang perempuan dengan mimpi juga ketakutannya sendiri. Ia pernah menjadi seseorang yang punya banyak pilihan atau pernah ingin pergi jauh, belajar lebih tinggi, bekerja, tertawa bersama teman-temannya, dan menjalani hidup tanpa harus merasa bersalah karena menginginkan sesuatu untuk dirinya sendiri.

Aku membaca sampai halaman terakhir. Tidak ada pembelaan yang mengatakan Ibu benar dan Bapak salah. Tidak ada pula kalimat yang membuat perselingkuhan itu tiba-tiba menjadi benar. Di isi buku itu hanya tersimpan jejak seorang perempuan selama bertahun-tahun memendam terlalu banyak hal sendirian.

Kesekian kalinya, aku merasa marah kepada Bapak.

Bukan karena ia menyebut Ibu berselingkuh. Aku tahu apa yang terjadi dan aku tidak ingin memutarbalikkan fakta. Aku marah karena Bapak seolah menjadikan satu kesalahan di akhir perjalanan sebagai satu-satunya alasan mengapa Ibu pergi. Seakan-akan sebelum hari itu, Ibu hidup tanpa luka dan seolah tidak pernah ada malam ketika Ibu menangis sendirian.

Pointnya tidak membenarkan Ibu pergi. Pointnya adalah, aku ingin tahu bagaimana seseorang bisa sampai pada titik di mana, ia merasa pergi merupakan satu-satunya jalan.

Aku segera membekap mulutku ketika tangisku semakin pecah. Buku itu masih berada di pangkuanku, sementara tubuhku meringkuk di pojok kamar seperti anak kecil yang tidak tahu harus meminta pelukan kepada siapa. Aku menangis bukan karena baru mengetahui Ibu pernah menderita. Aku menangis karena selama ini aku terlalu sibuk merindukan Ibu sebagai seorang anak, sampai lupa bahwa Ibu juga pernah menjadi manusia yang mungkin sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri.

"Kenapa nggak pernah cerita, Bu?" bisikku di antara isak tangis. "Kenapa harus sampai ninggalin aku juga?"

Aku tahu aku masih boleh marah kepadanya. Aku masih boleh kecewa. Aku masih boleh merasa ditinggalkan karena bagaimanapun, aku adalah anak yang harus menjalani hari-hari setelah kepergiannya. Aku tidak ingin menjadikan penderitaan masa lalu sebagai alasan untuk menghapus semua luka yang ditinggalkannya sekarang.

Aku ingin mengingat bahwa Ibu pernah punya mimpi sebelum menjadi Ibu. Aku ingin mengingat bahwa ia pernah menjadi gadis kecil yang mungkin juga menginginkan dipeluk ketika hidup terasa berat. Aku ingin mengingat bahwa ada seorang perempuan di balik sosok yang selama ini kupanggil Ibu dan perempuan itu mungkin sudah terlalu lama kehilangan dirinya sendiri.

Aku menutup diary itu pelan, lalu memeluknya ke dada. "Kalau memang kehidupan ini bukan tempat yang baik untukmu, Bu..." Aku menarik napas panjang, berusaha mengendalikan isak tangisku. "Aku akan senantiasa merayu Tuhan agar memberikanmu kesempatan terbaik di kehidupan lainnya."

Dalam bayanganku, aku ingin melihat Ibu tumbuh di rumah yang jendelanya selalu terbuka. Rumah yang tidak membuatnya takut bermimpi terlalu tinggi. Aku ingin melihatnya mendapatkan pekerjaan yang ia semogakan, duduk di sebuah kafe bersama teman-teman lamanya, tertawa tanpa harus memikirkan siapa yang menunggu di rumah. Aku ingin melihatnya menikmati secangkir kopi sampai dingin tanpa bersalah karena ada pekerjaan lain yang belum selesai.

Aku ingin Ibu memiliki kehidupan yang tidak harus selalu berputar di sekitar pengorbanan. Kehidupan di mana, ia boleh menjadi dirinya sendiri sebelum menjadi istri siapa pun, sebelum menjadi ibu bagi siapa pun. Namun jika Tuhan benar-benar memberikan kesempatan terbaik di kehidupan lain, aku tidak perlu dilahirkan sebagai anaknya. Aku tidak perlu mengenalnya lagi sebagai Ibu, tidak perlu menjadi bagian keluarganya, bahkan tidak apa-apa jika di kehidupan itu kami adalah dua orang asing yang tidak pernah saling mengenal.

Kini, aku masih berharap Ibu pulang. Aku masih marah karena ia pergi. Jika suatu hari nanti Ibu membaca tulisan ini, aku ingin ia tahu satu hal, aku tidak pernah menganggap kepergiannya sebagai sesuatu yang benar. Namun aku juga tidak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan rasa kecewa hanya karena aku tidak pernah benar-benar tahu betapa berat hidup yang ia jalani sebelum aku cukup dewasa untuk memahami.

Di kehidupan ini mungkin aku adalah anak yang ditinggalkan olehnya. Tetapi jika Tuhan memberinya kesempatan untuk hidup sekali lagi, aku tidak meminta apa-apa untuk diriku sendiri.

Aku hanya ingin Ibuku bahagia, beruntung, dan diusahakan dalam hal apapun.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen