Sejak punya bayi, aku baru sadar bahwa rumah tidak pernah benar-benar sunyi.
Bahkan ketika bayiku tidur, selalu ada suara kecil yang mengisi kamar. Napasnya, dengusan pendek ketika ia bermimpi, atau suara kain yang bergesekan ketika ia bergerak. Aku sering terbangun hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja, lalu berdiri di samping tempat tidurnya beberapa menit sebelum kembali tidur.
Mungkin itu sebabnya aku teringat Ibu.
Dulu, sebelum tidur, Ibu selalu melakukan hal yang sama kepadaku.
Ia akan membuka pintu kamarku sedikit dan berdiri di sana. Kalau aku belum tidur, ia akan bertanya, “Belum tidur?”
Aku biasanya menggeleng.
“Tidur, Aruna.”
Kadang aku menurut. Kadang aku malah mengajaknya bicara sampai ia menyuruhku tidur tiga kali.
Aku tidak pernah tahu kenapa ia selalu datang.
Kupikir semua ibu begitu.
Beberapa tahun terakhir, pendengaran Ibu mulai menurun.
Awalnya hanya hal-hal kecil. Ia sering meminta kami mengulang perkataan. Televisi di rumahnya menjadi semakin keras. Ketika aku berbicara dari dapur, ia tidak menjawab sampai aku datang mendekat.
“Bu, dengar?”
“Hm?”
Ia akan tertawa.
“Makanya ngomong yang keras.”
Aku ikut tertawa, meskipun ada sesuatu yang terasa tidak enak setiap kali ia mengatakan itu.
Aku mulai berbicara lebih keras.
Kemudian lebih lambat.
Lalu, tanpa sadar, aku mulai memperhatikan wajahnya ketika berbicara. Kalau ia melihat bibirku, biasanya ia mengerti.
Yang paling aneh adalah ketika suatu hari aku meneleponnya dan ia tidak mengenali suaraku.
“Siapa?”
Aku tertawa.
“Aku, Bu.”
“Runa?”
“Iya.”
Ia diam sebentar.
“Suaramu sekarang beda.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Tentu saja suaraku berbeda.
Aku sudah dewasa.
Aku sudah menikah.
Sekarang aku bahkan sudah punya anak.
Tapi entah kenapa, mendengar Ibu mengatakan itu membuatku sedih.
Bukankah seharusnya ia selalu mengenali suaraku?
Setelah menjadi ibu, aku mulai mengucapkan banyak kalimat yang dulu sering kudengar darinya.
“Sudah, jangan menangis.”
“Pelan-pelan.”
“Mama di sini.”
Aku tidak pernah sengaja mengingatnya. Kalimat-kalimat itu muncul sendiri ketika aku sedang menggendong bayi yang menangis di tengah malam.
Suatu malam, setelah bayiku akhirnya tertidur, aku duduk di samping tempat tidurnya.
Aku mengusap rambutnya dan tiba-tiba teringat suara Ibu ketika aku kecil.
Bukan kata-katanya.
Cara ia mengucapkannya.
Ada sesuatu yang sangat lembut di sana, sesuatu yang baru sekarang bisa kurasakan setelah aku punya seseorang yang bergantung kepadaku.
Aku menelepon Ibu.
Tidak ada jawaban.
Aku menelepon lagi.
Tetap tidak ada.
Besok paginya aku baru tahu ia pergi ke rumah sakit bersama adikku. Pendengarannya memburuk cukup cepat dan dokter menyarankan alat bantu dengar.
Aku datang siang itu.
Ibu sedang duduk di ruang tunggu.
“Bu.”
Ia menoleh.
Tidak mendengar.
Aku mendekat dan menyentuh bahunya.
Ia terkejut, lalu tersenyum.
“Oh, Aruna.”
Aku duduk di sampingnya.
“Sekarang susah dengar, ya?”
Ia mengangguk.
“Lumayan.”
Aku mencoba bercanda.
“Berarti sekarang Ibu nggak bisa dengar aku ngomel.”
Ia tertawa.
“Bagus.”
Aku ikut tertawa.
Tapi setelah beberapa saat, aku melihat tangannya sendiri.
Tangan yang dulu sering membuka pintu kamarku.
Tangan yang dulu mengusap rambutku sebelum lampu dimatikan.
Beberapa bulan kemudian, Ibu memakai alat bantu dengar.
Ia bisa mendengar lebih baik, tetapi tidak pernah kembali seperti dulu.
Suatu malam aku membawa bayiku ke rumahnya. Ibu menggendong cucunya di ruang tengah.
Bayi itu menangis. Ibu panik sedikit.
“Kenapa dia?”
Aku tertawa.
“Ngantuk.”
Ibu mengayun tubuhnya perlahan. Kemudian, tanpa sadar, ia berkata,
“Sudah, sayang. Tidak apa-apa. Nenek di sini.”
Aku terdiam.
Kalimat itu.
Nada itu.
Aku tahu dari mana asalnya.
Ibu tidak sadar bahwa aku sedang memperhatikannya.
Aku tersenyum.
Malam itu, setelah bayiku tidur, aku mengantarnya ke kamar. Aku berdiri di ambang pintu. Dulu, Ibu yang berdiri di sana untukku.
Sekarang aku yang berdiri untuk anakku.
Aku mematikan lampu dan menutup pintu sedikit. Lalu aku kembali ke ruang tengah. Ibu masih duduk di sofa. Aku duduk di sebelahnya.
Ia menatapku.
“Kenapa?”
Aku menggeleng.
“Nggak apa-apa.”
Ia tersenyum.
Aku menyandarkan kepala di bahunya.
Untuk beberapa menit kami tidak bicara. Aku mendengarkan napasnya.
Ia mungkin tidak bisa lagi mendengar suaraku seperti dulu.
Mungkin suatu hari nanti ia bahkan tidak akan bisa mendengarnya sama sekali.
Tapi malam itu aku tiba-tiba merasa tidak terlalu takut. Karena aku tahu, bahkan jika suatu hari suara Ibu benar-benar hilang dari telingaku, ia sudah meninggalkan sesuatu yang lebih sulit hilang.
Suaranya ada di caraku menenangkan anakku.
Ada di kalimat yang keluar ketika aku panik.
Ada di caraku berdiri di ambang pintu sebelum lampu dimatikan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika anakku memiliki anaknya sendiri, suara itu akan keluar lagi dari mulutnya.
Aku mencium kepala Ibu.
“Tidur yang nyenyak, Bu.”
Ia tidak menjawab.
Mungkin ia tidak mendengar.
Tapi aku tetap mengatakannya.
“Terimakasih untuk semuanya, Bu..”

