luis
Sekali duduk selesai
20 Oktober 2026
Mulai membaca
Hai, namaku Ica.
Tahun ini, aku naik ke kelas dua SMP. Di sekolahku, siswa-siswi dibagi ke dalam beberapa kelas, mulai dari kelas A, B, C, D, E, hingga F. Dan aku berada di kelas C.
Rasanya menyenangkan sekali bisa bertemu dengan teman-teman baru. Aku benar-benar menikmati hari-hari pertamaku di kelas dua. Apalagi, aku dipercaya menjadi bendahara kelas dan bergabung dengan anak-anak OSIS yang saat itu cukup populer di sekolah. Semuanya terasa seru, seolah ada banyak hal baru yang siap menungguku.
Oh, ya, aku juga punya seorang sahabat bernama Lina. Dia adalah gadis yang ceria dan suka berdandan. Kami sudah bersahabat sejak SD, jadi bisa dibilang aku cukup mengenal dirinya luar dalam.
Suatu hari, Lina bercerita kepadaku bahwa dia sedang menyukai seorang laki-laki dari kelas sebelah, tepatnya kelas D.
Namanya Rey.
Rey adalah sosok yang manis, dengan suara yang begitu merdu. Aku mengenalnya karena dulu kami pernah berada di kelas yang sama saat kelas satu SMP. Bahkan, kalau boleh jujur, aku pernah menyukainya juga. Namun, saat itu perasaanku hanya sebatas suka biasa. Tidak lebih dari itu.
Karena tahu bahwa aku pernah sekelas dengan Rey, Lina pun memintaku untuk membantunya mendekati laki-laki itu.
“Ca, kamu kan dulu pernah sekelas sama Rey, ya?” tanyanya suatu hari.
“Iya, memang kenapa?” jawabku.
Lina tersenyum malu-malu sebelum akhirnya mengungkapkan keinginannya.
“Bantuin aku dekat sama dia, dong, Ca.”
Aku sempat terdiam sejenak. Namun, pada akhirnya aku mengangguk dan menyanggupi permintaannya.
Tentu saja aku mau membantunya. Bagaimanapun, Lina adalah sahabatku. Aku ingin melihatnya bahagia, terlebih ketika menyangkut seseorang yang sedang dia sukai.
Saat itu, aku sama sekali tidak berpikir bahwa permintaan sederhana dari sahabatku sendiri mungkin akan membawaku pada sebuah cerita yang tak pernah kuduga sebelumnya.
Hari itu, bel istirahat berbunyi, menandakan bahwa jam pelajaran telah usai untuk sementara waktu. Suasana sekolah yang tadinya cukup tenang seketika berubah ramai. Beberapa siswa bergegas menuju kantin, sementara yang lain memilih menghabiskan waktu bersama teman-teman mereka di kelas.
Di tengah suasana itu, tiba-tiba Lina menghampiriku dan berhenti di samping mejaku. Tangannya menyodorkan sebuah amplop kecil kepadaku.
“Ca, aku minta tolong, ya,” katanya sambil menatapku dengan penuh harap.
Aku mengangkat wajah dan memandang amplop di tangannya. “Apa ini?”
“Surat buat Rey. Kamu mau, kan, ngasih ini ke dia di kelas sebelah?”
Aku menatapnya sebentar, lalu mengambil amplop itu dari tangannya.
“Iya, deh. Kebetulan aku juga ada urusan sama ketua kelas D. Nanti sekalian aku kasih.”
Wajah Lina langsung terlihat lebih ceria. Dia tersenyum lebar, seolah baru saja menyerahkan sesuatu yang sangat berharga kepadaku.
Setelah itu, aku pun bergegas menuju kelas D. Namun, sesampainya di sana, aku tidak menemukan Rey. Menurut salah seorang teman sekelasnya, Rey sudah lebih dulu pergi ke kantin bersama teman-temannya.
Aku sempat melihat sekeliling kelas, memastikan bahwa dia benar-benar tidak ada di sana. Karena aku juga harus menyelesaikan urusanku dengan ketua kelas D, akhirnya aku memutuskan untuk menitipkan surat itu kepada salah seorang temannya yang bernama Heri.
“Her, titip surat ini buat Rey, ya. Nanti tolong kasih ke dia,” kataku sambil menyerahkan amplop tersebut.
Heri menerima surat itu dengan santai. “Oke, nanti gue kasih.”
“Ya, makasih, ya!”
Setelah urusanku selesai, aku kembali ke kelas C. Lina yang sejak tadi mungkin menungguku langsung menghampiri meja begitu melihatku datang.
“Gimana, Ca? Udah kamu kasih?” tanyanya dengan wajah penuh rasa penasaran.
Aku meletakkan tas di kursi, lalu menoleh kepadanya.
“Rey nggak ada di kelas. Dia udah pergi ke kantin, jadi suratnya aku titipin ke Heri, temannya.”
“Oh, ya udah, deh,” jawab Lina. Meski berusaha bersikap biasa saja, aku bisa melihat sedikit rasa gugup di wajahnya.
Aku hanya tersenyum kecil melihat tingkah sahabatku itu. Bagiku, membantu Lina mendekati seseorang yang dia sukai bukanlah hal yang sulit. Aku bahkan tidak pernah membayangkan bahwa surat sederhana itu kelak bisa menjadi awal dari cerita yang berbeda.
Saat itu, aku hanya tahu satu hal: aku sedang membantu sahabatku mendapatkan hati seseorang yang pernah singgah sebentar di hatiku.
Hari demi hari berlalu.
Sejak saat itu, rutinitasku saat jam istirahat tidak pernah jauh dari hal yang sama: menerima surat dari Lina, lalu mengantarkannya kepada Rey di kelas sebelah.
Awalnya, aku menganggap semua itu sebagai hal yang biasa. Aku hanya ingin membantu sahabatku mendapatkan perhatian dari laki-laki yang disukainya. Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai menyadari satu hal.
Rey tidak pernah membalas satu pun surat dari Lina.
Surat demi surat terus diberikan, tetapi tak pernah ada jawaban. Tidak ada pesan balasan, tidak ada sepatah kata pun yang dititipkan melalui teman-temannya. Semuanya seolah menghilang begitu saja tanpa meninggalkan jejak.
Meski begitu, Lina tidak pernah menyerah.
Semakin hari, perasaannya kepada Rey justru semakin besar. Dia mulai mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti Rey, hanya agar bisa berada di tempat yang sama dengannya. Baginya, bisa melihat Rey dari kejauhan saja sudah cukup membuatnya bahagia.
Kadang-kadang, aku hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah sahabatku itu.
“Lin, kamu nggak capek, apa? Dari kemarin kamu terus berusaha, tapi Rey nggak pernah membalas suratmu,” tanyaku suatu hari.
Lina hanya tersenyum kecil.
“Enggak, Ca. Mungkin dia belum sempat membalas. Aku yakin suatu hari nanti dia bakal sadar kalau aku benar-benar suka sama dia.”
Aku terdiam mendengar jawabannya. Ada sesuatu dalam nada bicaranya yang membuatku tahu bahwa nasihatku mungkin tidak akan mengubah apa pun.
Bahkan, usahanya tidak berhenti sampai di situ.
Suatu hari, Lina mengajakku pergi ke kampung tempat Rey tinggal. Jaraknya lumayan jauh dari rumahku, tetapi Lina seolah tidak peduli. Dia hanya ingin melihat Rey, meskipun dari kejauhan.
“Ca, temenin aku, ya. Kita main ke kampung Rey, yuk!” ajaknya penuh semangat.
“Jauh, Lin. Memangnya kamu nggak capek kalau cuma buat lihat dia?” tanyaku, mencoba meyakinkannya untuk berpikir ulang.
“Enggak, dong! Yang penting aku bisa lihat Rey.”
Pada akhirnya, aku tetap menemaninya. Mungkin karena aku sahabatnya, atau mungkin karena saat itu aku masih berpikir bahwa mendukung sahabat berarti membantu apa pun yang bisa membuatnya bahagia.
Namun, kenyataan yang kami hadapi tidak pernah berubah.
Rey tetap tidak memberikan tanggapan. Semua usaha Lina seolah tidak berarti apa-apa baginya. Surat-surat itu tak berbalas, kehadiran Lina di berbagai kegiatan tidak membuatnya mendekat, dan segala upaya untuk mendapatkan perhatiannya berakhir dengan kekecewaan yang sama.
Aku mulai merasa kasihan kepada Lina. Aku tahu dia benar-benar menyukai Rey, tetapi melihatnya terus berusaha mendapatkan perhatian dari seseorang yang tidak menunjukkan ketertarikan yang sama membuatku bertanya-tanya dalam hati.
Sampai kapan Lina akan bertahan seperti ini?
Saat itu, aku belum tahu bagaimana akhir dari perasaan Lina kepada Rey. Aku hanya tahu bahwa sahabatku sedang mengejar seseorang yang tidak pernah benar-benar menoleh ke arahnya.
Dan tanpa kusadari, aku sendiri masih belum memahami ke mana cerita ini akan membawaku.
Pagi itu, aku datang lebih awal dari biasanya. Suasana sekolah masih sepi. Belum banyak siswa yang berdatangan, hanya terdengar suara burung yang sesekali berkicau di antara pepohonan di halaman sekolah.
Sesampainya di kelas, aku meletakkan tasku di bangku, lalu mengambil sapu untuk membersihkan ruangan. Setelah selesai menyapu bagian dalam kelas, aku beralih membersihkan teras di depan kelas.
Saat sedang sibuk menyapu, tiba-tiba seseorang menyapaku.
“Hai!”
Aku spontan menoleh ke arah suara itu.
Ternyata Rey.
Dia berdiri tidak jauh dariku sambil melambaikan tangannya dan tersenyum ramah.
“Hai juga,” jawabku refleks.
Setelah itu, Rey melanjutkan langkahnya, sementara aku masih berdiri dengan sapu di tangan. Ada sedikit rasa heran yang tiba-tiba muncul di benakku.
Kenapa Rey menyapaku?
Selama ini, kami memang pernah sekelas saat kelas satu SMP, tetapi kami hampir tidak pernah mengobrol. Bahkan, sejak Lina mulai menyukainya dan aku sering mengantarkan surat untuknya, aku tidak pernah menyangka Rey akan menyapaku lebih dahulu seperti tadi.
Aku mencoba mengabaikan pikiranku dan kembali melanjutkan pekerjaan.
Namun, kejadian pagi itu ternyata bukan yang terakhir.
Sejak hari itu, Rey mulai sering menyapaku. Setiap kali berpapasan saat datang ke sekolah, dia akan menyapaku dengan senyumnya yang khas. Begitu pula ketika jam sekolah berakhir dan kami hendak pulang.
Terkadang, sapaan sederhana itu membuatku merasa aneh sendiri.
Ada sesuatu yang berbeda ketika melihat Rey tersenyum ke arahku. Aku tidak tahu mengapa, tetapi tanpa sadar aku mulai memperhatikan kehadirannya setiap kali berada di dekatku.
Kenapa dia tiba-tiba jadi sering menyapaku, ya?
Aku tidak berani mengartikan apa pun dari sikapnya. Bagiku, mungkin saja Rey hanya bersikap ramah. Lagi pula, bukankah menyapa teman sekolah adalah hal yang biasa?
Sayangnya, aku tidak menyadari bahwa ada seseorang yang memperhatikan semua itu.
Lina.
Dia melihat bagaimana Rey menyapaku setiap kali kami berpapasan. Dia juga melihat senyum yang selama ini begitu ingin didapatkannya, tetapi justru diberikan Rey kepadaku dengan begitu mudah.
Sementara itu, surat-surat yang ditulisnya selama ini tidak pernah mendapatkan balasan.
Aku tidak tahu sejak kapan Lina mulai merasa kesal. Yang kutahu, sikapnya perlahan berubah. Dia tidak lagi seceria biasanya ketika bersamaku. Senyumnya mulai jarang terlihat, dan terkadang dia menjawab pertanyaanku dengan singkat.
Sampai suatu hari, aku benar-benar merasakan perubahan itu.
“Lin, kamu kenapa, sih? Kok akhir-akhir ini kamu diam aja?” tanyaku.
“Enggak kenapa-kenapa,” jawabnya ketus.
Aku mengernyitkan dahi. “Terus, kenapa kamu kayak marah sama aku?”
Lina tidak langsung menjawab. Dia hanya menatapku sebentar, lalu mengalihkan pandangannya.
Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Hingga akhirnya, aku menyadari bahwa sikap Lina berubah sejak Rey mulai sering menyapaku.
Saat itulah aku mengerti bahwa Lina mungkin merasa cemburu. Dia tidak habis pikir mengapa Rey, yang selama ini tidak pernah membalas satu pun suratnya, justru bersikap ramah kepadaku.
Padahal, aku sendiri tidak pernah meminta perhatian Rey. Aku bahkan tidak tahu mengapa dia tiba-tiba mulai menyapaku.
Namun, rupanya penjelasan itu tidak cukup untuk meredakan perasaan Lina.
Hari-hari berikutnya terasa berbeda. Kami yang biasanya selalu bersama, berbagi cerita, dan tertawa karena hal-hal kecil, kini justru saling diam. Tidak ada lagi obrolan panjang seperti dulu. Aku pun tidak tahu harus memulai percakapan dari mana.
Kami menjadi dua sahabat yang duduk berdekatan, tetapi terasa begitu jauh.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami bersahabat, aku merasakan betapa menyedihkannya ketika seseorang yang begitu dekat denganku justru menjauh karena sesuatu yang bahkan tidak pernah sengaja kulakukan.
Aku hanya bisa berharap, suatu hari nanti, Lina mau mendengarkanku dan kami bisa kembali seperti dahulu.
Karena bagiku, dia bukan sekadar teman sekolah.
Dia adalah sahabatku sejak kecil.
Bel istirahat berbunyi. Namun, kali ini ada yang terasa berbeda. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, tak ada surat dari Lina yang harus kuantarkan kepada Rey. Lina pun masih belum mau berbicara denganku. Suasana di antara kami terasa canggung, seolah-olah ada jarak yang semakin lebar di antara dua sahabat yang dulu selalu bersama.
Saat aku hendak pergi ke kantin, tiba-tiba Heri memanggilku.
“Ca!” serunya sambil menghampiriku.
Aku menoleh. “Ada apa, Her?”
Heri menyodorkan sebuah amplop kepadaku. Di bagian depannya tertulis namaku.
“Ini surat dari Rey buat kamu. Katanya, kamu diminta membalasnya,” ujar Heri.
Aku terdiam sejenak. Surat dari Rey? Untukku? Rasanya sulit dipercaya. Selama ini, aku hanya tahu Rey sebagai seseorang yang belakangan sering menyapaku dan tersenyum kepadaku. Aku tak pernah menyangka dia akan mengirimiku surat.
Rasa penasaran langsung memenuhi pikiranku. Namun, sebelum aku sempat membuka amplop itu, Lina yang ternyata melihat Heri memberikan surat kepadaku segera menghampiri kami.
“Buka sekarang, di depanku!” katanya dengan nada mendesak.
Aku menatap Lina sebentar. Ada sesuatu dalam sorot matanya yang sulit kujelaskan. Meski begitu, aku akhirnya membuka amplop itu dan mulai membaca isi suratnya.
Aku benar-benar terkejut.
Dalam surat itu, Rey menuliskan bahwa dia menyukaiku, bukan Lina. Ternyata, perasaan itu sudah ada sejak dulu, tetapi dia tak pernah berani mengungkapkannya karena takut aku akan menolaknya.
Bukan hanya itu, Rey juga mengajakku bertemu sepulang sekolah. Dia ingin menyatakan perasaannya secara langsung kepadaku. Di akhir surat, dia menuliskan sebuah pertanyaan yang membuatku semakin bingung: apakah aku bersedia menemuinya dan menerima perasaannya? Dia memintaku membalas surat itu agar dia tahu jawabanku.
Aku membaca surat itu sekali lagi, seolah-olah ingin memastikan bahwa aku tidak salah memahami kata-katanya.
Rey menyukaiku?
Aku sungguh tak pernah membayangkan hal itu. Selama ini, aku justru sibuk membantu Lina mendekati Rey, mengantarkan surat-suratnya, dan mendengarkan semua cerita tentang betapa besar perasaan Lina kepadanya. Aku bahkan tak pernah berpikir bahwa di balik semua itu, Rey ternyata menyimpan perasaan untukku.
Perlahan, aku menurunkan surat itu dan menatap Lina.
Wajahnya tampak kecewa. Matanya menunjukkan kemarahan yang selama ini mungkin berusaha ia tahan. Aku tahu, membaca surat itu pasti sangat menyakitkan baginya, terlebih setelah semua usaha yang telah ia lakukan untuk mendapatkan perhatian Rey.
“Ca, tolong balas surat itu. Bilang kalau kamu nggak mau,” pinta Lina dengan suara yang terdengar penuh tekanan. “Tolong, jangan terima ajakannya.”
Aku terdiam sambil menggenggam surat itu erat-erat.
Di satu sisi, aku bingung harus menjawab apa karena aku sendiri belum memahami perasaanku kepada Rey. Namun, di sisi lain, aku tak tega melihat sahabatku terluka lebih jauh.
Saat itu, aku merasa berada di tengah-tengah dua hal yang sama-sama sulit: perasaan Lina yang begitu besar kepada Rey dan sebuah pengakuan yang sama sekali tak pernah kuduga.
Aku belum tahu harus berbuat apa. Yang kutahu, apa pun jawabanku nanti, mungkin akan mengubah hubungan kami bertiga untuk selamanya.
Setelah membaca surat Rey, aku terdiam cukup lama. Ada perasaan bahagia yang diam-diam tumbuh di dalam hatiku, tetapi di saat yang sama, aku juga merasa bimbang. Aku tahu bahwa aku menyukai Rey, tetapi aku juga ingat bahwa Lina adalah sahabatku. Bagiku, persahabatan kami jauh lebih berharga daripada perasaan yang baru saja tumbuh.
Akhirnya, dengan hati yang berat, aku membalas surat Rey dengan satu jawaban sederhana: tidak.
Meski sebenarnya ada bagian dari diriku yang ingin menerima perasaannya, aku memilih untuk mengubur perasaanku sendiri demi menjaga persahabatanku dengan Lina. Aku berharap keputusanku bisa membuat semuanya kembali seperti semula, tanpa menyadari bahwa justru keputusan itulah yang perlahan mengubah segalanya.
Lina melihat balasan surat itu, lalu membawanya langsung kepada Rey. Sejak hari itu, semuanya terasa berbeda.
Rey tidak pernah lagi menyapaku. Tidak ada lagi senyum kecil darinya, tidak ada lagi sapaan sederhana yang dulu diam-diam selalu kutunggu. Dia seolah-olah menjadi orang asing bagiku, seakan-akan kami tidak pernah saling mengenal.
Lina pun tak lagi sama. Dia mulai menganggapku sebagai saingannya, seseorang yang telah merebut perhatian laki-laki yang disukainya. Hingga akhirnya, dia memilih untuk menjauh dan mengakhiri persahabatan kami.
Aku tidak pernah menyangka bahwa keputusanku untuk menjaga persahabatan justru akan membuatku kehilangan sahabat sekaligus seseorang yang kusukai.
Pada akhirnya, aku kehilangan mereka berdua.
Rey, seseorang yang diam-diam kuinginkan, dan Lina, sahabat yang selama ini ingin kujaga.
Aku memilih persahabatan daripada cinta, tetapi pada akhirnya, aku justru kehilangan keduanya.