CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Bidadari Tanpa Sayap
BT

Bidadari Tanpa Sayap

oleh Muhammad Ridwan
CerpenGratis9 menit baca14 dibacaJFMM Participant

Mama.

Sebuah kata sederhana, tapi menyimpan begitu banyak arti. Sebuah kata yang tak akan pernah tergantikan oleh apa pun, bahkan oleh ribuan kata yang mungkin bisa kutuliskan.

Ma, terima kasih.

Terima kasih sudah membesarkanku. Terima kasih sudah bertahan sejauh ini. Terima kasih untuk setiap lelah yang mungkin tak pernah sempat kuceritakan, untuk setiap air mata yang mungkin kau sembunyikan, dan untuk setiap doa yang diam-diam kau panjatkan untukku.

Aku tahu, aku bukan anak yang sempurna. Mungkin juga belum menjadi anak baik seperti yang kau harapkan. Masih banyak hal dalam hidupku yang belum bisa kubanggakan di hadapanmu. Tapi, percayalah, Ma, aku selalu ingin memberikan yang terbaik untukmu—seperti bagaimana dulu kamu memberikan yang terbaik untukku sejak aku pertama kali lahir dan tumbuh hingga hari ini.

Aku sering membayangkan perjalanan hidupmu.

Tentang masa mudamu, masa remajamu, tentang kisah-kisah yang mungkin tak pernah sempat kau ceritakan kepadaku. Tentang bagaimana kamu tumbuh menjadi seorang perempuan, kemudian menjadi seorang istri, hingga akhirnya menjadi seorang ibu.

Mungkin ada banyak hal yang harus kamu korbankan. Banyak mimpi yang harus kamu simpan. Banyak keinginan yang harus kamu kesampingkan demi keluarga.

Dan di setiap proses hidupku, kamu selalu ada.

Di balik langkah kecilku, ada doamu. Di balik keberanianku, ada dukunganmu. Bahkan ketika aku jatuh dan merasa tidak punya siapa-siapa, sebenarnya ada kamu yang tetap berdiri di belakangku.

Aku tahu, sampai hari ini aku belum menjadi seseorang yang mungkin kamu inginkan.

Maaf.

Kadang aku menangis dalam diam. Bukan karena aku ingin menyerah, tapi karena aku tidak ingin membuatmu merasa terbebani dengan hidupku. Aku tidak ingin menambah pikiranmu dengan segala hal yang sedang kuhadapi.

Cukup kamu tahu bahwa aku baik-baik saja.

Walaupun sebenarnya, ada banyak hal yang sedang kuperjuangkan sendirian.

Aku hanya ingin suatu hari nanti bisa membuatmu tersenyum dan berkata, “Anakku sudah berhasil.”

Bukan karena aku ingin membuktikan sesuatu kepada dunia, tapi karena aku ingin membalas sedikit saja dari semua hal yang sudah kamu berikan kepadaku.

Ma, kalau waktu bisa memilih, aku ingin selalu bersamamu.

Aku ingin melihatmu tersenyum lebih banyak. Ingin menemanimu melewati hari-hari sederhana. Ingin melihat rambutmu memutih, sambil tetap duduk di sampingmu dan mendengarkan cerita-ceritamu yang mungkin sudah pernah kau ceritakan berkali-kali.

Aku ingin bertumbuh bersamamu.

Dan ketika nanti aku menua, aku berharap kamu masih ada di sana—menjadi rumah yang selalu ingin aku pulangi.

Sehat selalu, ya, Ma.

Panjang umur. Jangan terlalu banyak memikirkan aku. Biarkan aku belajar menjalani hidupku sendiri, sementara kamu cukup menikmati hari-harimu dengan tenang.

Karena bagiku, kamu bukan hanya seorang ibu.

Kamu adalah rumah.

Kamu adalah tempat pertama aku mengenal cinta.

Dan sampai kapan pun, kamu akan selalu menjadi bidadari tanpa sayapku. 🤍

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen