Oleh: Tri Lukman Hakim, S.H
Dalam kehidupan yang singkat ini, penyesalan selalu datang belakangan terutama ketika sosok yang kita tuju sudah lebih dulu dipanggil pulang ke Rahmatullah.
Rasa sesal itu tidak lagi menemukan tempat untuk bermuara, hanya menyisakan sunyi dan tumpukan memori yang perlahan-lahan baru kita pahami artinya setelah semuanya terlambat.
Waktu saya masih kecil, hidup keluarga kami serba pas-pasan. Lebih tepatnya, dibelit utang di mana-mana. Saya masih ingat betul potongan memori yang tersimpan rapi di kepala: bagaimana kami harus menahan napas dan menyembunyikan langkah kaki di dalam rumah yang gelap saat mendengar ketukan pintu yang keras dari penagih bank titil atau lintah darat tetangga.
Dulu, dengan pikiran bocah yang sangat mentah dan egois, saya menyimpan kekesalan yang mendalam. Saya sering membatin dengan jengkel: Kenapa utang Ibu banyak sekali? Buat apa sih, kok boros banget jadi orang tua? Kenapa kami tidak bisa hidup tenang seperti keluarga orang lain?
Ada rasa malu yang begitu menusuk setiap kali saya dipaksa situasi untuk berdiri di balik pintu, menyamar menjadi anak kecil yang harus berbohong dan berkata, Ibu tidak ada di rumah, sedang pergi jauh.
Namun, waktu terus berjalan. Saya beranjak dewasa, dan takdir menentukan bahwa Ibu harus lebih dulu pergi menyisakan ruang kosong yang tidak akan pernah terisi lagi.
Di tengah keheningan setelah kepergiannya, memori-memori pahit masa kecil itu kembali muncul. Bedanya, kali ini saya merenungkannya dengan mata seorang dewasa yang mulai memahami betapa berdarah-darahnya mencari nafkah.
Saya mencoba melihat kembali jejak-jejak peninggalan Ibu. Ternyata, utang-utang bertumpuk itu sama sekali bukan untuk gaya hidup. Terbukti, sepanjang hidupnya, Ibu hampir tidak pernah membeli baju baru. Lemari pakaiannya hanya berisi baju tua atau pakaian bekas hibah dari kerabat. Rumah kami pun tetap bersahaja tanpa ada perbaikan apa pun, dan kendaraan roda dua pun kami tidak punya.
Lalu, ke mana sebenarnya uang hasil utang yang membuat Ibu dikejar-kejar penagih itu pergi?
Di titik itulah, air mata saya menetes tanpa bisa ditahan. Hati saya yang kian matang akhirnya tersadar betapa kejam dan buruknya prasangka saya semasa kecil. Utang-utang itu sangat mungkin meluncur ke piring makan yang saya santap setiap hari, biaya SPP sekolah saya yang tidak boleh menunggak, serta seragam dan buku yang membuat saya tetap bisa berdiri tegak di sekolah tanpa harus merasa minder di hadapan teman-teman walau tentu tak mampu menyaingi anak orang kaya.
Utang itu bukan untuk foya-foya, bukan untuk arisan, apalagi gaya hidup sosialita. Utang itu adalah tameng terakhir seorang ibu agar anaknya tidak kelaparan dan tidak putus sekolah.
Hidup dikejar utang jelas bukan sesuatu yang membahagiakan. Menanggung beban finansial sendirian sudah sangat menyiksa, ditambah lagi harus menghadapi sikap seorang anak yang begitu dingin dan nir-empati saat itu. Memori tentang ketidakpedulian saya dulu menjadi dosa masa lalu yang sangat sulit saya maafkan hingga hari ini.
Kini, hanya satu pelajaran berharga yang tersisa dari peristiwa itu: jangan pernah lagi menilai pengorbanan seseorang hanya dari satu sudut pandang yang sempit, apalagi jika sudut pandang itu lahir dari rasa egois kita sendiri.
