Bab 1 Memasak Setiap pagi, sebelum matahari sepenuhnya menampakkan sinyal hangatnya, dapur rumah sudah lebih dulu hidup. Di sanalah Ibu menemukan panggung dunianya. Bagi seorang ibu rumah tangga yang mendedikasikan hari-harinya untuk keluarga, dapur bukanlah sekadar tempat meracik bumbu, melainkan sebuah ruang suci tempat ia merangkai cinta dalam bentuk hidangan.
Ibu memiliki sebuah hobi yang telah mendarah daging: memasak .
Bagi sebagian orang, memasak mungkin dianggap sebagai rutinitas harian yang melelahkan. Namun, bagi Ibu, setiap irisan bawang, desisan minyak di atas wajan, dan kepulan asap dari panci adalah bentuk lain dari senandung bahagia. Ia tidak pernah menganggap resep sebagai aturan kaku, melainkan sebuah panduan untuk menciptakan keajaiban kecil.
Ibu bangun selalu dimulai pukul 04.30 WIB. Langkah kakinya yang senyap bergesek dengan lantai keramik dingin, menyambut pagi dengan secangkir teh hangat. Tak lama kemudian, simfoni kehidupan dimulai.
Menumbuk Bumbu: Suara bumbu yang diulek di atas batu cobek tua adalah melodi favoritnya. Katanya, bumbu yang dihaluskan secara manual menggunakan tangan memiliki rasa yang jauh lebih tulus dibandingkan hasil blender.
Menakar Rasa: Ibu selalu percaya bahwa rahasia masakan yang enak bukan hanya terletak pada mahalnya bahan, tetapi pada ketulusan hati dan doa yang diselipkan di setiap adukan.
Pagi itu, Ibu menyiapkan menu sederhana kesukaan keluarganya: nasi goreng kampung yang harum dengan aroma terasi, dipadu telur mata sapi setengah matang, serta irisan mentimun segar .
Hobi memasak Ibu membuatnya tidak pernah berhenti belajar. Di sela-sela waktu luangnya membereskan rumah, lembaran majalah kuliner lama atau video resep di ponselnya sering kali menjadi teman setia.
"Memasak itu seperti melukis di atas kanvas kosong. Bedanya, hasil karya ibu tidak dinikmati dengan mata, tapi dinikmati dengan hati dan perut yang kenyang," begitu prinsip yang selalu ia pegang.
Pernah suatu sore, Ibu mencoba resep kue tradisional baru— lapis legit . Prosesnya membutuhkan kesabaran luar biasa; harus memanggang selapis demi selapis dengan teliti selama berjam-jam. Ayah sempat, "Kenapa harus repot-repot bikin yang susah, Bu? Beli saja kan bisa."
Ibu hanya tersenyum lembut sambil menyeka keringat di dahinya. "Kepuasan bukan saat kuenya jadi, Ayah. Tapi saat melihat kalian tersenyum menggigit gigitan pertama." Dan benar saja, ketika kue itu matang dan disajikan di atas meja, kelezatannya langsung melunturkan rasa lelah Ibu.
Bagi anak-anak dan suami di rumah, aroma masakan Ibu adalah definisi rumah yang sesungguhnya . Di mana pun mereka berada, seberapa jauh pun mereka melangkah, kenangan tentang aroma sup sayur bening buatan Ibu atau ayam goreng lengkuas selalu berhasil memanggil rindu untuk segera pulang.
Hobi memasaknya adalah bahasa cinta yang paling jujur. Ia mungkin bukan seorang wanita karier dengan jabatan tinggi di luar sana, namun di dalam rumah kecil ini, ia adalah seorang chef hebat yang senantiasa berhasil menyatukan keluarganya di meja makan tiga kali sehari.
Ketika malam tiba dan rumah kembali sunyi, Ibu berdiri sejenak di ambang pintu dapur yang telah bersih. Ia menatap meja makan yang kini kosong, menyisakan remah-remah kecil kebahagiaan hari itu. Ibu tersenyum dalam lelahnya, siap kembali merajut cerita rasa yang baru untuk esok pagi.

