CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Cerita yang Baru Kupahami
Cerita yang Baru Kupahami

Cerita yang Baru Kupahami

oleh Hey Oliiin
CerpenGratis8 menit baca12 dibacaJFMM Participant

Javier baru saja tertidur ketika Dita akhirnya duduk di lantai kamar, bersandar ke tepi ranjang. Rumah sepi. Suaminya belum pulang kerja, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, tidak ada yang menariknya, minta digendong, atau menangis karena giginya sedang tumbuh. Dita menatap langit langit, lalu tanpa sadar teringat sesuatu yang sudah lama tidak ia pikirkan.

Ia teringat sore itu, belasan tahun lalu, ketika ia masih SMP dan pulang membawa nilai ulangan matematika tujuh puluh delapan.

"Kenapa cuma segini?" tanya Viona waktu itu, mengambil kertas ujian dari tangan Dita tanpa basa basi.

"Kan lumayan, Bu. Kelas rata ratanya enam puluh lima."

"Ibu nggak nanya nilai anak lain. Ibu nanya kenapa nilaimu cuma segini."

Dita ingat betul rasanya saat itu, bukan marah, tapi bingung. Semacam ada standar yang tidak pernah dijelaskan tapi harus dipenuhi. Bertahun tahun kemudian, standar itu terus mengikutinya, dalam bentuk yang berbeda beda. Ketika adiknya, Bian, belum bisa mengikat tali sepatu, Viona menyuruh Dita yang mengajari, padahal Dita sendiri baru saja belajar bulan sebelumnya.

"Aku juga baru bisa, Bu," protes Dita kecil waktu itu.

"Makanya diajarin. Kamu kakaknya."

Kalimat itu, kamu kakaknya, seolah jadi jawaban untuk segala hal yang tidak masuk akal. Kenapa harus mengalah. Kenapa harus lebih dulu tahu. Kenapa harus selalu punya jawaban duluan sebelum ditanya. Dita tidak pernah benar benar protes soal itu. Ia hanya menurut, seperti biasa, sambil diam diam bertanya dalam hati, siapa yang mengajari dia sendiri dulu.

Yang paling sering membuatnya bingung justru soal yang lain, soal Ayah.

Dita ingat suatu malam, saat ia sudah kuliah dan pulang membawa cerita tentang seseorang yang sedang dekat dengannya.

"Orangnya kayak gimana?" tanya Viona sambil melipat cucian di ruang tengah.

"Baik, Bu. Suka bantuin aku pas lagi susah."

"Asal jangan kayak ayahmu ya."

Dita berhenti sejenak. "Kenapa emang, Bu, kalau kayak Ayah?"

Viona tidak langsung menjawab. Ia menata kaus dengan rapi, seakan sedang menata sesuatu yang lain di kepalanya. "Ibu cuma nggak mau kamu ngerasain yang Ibu rasain."

Dita diam. Ia tidak pernah tahu persis apa yang dimaksud Ibunya, karena Viona tidak pernah bercerita detail. Tapi di kepala Dita, Ayah bukan sosok yang menakutkan. Ayah adalah orang yang membangunkannya subuh subuh untuk memancing, meski hasilnya sering kosong. Ayah adalah orang yang menyimpan potongan koran lama, tempat nama Dita pernah dimuat karena menang lomba baca puisi waktu SD. Mungkin benar, sebagai suami, Ayah bukan yang sempurna di mata Viona. Tapi Dita punya sudut pandang yang berbeda, sudut pandang seorang anak, bukan seorang istri.

"Bu," kata Dita malam itu, mencoba pelan pelan, "kalau misalnya jalan hidupku nanti mirip mirip sama jalan hidup Ibu dulu, itu salah, ya?"

Viona menatapnya lama. "Ibu cuma nggak mau kamu ngulang kesalahan Ibu, Dit."

"Tapi belum tentu hasilnya sama kayak yang Ibu alami dulu, kan?"

Tidak ada jawaban malam itu. Viona hanya melanjutkan melipat cucian, dan Dita tahu, untuk saat itu, percakapan sudah selesai.


Bertahun tahun kemudian, jawaban itu datang bukan dari Viona, tapi dari Bian.

Bian, yang dulu tidak bisa mengikat tali sepatu, sekarang duduk di seberang Dita di sebuah kafe kecil, memainkan sedotan minumannya sambil bertanya, "Kak, gimana sih caranya biar nggak takut gagal pas udah gede nanti? Aku takut, Kak. Semua orang kayaknya udah tau mau ke mana, aku aja masih bingung."

Dita tersenyum kecil. Ia teringat dirinya sendiri di usia Bian sekarang, meraba raba jalan sendirian, mencoba dan gagal berkali kali tanpa ada yang menuntunnya. Waktu itu ia pikir semua itu sia sia. Tapi ternyata tidak. Semua itu jadi bekal, untuk saat ini, untuk pertanyaan Bian.

"Nggak ada yang nggak takut gagal, Bi," kata Dita. "Kakak juga takut. Sampai sekarang juga masih takut."

"Tapi Kakak kayaknya baik baik aja, deh."

Dita tertawa pelan. "Itu karena kamu cuma liat hasilnya, bukan prosesnya."

Saat itulah, di tengah kafe yang ramai, Dita akhirnya mengerti sesuatu yang selama ini samar samar saja ia rasakan. Bian melihatnya sebagai orang yang berhasil. Sebagai contoh. Dan itu artinya, semua hal yang dulu terasa berat, semua tuntutan Viona yang dulu terasa tidak adil, sebetulnya bukan tentang membuat Dita sempurna. Itu tentang membuat Dita jadi seseorang yang bisa dijadikan pegangan, oleh orang lain, terutama oleh Bian.

Dita akhirnya paham, Viona tidak pernah takut Dita gagal. Viona takut Dita berhenti sebelum sempat berhasil. Semua kekerasan kecil dalam didikan Viona, semua standar yang tidak pernah dijelaskan, semua larangan soal calon pasangan, sebetulnya lahir dari satu hal yang sama, ketakutan seorang ibu supaya anak perempuan pertamanya bisa lebih tangguh, dan lebih bahagia, daripada dirinya sendiri.


Malam itu, setelah pulang dari kafe, Dita duduk di dekat ranjang Javier yang sudah tertidur pulas. Ia mengelus rambut anaknya pelan, lalu mengambil ponsel dan mengetik pesan singkat untuk Viona.

"Bu, tidur belum?"

Balasan datang tidak lama kemudian. "Belum, Dit. Ada apa?"

Dita menatap layar cukup lama sebelum akhirnya membalas.

"Nggak ada apa apa, Bu. Cuma mau bilang makasih aja."

"Makasih buat apa?"

Dita tersenyum sendiri, walau tidak ada yang melihatnya.

"Makasih udah bikin aku jadi kayak sekarang. Dulu aku sering nanya nanya kenapa Ibu keras banget sama aku. Sekarang aku ngerti."

Balasan Viona datang beberapa menit kemudian, singkat saja, tapi Dita tahu ada banyak hal di baliknya.

"Ibu cuma pengen kamu lebih kuat dari Ibu, Dit. Itu aja."

Dita menatap layar ponselnya lama, lalu meletakkannya di meja. Ia menoleh ke arah Javier yang tidur dengan tenang, kedua tangan kecilnya menggenggam ujung selimut. Suatu hari nanti, Javier mungkin juga akan bertanya, kenapa Ibunya keras, kenapa Ibunya melarang ini itu, kenapa Ibunya ingin dia jadi begini begitu.

Dan kalau hari itu tiba, Dita sudah tahu harus mulai dari mana menjawabnya.

Dari instingnya sebagai seorang Ibu yang takut anaknya tidak bisa menghadapi dunianya nanti.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen