Untuk Mama Tersayang,
Lewat lembaran surat ini, aku ingin meluangkan waktu sejenak untuk menuliskan semua rasa, rindu, dan terima kasih yang mungkin selama ini jarang terucap langsung dari bibirku. Menjadi satu-satunya anak perempuan di antara empat bersaudara di rumah kita adalah sebuah takdir yang sangat aku syukuri. Sejak awal, posisi itu membuatku tumbuh dalam dekapan perhatian yang begitu istimewa dan limpahan kasih sayang yang luar biasa dari Mama.
Kalau aku menoleh ke belakang, memori masa kecilku dipenuhi oleh bayang-bayang betapa rapuhnya fisikku dulu. Aku ingat betul bagaimana aku sering sekali sakit-sakitan, hingga rumah sakit rasanya sudah seperti rumah kedua karena kita harus keluar masuk demi kesembuhanku. Di tengah malam-malam yang melelahkan itu, aku tahu Mama adalah orang yang paling terjaga dan cemas. Aku juga masih ingat betapa repotnya Mama setiap kali membujukku yang luar biasa keras kepala saat disuruh minum obat puyer. Rasa pahit obat itu selalu kusambut dengan tangisan, dan Mamalah dengan kesabaran tanpa batas yang selalu punya trik unik; setiap kali obat puyer itu berhasil masuk, Mama langsung menyuapiku dengan buah pisang dan menyuruhku minum air yang banyak supaya rasa pahitnya yang pekat bisa langsung hilang.
Kasih sayang dan perlindungan Mama tidak berhenti di dalam rumah saja, tapi terus mengawal langkahku sampai ke sekolah. Mama selalu merasa cemas dan dengan penuh rasa sayang sengaja mewanti-wanti para guru di sekolah agar menjagaku dengan ketat. "Jangan sampai dia kelelahan," mungkin itu kalimat yang selalu Mama pesankan. Alhasil, di sekolah pun aku selalu mendapatkan perhatian ekstra dari semua guru yang memperlakukanku dengan sangat lembut. Aku tidak akan pernah lupa bagaimana serunya saat Mama mengajakku pergi jalan-jalan ke Kebun Binatang. Mama bahkan rela membuatku bolos sekolah demi bisa menyenangkan hatiku dan melihatku tertawa. Waktu kecil, aku benar-benar hidup dalam dunia yang indah karena sangat dimanja oleh Mama dan Papa.
Nyatanya, perlakuan manja itu tidak berhenti hanya pada waktu aku kecil saja, melainkan masih sangat aku rasakan sampai sekarang saat aku sudah tumbuh dewasa. Namun jujur, begitu memasuki fase kedewasaan dan mulai melangkah di dunia nyata, aku sempat merasa kaget dan kewalahan. Aku menemui banyak sekali kesulitan yang belum pernah kuhadapi sebelumnya. Karena masa kecilku yang selalu penuh kemudahan dan dimanja, aku sempat merasa gagap karena merasa tidak pernah diajari bagaimana rasanya hidup sulit, atau bagaimana kerasnya berjuang dari bawah untuk mendapatkan apa yang kita mau.
Di sisi lain, karena sekarang aku sudah dewasa, terkadang rasa manja dan perhatian yang berlebihan dari Mama dan Papa justru membuatku merasa jengah. Aku sering merasa tidak diberikan kepercayaan seutuhnya bahwa aku sebenarnya bisa mandiri menghadapi hidup. Karena perbedaan pandangan ini, ribut-ribut kecil di antara kita pun selalu ada. Ditambah lagi, sejak masa kuliah dulu, Mama dan Papa tidak pernah mengharuskan atau mendikteku harus mengambil jurusan ini atau itu. Mama dan Papa membebaskanku sepenuhnya tanpa ada arahan khusus, yang di satu sisi memberiku ruang, namun di sisi lain sempat membuatku bingung mencari arah sendirian.
Tetapi, seiring berjalannya waktu dan setelah merenungkan banyak hal, aku akhirnya menyadari sebuah keajaiban di balik caramu memanjakanku dulu. Limpahan cinta dan rasa manja yang Mama siramkan di masa kecilku ternyata tidak sia-sia. Didikan penuh kasih itu justru membentuk sisi terbaik dalam diriku hari ini. Karena masa kecilku dipenuhi oleh cinta yang utuh, aku tumbuh menjadi orang dewasa yang bisa ikut merasakan kesedihan orang lain, peduli pada sesama, dan mampu menempatkan diri di posisi mereka. Aku sangat bersyukur karena aku bisa melangkah di dunia yang keras ini dengan hati yang tenang, tanpa membawa rasa sakit terpendam atau bayang-bayang masa lalu yang pahit dari masa kecilku. Jiwaku tumbuh sehat karena kasih sayang yang Mama Papa berikan sejak dulu.
Mama, aku juga tahu bahwa mungkin saat ini aku belum bisa menjadi sosok anak ideal yang sempurna, atau anak yang persis seperti yang diidam-idamkan oleh semua orang tua pada umumnya. Jalan hidup yang kupilih dan kujalani mungkin terlihat biasa saja di mata orang lain, hampir lurus-lurus saja tanpa adanya pencapaian yang megah atau mewah. Namun, di dalam hidupku yang sederhana ini, aku selalu memegang teguh satu prinsip yang menjadi kompas hidupku: aku hanya ingin berfokus untuk menyenangkan diri sendiri dan mencari kebahagiaanku, tanpa pernah ada niat sedikit pun untuk menyusahkan, merugikan, atau menjadi beban bagi orang lain. Prinsip hidup yang mandiri dan damai ini adalah buah dari ketenangan masa kecil yang Mama hadiahkan kepadaku.
Pada akhirnya, kehidupan luar telah mengajarkanku bahwa tidak ada manusia atau orang tua yang sempurna di dunia ini. Namun bagiku, seperti apa pun keadaannya, Mama tetaplah Mama yang rahimnya menjadi tempat pertamaku bernapas, yang telah melahirkan, merawat, menjaga, dan membesarkanku dengan seluruh jiwa dan ragamu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi itu. Terima kasih yang tak terhingga atas setiap pelukan hangat, perlindungan yang tak pernah absen, dan cinta tulus yang luasnya tidak akan pernah bisa kuhitung, Ma.
Semoga Mama selalu diberikan kesehatan, umur yang berkah, dan kebahagiaan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Dari anak perempuanmu satu-satunya, yang selalu mencintai dan menyayangimu di setiap waktu.
