“Maaf, Bu… Aku Belum Bisa Membalas Semua Pengorbananmu”
Bu, kalau aku boleh mengulang waktu, mungkin aku ingin kembali ke masa ketika aku masih menjadi anak kecil yang belum mengerti betapa beratnya perjuangan seorang ibu.
Dulu, aku hanya tahu bahwa aku harus sekolah, kuliah, belajar, dan mengejar cita-cita. Aku tidak pernah benar-benar memahami dari mana biaya kuliahku berasal, bagaimana ibu memikirkan kebutuhan sehari-hari, dan berapa banyak hal yang mungkin ibu korbankan agar aku bisa menyelesaikan pendidikan sampai S1.
Ibu selalu bilang, “Yang penting kamu sekolah, Nak. Jangan pikirkan yang lain.”
Sekarang setelah aku dewasa, baru aku sadar bahwa kalimat sederhana itu ternyata menyimpan pengorbanan yang begitu besar.
Ibu membiayai kuliahku dengan harapan suatu hari nanti aku bisa berdiri dengan kakiku sendiri. Mungkin ibu membayangkan setelah aku lulus, aku bisa mendapatkan pekerjaan yang baik, membantu keluarga, dan sedikit demi sedikit membalas semua jasa ibu.
Aku juga punya harapan yang sama.
Aku membayangkan hari ketika aku bisa memberikan sesuatu kepada ibu dari hasil kerja kerasku sendiri. Membelikan ibu sesuatu yang selama ini ibu inginkan. Mengajak ibu pergi. Membantu kebutuhan rumah. Atau sekadar mengatakan, “Bu, sekarang giliran aku yang membahagiakan ibu.”
Tapi kenyataan ternyata tidak seperti yang aku bayangkan.
Setelah perjuangan panjang menyelesaikan kuliah sampai S1, justru tubuhku memberikan ujian yang tidak pernah aku minta. Aku terkena penyakit autoimun. Kondisi tubuhku berubah. Banyak hal yang dulu bisa kulakukan menjadi sulit.
Di saat seharusnya aku mulai membalas jasa ibu, aku malah masih harus berjuang dengan keadaan diriku sendiri.
Itulah yang paling membuat hatiku sakit.
Bukan karena aku tidak bersyukur kepada Tuhan. Bukan juga karena aku menyalahkan siapa pun. Aku hanya merasa sedih karena sampai sekarang aku belum mampu memberikan apa yang selama ini ibu harapkan dariku.
Kadang aku merasa seperti anak yang mengecewakan.
Ibu sudah mengeluarkan banyak tenaga, waktu, pikiran, dan biaya untuk membuatku menjadi seorang sarjana. Tetapi setelah aku lulus, bukannya langsung bisa membantu ibu, aku malah masih berada dalam keadaan yang membuatku membutuhkan banyak dukungan.
Maaf, Bu.
Maaf kalau sampai hari ini aku belum bisa membalas semua pengorbananmu.
Maaf kalau ijazah yang dulu ibu perjuangkan dengan susah payah belum bisa membuat hidupku seperti yang kita bayangkan.
Tapi Bu, ada satu hal yang ingin ibu tahu.
Aku tidak pernah melupakan semua pengorbananmu.
Setiap kali aku merasa gagal, aku selalu teringat bahwa ada seorang ibu yang pernah percaya kepadaku bahkan ketika aku sendiri tidak percaya kepada diriku sendiri.
Mungkin aku belum bisa membalasnya dengan uang.
Mungkin aku belum bisa memberikan kehidupan yang lebih baik untuk ibu.
Tetapi aku masih ingin berjuang.
Aku tidak tahu kapan tubuhku akan kembali kuat. Aku tidak tahu kapan kesempatan pekerjaan akan datang. Aku juga tidak tahu seperti apa masa depanku nanti.
Namun aku ingin terus mencoba.
Karena aku ingin suatu hari nanti melihat ibu tersenyum dan berkata, “Ternyata semua perjuangan ibu tidak sia-sia.”
Bu, kalau suatu hari nanti aku berhasil berdiri kembali, orang pertama yang ingin aku bahagiakan adalah ibu.
Dan kalau sampai sekarang aku belum mampu membalas semua jasamu, semoga ibu tidak pernah mengira bahwa aku tidak menghargai pengorbananmu.
Aku hanya sedang berjuang dengan cara yang mungkin tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Terima kasih sudah membiayai kuliahku sampai S1. Terima kasih sudah percaya kepadaku. Dan maaf, Bu… sampai hari ini aku masih belum bisa membalas semuanya.
Tapi aku berjanji, selama masih ada kesempatan untuk berjuang, aku tidak akan berhenti mencoba.
Aku ingin suatu hari nanti, ibu tidak lagi melihatku sebagai anak yang harus dibantu, tetapi sebagai anak yang akhirnya bisa berkata: “Bu, sekarang biar aku yang membantu ibu.”

