CeritaGW
Cerpen
Cerpen966 kata

Benar, Rindu itu Berat...

AN

Anisa N.J

Sekali duduk selesai

28 September 2026

Mulai membaca

Hari itu, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya. Padahal suara-suara masih terdengar dari dapur. Piring beradu pelan, pintu kamar dibuka-tutup, sesekali terdengar suara saudara-saudara memanggil namanya. Namun entah mengapa, pagi itu segala sesuatu terasa seperti sedang berpamitan, lesu.

Laras duduk di kasur yang letaknya tepat di depan lemarinya, sambil memandangi beberapa helai pakaian yang tersisa. Sebagian besar sudah dimasukkan ke dalam koper sejak beberapa hari lalu. Koper besar berwarna coklat tua itu tergeletak di sudut kamar, penuh dengan pakaian dan beberapa perintilannya.

Besok ia akan pergi. Bukan untuk liburan, bukan untuk beberapa hari, tapi Ia akan pergi jauh, dan kali ini mungkin akan sangat lama untuk pulang ke rumah tempat Ia menghabiskan masa kecilnya dulu.

Setelah menikah, Laras memilih untuk ikut suaminya merantau ke salah satu kota di ujung Barat Pulau Sumatera. Kota yang belum pernah ia tinggali, bahkan terfikirkan untuk sekedar jalan-jalan kesanapun tidak. Sama sekali tidak ada bayangan tentang kota itu di benaknya. Ya, untuk pertama kalinya dalam hidup, ia akan benar-benar meninggalkan rumah. Rumah yang selama ini selalu menjadi tempat ia pulang.

Dan pagi itu adalah pagi terakhirnya sebagai seorang anak yang masih bisa dengan mudah menemukan ayahnya di ruang tengah, memanggil saudara-saudaranya dari kamar sebelah, atau duduk bersama keluarga tanpa memikirkan jarak. Ia menarik napas panjang, ingin rasanya menangis, tapi sangat berat air mata itu untuk jatuh.

"Besok kami berangkat, Yah."

Kalimat yang sederhana, namun entah mengapa, ketika mengatakannya, dadanya terasa sesak sekali. Ayahnya yang sedang duduk di ruang tengah hanya mengangguk pelan.

"Iya, Nak"

Hanya satu kata. Tetapi matanya sudah berkaca-kaca. Ayah Laras sebenarnya juga sangat berat untuk melepas putri kecilnya untuk pertama kalinya pergi jauh dari pantauannya. Tapi hari itu pasti akan tiba, dan Ia harus siap dengan semuanya, karena kali ini putri kesayangannya akan pergi dengan laki-laki pilihannya yang sudah Ia restui.

Bandara pagi itu dipenuhi suara pengumuman keberangkatan. Orang-orang berjalan cepat dengan koper masing-masing. Ada yang tampak terburu-buru, ada yang tersenyum, ada pula yang sibuk memeluk orang-orang yang mengantarnya. Laras berdiri di depan Ayah dan saudara-saudaranya, suaminya berdiri tepat di sampingnya, tak lepas genggaman tangan itu mendekap erat kelima jarinya. Sementara ayahnya terus memandangi wajah putrinya seperti sedang berusaha menghafalnya untuk waktu yang lama.

"Nak Laras, jaga diri baik-baik, ya"

"Mas Bas, titip putri Ayah ya, Nak".

Suara ayah bergetar, dan wajahnya semakin memerah.

"Iya, Yah", ucap Laras lirih sambil mengusap setitik air mata di ujung matanya.

"Kalau sudah sampai Aceh, langsung kabari Ayah ya, Nak."

"Jangan lupa makan."

Tak terbendung lagi, pecahlah tangisan Laras sambil memeluk Ayahnya.

"Iya, Yah. Laras akan ingat semua pesan Ayah. Ayah sehat ya, Yah. Jangan sampai lupa jam minum obat ya, Yah!"

"Iya, Nak." Air mata Ayah pun sudah tak sanggup lagi untuk dibendung, pecah semua tangisan.

"Kalau kangen telepon Ayah ya, Nak".

Pelukan anak perempuan itu semakin erat melingkar ke tubuh Ayahnya. Dan di dalam pelukan itu, ia kembali merasa seperti anak kecil. Anak perempuan yang dulu selalu menggenggam tangan ayahnya ketika takut.

Anak perempuan yang selalu tahu ke mana harus pulang.

Namun hari itu, tangan yang biasa menggenggamnya harus dilepaskan.

Ayahnya menangis. Bukan tangis yang keras. Hanya bahunya yang bergetar dan napasnya yang terdengar berat.

"Jadilah istri yang baik," bisiknya.

"Iya, Yah."

"Jangan takut."

Ia mengangguk di bahu ayahnya. Padahal ia sendiri tahu, ia sangat takut. Bukan takut pada kota baru, bukan takut pada perjalanan panjang. Tapi ia takut pada rasa sepi yang mungkin menunggunya setelah pesawat mendarat.

Dan ternyata, ketakutannya benar. Hari-hari pertama di perantauan terasa panjang, terlalu panjang.

Rumah baru itu tidak buruk. Bahkan cukup nyaman. Suaminya selalu berusaha membuatnya merasa betah. Namun tetap saja, ada sesuatu yang hilang.

Tidak ada suara saudara yang bertengkar dari kamar sebelah, dan tidak ada suara ayah memanggil namanya dari ruang tengah.

Di kota itu, hampir semua orang adalah orang asing. Ia belum punya teman, belum tahu harus pergi ke mana.

Malam hari menjadi waktu yang paling berat. Ketika suaminya sudah tertidur, ia sering diam-diam membuka ponsel. Melihat foto keluarga, membaca percakapan lama, mendengarkan rekaman suara ayahnya.

Lalu menangis.

Kadang ia menelepon, hanya untuk mendengar suara ayah. Semenjak Ibunya meninggal, Laras memang paling dekat dengan Ayahnya dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain.

"Sudah makan?"

"Sudah, Yah."

"Di sana bagaimana?"

"Baik."

Jawabannya selalu sama, "Baik". Padahal setelah telepon ditutup, air matanya kembali mengalir.

Ia rindu. Rindu sekali.

Rindu rumah sampai rasanya ingin membeli tiket pesawat saat itu juga dan pulang. Benar, rindu itu berat.

Suaminya tahu istrinya sedang berjuang melawan sesuatu yang tidak terlihat. Maka ia tidak pernah memaksa. Tidak pernah berkata, "Kamu harus cepat terbiasa." Sebaliknya, ia hanya duduk di sampingnya. Mengusap kepalanya. Memeluknya ketika tangis datang.

"Kalau kamu kangen rumah, nggak apa-apa," katanya suatu malam. Istrinya menatapnya dengan mata sembap.

"Aku kangen Ayah"

"Aku tahu"

"Aku kangen semuanya"

Suaminya tersenyum kecil.

"Kalau begitu, kita telepon Ayah."

"Udah malam." Kata Laras

"Yaudah, Besok kita telfon Ayah ya, sayang". Ia mengusap rambut istrinya. "Pelan-pelan. Kamu nggak harus langsung betah."

Kalimat sederhana itu justru membuat tangisnya semakin deras.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Tanpa disadari, sesuatu mulai berubah. Ia mulai hafal jalan menuju pasar, mulai mengenal tetangga, mulai punya teman untuk sekadar berbincang, mulai tahu warung mana yang makanannya enak. Mulai mengenal sudut-sudut kota yang dulu terasa asing.

Dan suatu sore, ketika sedang duduk di teras bersama suaminya, Laras tiba-tiba tersadar. Ia sudah tidak menangis setiap hari. Ia masih rindu, tentu saja. Rindu kepada keluarga tidak pernah benar-benar hilang.

Namun kini rasa rindu itu tidak lagi terasa seperti luka. Ia mulai mengerti bahwa mungkin begitulah cara hidup bekerja.

"Benar ya, rindu itu berat", sambil tersenyum ia berkata pada Mas Baskara, suaminya. Bas pun membalas senyuman istrinya dengan cubitan kecil ke pipi istrinya.

"Iya sayang, kalau gitu yuk kita video call Ayah..."

Merantau adalah tentang belajar menerima bahwa hidup akan selalu membawa kita ke tempat-tempat baru.

Dan sejauh apa pun langkah membawa pergi, hati akan selalu tahu jalan untuk pulang. Sebab rumah, pada akhirnya, tidak pernah benar-benar jauh. Ia tinggal di dalam hati.

Dan kali ini, di kota yang jauh dari keluarganya, ia menemukan satu alasan untuk tetap tersenyum, Ia tidak sendirian. Ada seseorang di sampingnya yang akan berjalan bersamanya, melewati hari-hari asing, sampai kota rantau itu perlahan-lahan berubah menjadi rumah.