CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Bekas Luka
Bekas Luka

Bekas Luka

oleh Wangi Gitaswara
CerpenGratis4 menit baca15 dibacaJFMM Participant

Waktu kecil, aku pikir semua ibu punya bekas luka.

Mungkin karena aku mengenal tubuh Ibu lebih baik daripada dirinya sendiri.

Aku tahu tahi lalat kecil di bawah pipi kanannya. Tahu kulit kasar di sikunya. Tahu bahwa ketika terlalu lama berdiri di dapur, urat-urat di punggung tangannya akan muncul seperti akar yang mencari jalan keluar dari tanah.

Dan aku tahu dua bekas luka.

Satu di kening.

Satu lagi di pergelangan tangannya.

Setiap pagi, Ibu menyisir rambut di depan cermin yang sama. Cermin besar dengan bingkai kayu cokelat yang sudah kusam. Aku sering berdiri di belakangnya, memperhatikan bayangan kami berdua.

Aku yang kecil dengan rambut berantakan.

Ibu dengan rambut yang selalu disisir rapi.

Dan garis tipis di keningnya.

“Kenapa itu, Bu?”

Ibu melihat bayanganku melalui cermin.

“Jatuh.”

Jawabannya sederhana.

Maka aku percaya.

Dalam pikiranku, Ibu kecil pernah berlari di halaman, tersandung sesuatu, lalu jatuh dengan kening lebih dulu.

Bekas di pergelangan tangannya lebih sulit.

Aku melihatnya ketika Ibu sedang mencuci pakaian. Lengan bajunya terangkat sedikit dan dua garis pucat muncul di kulit.

“Kalau ini?”

Ibu segera menarik lengan bajunya.

“Sudah lama.”

Aku mengangguk.

Anak-anak memang pandai menerima jawaban yang tidak lengkap.

Bapak berbeda.

Bapak selalu punya waktu untuk menjawab pertanyaanku.

Kenapa bulan mengikuti kita.

Kenapa kucing tidak memakai sepatu.

Kenapa Ibu bisa memasak makanan yang sama berkali-kali tanpa bosan.

Bapak menjawab semuanya dengan serius, seolah pertanyaanku adalah perkara penting.

Ia juga orang pertama yang mengajariku naik sepeda.

Ketika aku jatuh, ia tidak langsung mengangkatku.

“Coba berdiri sendiri dulu, Nara.”

Aku menangis.

Bapak tersenyum dari belakang.

“Bapak di sini.”

Aku berdiri.

Begitulah Bapak.

Selalu beberapa langkah di belakang, tetapi tidak pernah benar-benar pergi.

Sampai suatu hari ia pergi untuk selamanya.

Setelah Bapak meninggal, rumah menjadi lebih besar.

Aneh, karena tidak ada satu pun dinding yang berubah.

Hanya suara Bapak yang hilang.

Setelah itu, Ibu sering melamun.

Di depan jendela.

Di meja makan.

Bahkan ketika sedang memasak, tangannya kadang berhenti di udara.

Aku pernah bertanya, “Ibu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

Ia tersenyum.

Lalu kembali mengaduk.

Aku pikir ia hanya merindukan Bapak.

——

Tahun-tahun berlalu.

Bekas luka di kening Ibu semakin samar.

Begitu juga yang di tangannya.

Tubuh ternyata pandai menyembunyikan sejarah.

Aku pun tumbuh.

Kuliah.

Bekerja.

Pulang semakin jarang.

Namun setiap kali kembali, aku masih menemukan Ibu di tempat-tempat yang sama.

Di kursi dekat jendela.

Di dapur.

Di depan cermin.

Kadang ia melamun begitu lama sampai aku harus memanggilnya dua kali.

Kami tidak pernah pandai membicarakan kesedihan.

Kami hanya duduk berdampingan dan membiarkan keheningan mengatakan apa yang tidak sanggup kami ucapkan.

———

Beberapa bulan sebelum Ibu meninggal, kami melipat pakaian bersama.

Tangannya gemetar sedikit.

Aku mengambil baju dari pangkuannya. Lengan bajunya tersingkap, dan bekas luka itu terlihat lagi.

Aku menyentuhnya.

“Bu.”

“Hm?”

“Dulu luka ini karena apa?”

Ibu diam. Cukup lama.

Kemudian tersenyum.

“Lupa.”

Aku tahu ia berbohong. Tetapi kali ini aku tidak bertanya lagi. Aku hanya menggenggam tangannya.

Tangan yang dulu menggenggam tanganku ketika aku belajar berjalan.

Tangan yang mengancingkan seragamku.

Tangan yang mengusap keningku ketika demam.

Tangan yang ternyata menyimpan cerita jauh sebelum aku hadir.

———

Setelah Ibu meninggal, aku menemukan sebuah kotak tua di lemari.

Di dalamnya ada beberapa foto Bapak, surat-surat lama, dan sebuah buku kecil.

Aku membukanya. Hampir semua halaman kosong. Hanya beberapa tanggal. Beberapa kalimat. Dan satu malam yang ditulis berulang kali dengan kata-kata berbeda.

Aku membaca sampai selesai.

Baru kemudian aku mengerti.

Bekas di kening Ibu bukan karena jatuh.

Dan bekas di pergelangan tangannya bukan kecelakaan.

Jauh sebelum aku lahir, ada suatu malam ketika Ibu mencoba mengakhiri hidupnya.

Aku menutup buku itu.

Lama sekali aku duduk tanpa bergerak.

Kemudian aku melihat sebuah foto yang terselip di antara halaman.

Bapak dan Ibu.

Masih muda.

Bapak tersenyum ke arah kamera.

Ibu tidak.

Ia justru sedang melihat Bapak.

Aku tiba-tiba mengerti mengapa setelah Bapak pergi, Ibu sering melamun.

Mungkin sebagian dirinya masih tinggal di masa itu.

Di sebuah rumah yang belum kehilangan suara Bapak.

Di sebuah kehidupan ketika ia belum menjadi ibu.

Aku menangis.

Bukan karena akhirnya mengetahui bahwa Ibu pernah hampir pergi.

Tetapi karena baru sekarang aku memahami betapa banyak kehidupan yang ia jalani sebelum aku mengenalnya.

Ia pernah menjadi anak kecil.

Pernah menjadi perempuan muda.

Pernah merasa sangat sendirian.

Pernah mencintai.

Pernah kehilangan.

Dan setelah semuanya, ia tetap memilih untuk tinggal.

———

Beberapa hari kemudian, aku berdiri di depan cermin lama milik Ibu. Aku menatap wajahku sendiri untuk beberapa saat.

Lalu aku melihatnya.

Tahi lalat kecil di bawah pipi kananku.

Sama persis seperti milik Ibu.

Aku tersenyum sambil menyentuhnya pelan.

Dan di dalam cermin, untuk sesaat, aku merasa seperti sedang berdiri di samping Ibu lagi.

Bukan sebagai anak yang sedang mencari tahu apa yang pernah terjadi padanya.

Hanya sebagai Nara.

Anak perempuannya.

Dengan tahi lalat kecil yang sama.

Aku mengusapnya sekali lagi sebelum beranjak dari cermin.

Beberapa hal memang diwariskan.

Tidak semuanya harus berupa luka.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen