CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Bayang-bayang di sudut kamar
BB

Bayang-bayang di sudut kamar

oleh Dewi Andriani
CerpenGratis9 menit baca1 dibacaJFMM Participant

Lantai kamar terasa dingin menembus kain daster yang dikenakan Bunga. Di sudut ruangan itu, ia melipat lututnya rapat-rapat, menyembunyikan wajah di balik kedua lengan. Suara tangisnya diredam sekuat tenaga, kalah bersaing dengan dengkur halus anak ketiganya yang baru saja tertidur—setelah hampir dua jam menangis tanpa henti karena tantrum.

Di luar kamar, tumpukan pakaian kotor melambai-lambai, cucian piring menumpuk di bak cuci, dan sisa mainan anak-anak berantakan di sudut ruang tamu.

Bunga mengusap air matanya yang terus menetes. Baru sebulan lalu ia menanggalkan statusnya sebagai pekerja kantoran. Kala itu, keputusannya resign terasa begitu mantap. Ia ingin melimpahkan seluruh waktunya untuk menemani tumbuh kembang ketiga buah hatinya. Apalagi adik bungsunya tinggal dua bulan lagi lulus SMA. Bunga merasa beban moralnya membimbing keempat adiknya—yang ia pikul sejak sang Ayah berpulang saat ia kelas 3 SMA—akhirnya sedikit terangkat.

Satu bulan pertama berjalan penuh riak kebahagiaan. Bunga menikmati peran barunya. Namun, seiring berjalannya hari, kenyataan menamparnya tanpa ampun.

Jadwal tidur yang berantakan, waktu makan yang kerap terlewat, hingga kelelahan fisik dan mental dari pekerjaan rumah yang seolah tak pernah ada habisnya, pelan-pelan mengikis kewarasannya. Ia merindukan masa-masa bekerja. Waktu di mana ia punya jam istirahat yang jelas, makan siang yang tenang, teman mengobrol, dan penghasilan sendiri.

“Bu, ternyata susah ya jadi seorang Ibu…” bisik Bunga pada hening malam, dadanya sesak oleh sesal.

Pikirannya melayang pada sosok Ibunya di kampung halaman. Bagaimana bisa seorang wanita tunggal, setelah ditinggal wafat suaminya, sanggup membesarkan lima anak yang masih kecil-kecil? Ibunya tidak hanya mengurus rumah dan mendidik anak, tetapi juga berjualan hingga larut malam demi memastikan ada nasi di meja dan biaya sekolah untuk anak-anaknya.

Sedangkan Bunga? Mengurus rumah dan tiga anak dengan suami yang masih mendampingi saja rasanya sudah membuat jiwanya remuk.

Dengan jemari bergetar, Bunga merogoh saku gaunnya, mengambil ponsel, lalu menekan nomor yang paling ia hafal. Hanya butuh dua nada dering sebelum suara lembut di ujung sana menyapa.

“Ibu…” suara Bunga serak, menahan isak. “Bunga pusing, Bu. Anak-anak tantrum terus dari sore. Kerjaaannya rumah nggak ada selesainya. Bunga capek…”

Di balik telepon, suara sang Ibu terdengar teduh tanpa beban, seolah memiliki sumur kesabaran tanpa batas.

“Sabar ya, Nak. Itu ladang pahala buat kamu. Kamu pasti bisa, Ibu yakin.”

Kata-kata itu menyengat ulu hati Bunga. Menjadi seorang ibu baru menyadarkannya betapa kerasnya perjuangan sang Ibu selama ini. Betapa sakitnya harus tetap berdiri tegak di depan anak-anak meski tubuh sudah menjerit kelelahan. Dan betapa pedihnya hati seorang ibu ketika perkataan anaknya melukai perasaannya.

Sebuah memori lama mendadak berputar kembali di kepala Bunga.

Ia teringat belasan tahun lalu, ketika ia pulang sekolah dalam keadaan lapar. Makanan di meja kosong karena bahan dapur habis dan Ibunya belum sempat berjualan. Saat itu, Bunga yang emosi tega membentak Ibunya dengan kata-kata kasar. Wajah ibunya kala itu hanya tertunduk membisu, menyembunyikan luka.

Tuhan, betapa banyaknya dosaku pada Ibu, batin Bunga teriris.

Bunga menggenggam ponsel di telinganya erat-erat, mendengarkan napas sang Ibu yang teratur di balik sambungan telepon. Ia tak sanggup mengutarakan penyesalan yang membuncah di dadanya, hanya ratapan membisu yang bergemuruh di dalam hati:

Bu, hidup lebih lama ya... Izinkan aku menebus semua kesalahanku waktu lalu. Izinkan aku membahagiakanmu, Bu, aku tidak siap kehilanganmu.

Aku tidak tahu bagaimana dunia ini berjalan tanpamu. Sehat-sehat dan panjang umur ya, Bu…

“Bunga? Masih di sana, Nak?” tegur Ibunya lembut dari seberang telepon.

Bunga buru-buru mengusap air matanya, lalu tersenyum tipis meski bibirnya bergetar. “Iya, Bu. Bunga masih di sini. Terima kasih ya, Bu…”

Malam itu, di sudut kamar yang sepi, Bunga tidak hanya menangisi kelelahannya sebagai seorang ibu, tetapi juga memanjatkan doa paling tulus dalam hatinya untuk wanita luar biasa yang telah membentuk dirinya hari ini.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen