CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Bayang-Bayang di Birem Bayeun
BB

Bayang-Bayang di Birem Bayeun

oleh ayumaylani@gmail.com
CerpenGratis4 menit baca2 dibacaJFMM Participant
Aku tidak tahu apakah pagi masih sudi datang untukku.
Malam itu terlalu pekat. Angin menusuk masuk melalui celah-celah papan gubuk, membawa hawa dingin yang membuat dadaku sesak. Di sampingku, Ibu terbaring pulas. Aku baru saja hendak memejamkan mata ketika langkah kaki itu terdengar.
Pelan. Mengendap. Lalu mendadak begitu dekat.
Aku tersentak. Dalam remang yang pekat, sebaris bayangan tinggi berdiri di ambang pintu. Jantungku menggedor rongga dada—begitu keras hingga aku takut gemuruhnya memecah malam. Aku tidak kenal siapa dia, tetapi satu hal langsung membakar kepalaku: *Ibu dalam bahaya.*
“Mak…” suaraku tertahan di kerongkongan.
Ibu terbangun. Sekilas kulihat matanya membelalak, menangkap kejahatan yang mengintai di balik gelap.
Lelaki itu melangkah maju. Tanpa berpikir panjang, tubuhku bergerak mendahului rasa takut. Aku memotong jarak, menempatkan diriku tepat di depan Ibu. Tanganku gemetar hebat, lututku lemas, tetapi aku menolak mundur.
“Jangan ganggu Mak!” teriakan itu lolos, memecah kesunyian.
Seumur hidupku, aku belum pernah sebegini ketakutan. Namun, membayangkan lelaki itu menyentuh Ibu jauh lebih mengerikan dari kematian apa pun. Katanya, menjadi anak laki-laki berarti harus kuat. Aku tidak peduli pada sebutan pahlawan atau pemberani. Aku cuma tidak ingin melihat air mata melintasi pipi Ibu lagi. Ibu sudah terlalu lelah dipukuli kenyataan, terlalu sering melapap duka sambil bergumam, *“Tidak apa-apa, Nak.”*
Padahal kami berdua tahu, dunia sedang tidak baik-baik saja.
Jika malam ini aku harus menukar nyawaku demi napas Ibu, aku tidak perlu berpikir dua kali.
“Rangga…” panggil Ibu, suaranya parau dan bergetar dari belakang punggungku.
Aku menoleh sekilas. Ada ketakutan luar biasa di mata beliau. Aku ingin tersenyum, ingin bilang bahwa semua akan baik-baik saja. Namun bibirku kaku.
Lelaki itu menerjang.
Aku menahannya dengan segenap tenaga kecil yang kupunya. Mencekeram, mendorong, menjadi benteng terakhir. Memori masa kecil mendadak melintas—saat Ibu menggenggam jemariku di jalanan desa yang gelap gulita sambil berbisik, *“Jangan takut, Nak. Ada Mak.”*
*Malam ini, Mak… biarkan Rangga yang bilang: Jangan takut, ada aku.*
Lalu, dingin logam dan rasa sakit yang tak tertahankan menembus dadaku.
Pandanganku kabur seketika. Tenagaku menguap, ditarik paksa dari balik tulang-tulangku. Tubuhku rubuh menyapu lantai tanah. Suara jeritan Ibu melengking, terdengar makin lama makin jauh, seolah terhalang dinding kabut yang tebal.
“Rangga!”
Aku ingin menjawab. Ingin bilang aku tidak apa-apa. Namun darah memenuhi tenggorokanku. Dari sudut mata yang kian meredup, kulihat bayangan Ibu yang histeris. Ada ribuan kata yang ingin kuucapkan: *Bahwa aku bahagia menjadi anaknya, bahwa aku minta maaf jika setelah ini ia harus kesepian, dan bahwa aku sama sekali tidak menyesali keputusan ini.*
Kata-kata itu terkunci di dada. Pandanganku sepenuhnya gulita.
Aku tidak tahu berapa lama waktu berlalu setelah napas terakhirku terlepas.
Aku tidak menyaksikan bagaimana warga akhirnya berdatangan, atau bagaimana polisi memburu lelaki jahat itu. Yang kudengar dari senyap yang abadi, lelaki itu berhasil ditangkap. Namun di dalam dinginnya sel isolasi, bayang-bayang dosanya sendiri menggerogoti jiwanya. Ia menolak makan, meraung dalam penyesalan yang terlambat, hingga akhirnya memilih mengakhiri hidupnya sendiri di balik jeruji besi.
Namun, kematian pelaku yang tragis itu tidak pernah menyembuhkan apa pun.
Bunuh dirinya tidak menghentikan tangis Ibu. Tidak memutar balik waktu. Tidak mengembalikan anak laki-lakinya yang telah membeku di liat kubur. Bagi Ibu, keadilan manusia terasa hampa ketika rumah kami tetap sunyi tanpa suara tawa.
Kini, setiap kali angin malam berembus menembus dinding gubuk di Birem Bayeun, aku tahu Ibu masih berada di sana. Berdiri mematung, memanggil namaku ke arah kegelapan.
“Rangga…”
Suara itu meremukkan jiwaku, meski aku tak lagi berjiwa. Jika saja ada celah untuk menyampaikan bisikan dari alam ini, aku ingin berbisik lembut di telinganya:
*Mak, jangan menangis lagi...*
Jangan ingat aku sebagai jasad yang bersimbah duka. Ingatlah aku sebagai anak kecil yang dulu gemar meminta makan saat lapar, yang sering membuatmu kesal, dan yang selalu menggenggam tanganmu erat-erat. Jangan pernah menyalahkan dirimu atas malam itu. Aku tidak berdiri karena terpaksa. Aku berdiri karena aku mencintaimu. Sederhana saja.
Di dunia ini, tidak ada keberanian yang benar-benar tanpa rasa takut. Malam itu aku gemetar setengah mati. Namun, cinta seorang anak kepada ibunya ternyata jauh lebih raksasa dibanding rasa takut akan kematian.
Pagi akan terus terbit di Birem Bayeun. Anak-anak lain akan tumbuh dan bermain, kehidupan warga akan terus berjalan. Namun aku tahu, ada satu ruang di hati Ibu yang mati berangkulan dengan malam itu—sebuah luka abadi yang tak akan pernah terobati oleh waktu.
Namaku Rangga. Usiaku terhenti di malam paling pekat itu.
Jasadku mungkin telah menyatu dengan tanah Birem Bayeun, dan pelaku kejahatan itu telah tewas bersama hinaannya. Namun satu hal yang tak akan pernah bisa dihancurkan oleh maut maupun waktu: **bakti seorang anak yang menolak membiarkan ibunya disentuh bahaya.**
Di antara Ibu dan maut, aku memilih berdiri. Dan di sanalah jiwaku tinggal selamanya—menjadi kasih yang tak pernah mati.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen