CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Batas Ruang Rindu
BR

Batas Ruang Rindu

oleh Zhafira Diva
CerpenGratis3 menit baca7 dibacaJFMM Participant
Sudah tiga puluh menit aku berdiri mematung, namun tidak ada tanda bus biru tujuanku mendekat. Kabut semakin tebal. Berbanding terbalik dengan jaket tipisku yang berusaha keras melawan angin malam. Ditambah hawa dingin setelah hujan deras membuatku menggigil kedinginan. Ah, ramalan cuaca hari itu tidak tepat sasaran.

Satu per satu para pekerja mulai meninggalkan halte hingga hanya aku seorang diri. Aku menengok ke arah bangku yang basah terkena tempias hujan. Percuma saja, aku tetap tidak bisa duduk. Ketika aku meregangkan badan, sosok berbulu menggelitik kakiku.
"Meong."
Kepalanya menyundul kakiku. Mata bulatnya menatapku dengan penuh harapan. Untungnya, aku selalu membawa makanan ringan untuk makhluk lucu yang menggemaskan itu.
Aku berjongkok sambil mengelus badannya yang bergemetar. Ada beberapa luka yang masih basah pada tengkuk. Perutnya pun bergelambir.
"Kamu baru melahirkan, ya?" Tanyaku pada kucing itu yang sedang makan dengan lahap.
Aku mengagumi warna bulu yang menutupi seluruh tubuhnya. Ia mengingatkanku pada binatang peliharaanku sewaktu kecil, kucing hitam bernama Cilung. Mama selalu terkejut ketika melihatnya duduk menemani Mama. Kata Mama, bentuknya seperti tikus berukuran besar.
Jam segini pasti Mama sudah tertidur.
Pikiranku melayang pada masa lalu. Masa dimana aku dan Mama memiliki waktu tidur yang sama. Tidak seperti saat ini, terpisah oleh jarak dan rutinitas yang berbeda.
"Pus.. Meong!"
Suara seorang anak kecil mengalihkan perhatianku dan kucing itu. Seolah dipanggil pemiliknya, kucing tersebut berlari kencang, meninggalkan makanannya yang tersisa.
"Eh, tunggu!"
Anehnya, aku tidak melihat ada seorang anak kecil di sekitarku. Rasa penasaran mendorongku untuk mengikuti makhluk berbulu itu. Ia bergerak sangat cepat.
Aku berlari menyusuri kubangan air, trotoar yang berlubang, sampai aku tiba pada lorong yang sempit. Ketika aku melewati lorong itu, aku berada di persimpangan jalan. Ada sebuah jalan kecil yang familiar. Sangat familiar.
Aku kehilangan jejak kucing itu. Perlahan aku melangkah menuju jalan kecil itu. Aku baru menyadari jalanan itu tidak tampak basah. Bahkan dedaunan yang berguguran adalah dedaunan kering.
Apakah di sini tidak terkena hujan?
Semakin lama aku berjalan, aku semakin yakin. Ini adalah jalan pintas yang biasa kulalui sepulang sekolah. Susunan bebatuannya pun tidak berubah. Warung kecil di tepi jalan yang membesarkanku (berkat jajanan dan jus buahnya) masih tampak sama dengan tenda terpalnya.
Aku tahu tempat yang akan aku tuju.
Setelah aku berjalan beberapa menit, tibalah aku di depan rumah kayu berpagar coklat. Teras rumah itu dihiasi dengan beragam bunga yang bermekaran. Kulihat kucing itu sedang mencakar pintu.
"Cilung! Aku cari kamu dari tadi! Kamu kemana aja?!"
Seorang anak perempuan keluar dari balik pintu. Suara cemprengnya sama dengan suara yang memanggil kucing itu. Spontan, aku bersembunyi di balik pepohonan. Aku harap ia tidak melihatku. Jangan sampai ia mencurigaiku sebagai penguntit.
"Dek, jangan lupa kunci pintunya!"
Aku terkesiap. Badanku membeku ketika mendengar samar suara sebelum pintu ditutup. Suara lemah lembut seperti kapas, bahkan ketika sedikit berteriak. Suara yang selalu melantunkan doa di akhir perbincangan.
Mama?
Aku berusaha mengintip ke dalam rumah. Tentu saja mustahil karena jendela rumah tertutup gorden. Aku tidak bisa melihat apapun dari kejauhan.
Hari sudah semakin malam. Kelelawar berterbangan melewati pepohonan rimbun di depan rumah tetangga. Aku memutuskan untuk beristirahat sebentar di pos ronda.
Ayam jantan berkokok mengiringi munculnya semburat cahaya matahari di ufuk timur. Aku mengerjapkan mata. Sepertinya aku baru terlelap sebentar. Aku pun kembali mendatangi rumah itu.
Kutemui pagar yang masih terkunci dengan gembok.





Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen