CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Bara di Pintu Surga
Bara di Pintu Surga

Bara di Pintu Surga

oleh Freddy San
CerpenGratis5 menit baca20 dibacaJFMM Participant

Dunia bagiku hanyalah sebingkai jendela kayu yang kusam serta langit-langit kamar yang telah menghitam karena berjamur. Jendela warna biru tua yang tidak pernah dicat seumur hidupku itu sudah lapuk dimakan usia. Kaca berselimut debu tebal di salah satu sudutnya sudah melorot, siap untuk melepaskan diri dari cengkeraman bingkai. Ibu selalu berhati-hati ketika membuka dan menutup jendela tanpa ada niatan untuk memperbaikinya. Sama seperti plafon yang tampaknya sudah terengah-engah menyangga beban, makin basah akibat bocor, tidak pernah Ibu pedulikan.

Ingin pergi dari kamar ini, tetapi aku tidak bisa. Bahkan, sekadar protes meminta Ibu merenovasi ruangan pun rasanya mustahil. Aku hanya seorang pengelana yang tak pernah melangkah dan aku adalah seorang orator yang tidak sekali pun bersuara. Tubuhku adalah penjara tulang yang membeku. Satu bentuk pengkhianatan biologis yang dalam catatan medis disebut dengan Cerebral Palsy Spastik Kuadriplegia.

Dalam bahasa yang sederhana, saraf-saraf di otakku gagal mengirimkan perintah. Akibatnya, tanganku selalu meringkuk kaku di depan dada seperti sayap burung yang telah patah. Tak hanya itu. Kedua kakiku saling mengunci rapat, tidak bisa diluruskan. Otot-ototku terus menegang, membuat setiap tarikan napas terasa seperti perjuangan melawan gravitasi. Sangat berat!

Akan tetapi, di dalam cangkang yang kaku ini, aku hidup. Aku melihat, mendengar, mencintai, dan dicintai meski hanya oleh satu orang yang memperkenalkan dirinya dengan sebutan ibu.
“Bara Sayang,” bisik Ibu setiap pagi sambil menyeka wajahku dengan handuk hangat. “Anak kesayangan Ibu.”

Namaku Udumbara. Ibu bilang, nama itu diambil dari bunga yang mekar ribuan tahun sekali. Karena itulah, sering disebut dengan bunga dari surga. Kecil, putih, hampir tak terlihat oleh mata dunia yang kasar. Persis seperti aku. Meski ada di dunia, tetapi tak banyak orang bisa atau lebih tepatnya mau melihatku.

Ayah pergi sesaat setelah aku dilahirkan. Dia ketakutan melihat bayinya tidak menangis kencang dan tubuh yang melengkung aneh. Sementara itu, Ibu wanita hebat yang memilih untuk tetap tinggal, memeras keringat dengan menjadi buruh cuci dan pekerjaan apa pun yang bisa dia lakukan demi aku.

Ibu memanggilku Bara. Selain terdengar lebih gagah, dia punya alasan lain. Meski hanya diam, kehadiranku ibarat bara api di tungku hatinya, memberikan kehangatan yang tak kunjung padam di tengah dinginnya hidup yang serba kekurangan. Itu yang dia katakan ... berulang kali.

“Bara, hari ini Ibu mau bacakan buku soal Hayam Wuruk,” ucapnya di suatu sore. Suara Ibu serak, sisa dari lelahnya mengucek dan menyeterika pakaian orang seharian. Namun, nada bicaranya selalu lembut.

Setiap hari Ibu selalu membacakan buku untukku. Apa saja. Dia tidak ingin aku jadi manusia bodoh. Padahal, tidak ada bedanya, bukan? Toh, aku tidak bisa melakukan apa pun dengan otakku.

Ketika membacakan adegan Hayam Wuruk kehilangan Dyah Pitaloka, orang yang sangat dicintainya, dadaku terasa sesak. Seperti itukah yang Ibu rasakan ketika Ayah meninggalkan kami? Tanpa terasa, setetes air mata jatuh dari sudut mata.

Ibu berhenti membaca. Dia menatapku lama, lalu tersenyum sembari mengusap titik air mataku dengan jarinya yang kasar dan pecah-pecah. “Kamu sedih ya, Sayang? Akan selalu ada yang namanya perpisahan karena tidak ada yang abadi di dunia ini. Begitu pula kita. Tapi, Ibu berharap kamu yang pergi duluan, Sayang. Jadi, Ibu tidak kepikiran. Syukur-syukur bisa barengan.”

Ibu benar. Kalau dia meninggal duluan, siapa yang akan merawatku? Ah, aku pasti menyusul beberapa hari kemudian.

Air mataku mengalir makin deras. Ingin rasanya aku memeluk Ibu erat-erat, menyampaikan betapa aku mencintainya. Maafkan aku yang selalu menjadi beban berat dalam hidupmu, Bu.

Aku hanya bisa berkomunikasi melalui kedipan dan arah pandang. Di mata Ibu, aku seperti buku yang sudah sangat dia pahami tanpa harus membaca lagi. Dia tahu kapan aku haus, kapan punggungku mulai nyeri karena terlalu lama berbaring atau kapan aku merasa takut. Biasanya ketika hujan deras disertai petir menyambar-nyambar. Aku takut rumah ini roboh.

Ada satu rahasia yang sepertinya Ibu tidak pernah tahu tentangku. Dia tidak pernah membahasnya. Tentang amarahku kepada Tuhan.

Dalam keheningan malam yang pekat, aku sering berteriak dalam hati. Tuhan, kenapa harus aku yang Engkau pilih untuk menjalani takdir seperti ini? Kenapa Engkau memberi kaki, tetapi mengurungku dalam sangkar daging ini? Kenapa Engkau biarkan wanita sebaik Ibu menderita karena aku?

Itu dulu, saat aku merasa seperti sebongkah batu yang tak berguna. Seonggok jasad yang masih bernapas dan bernyawa. Hidup, tetapi mati.

Ibu dengan telaten membisikkan doa-doa. Dia mengajariku salat dalam diam. “Lakukan di relung hatimu yang paling dalam, Sayang. Tuhan tidak melihat seberapa tegak berdirimu, tapi seberapa tulus hatimu bersujud di dalam sana.”

Sejak itu aku berhenti marah. Bagaimana bisa aku membenci takdir, sedangkan Tuhan mengirimkan malaikat dalam wujud buruh cuci untuk menjaga dan merawatku? Cinta tanpa syarat dari wanita agung ini membuatku kuat. Sejak itu pula aku jadi punya tujuan hidup. Aku akan terus mendoakan Ibu di sepanjang waktu.

Hingga akhirnya malam itu tiba ....

Suhu tubuhku meningkat tajam, seperti ada bara api yang membakar dari dalam. Paru-paru terasa menyempit. Setiap tarikan napas adalah sayatan silet tak kasat mata yang sangat menyiksa. Aku menggigil hebat, tetapi tubuh tetap kaku, tak mampu bergerak untuk meredakan nyeri.

Ibu terjaga. Wajahnya pucat pias serupa kapas. Dia menangis sambil terus mengusap wajahku dengan handuk basah.

“Bertahan ya, Sayang. Udumbara Ibu harus kuat.”

Aku menatap matanya dalam-dalam. Ada kelelahan luar biasa di sana, juga cinta yang luasnya melampaui samudera. Aku ingin bicara, tetapi hanya napas tersengal yang bisa keluar.

Aku tahu, inilah saatnya. Dalam hati, aku merapal doa terakhirku.

Yaa Rabb-ku, haramkanlah api neraka menyentuh kulit wanita ini. Dia telah melewati nerakanya di dunia demi menjaga dan merawatku. Jika benar aku adalah udumbara, bunga surga-Mu, izinkan aku menunggunya di pintu surga. Biarkan kepergianku hari ini menjadi akhir dari segala bebannya.

Pandanganku mulai kabur. Cahaya putih yang sangat lembut mulai memenuhi kamar kami yang sempit. Rasa sakit perlahan menguap, digantikan oleh rasa ringan yang belum pernah aku rasakan.

Aku pergi lebih dahulu, Bu, persis seperti harapanmu. Aku akan menunggu di gerbang langit, menjadi bunga udumbara yang mekar paling indah saat Ibu melangkah masuk nanti. Relakan bara ini padam di dunia, untuk menyala di keabadian.

Di sana, aku tidak akan lagi diam. Aku akan berlari memelukmu sambil meneriakkan kata-kata yang selama belasan tahun ini tercekik di tenggorokan.

Aku mencintaimu, Ibu.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen