Aku pernah memberikan seseorang hadiah yang harganya hampir dua juta rupiah.
Lucunya, kalau disuruh memilih hadiah yang paling berharga yang pernah kuberikan, aku tidak akan memilih yang itu.
Aku akan memilih sebuah bantal.
Bantal yang kubuat sendiri.
Waktu itu aku ingat dia tidak suka bantal yang terlalu lembek. Jadi aku mengisinya lebih padat dari biasanya. Saat membuatnya, aku tidak merasa sedang melakukan sesuatu yang istimewa. Bagiku itu terasa normal.
Baru belakangan aku sadar, mungkin itu bukan sesuatu yang normal.
Mungkin itu warisan.
Dulu, ibuku sering membuat bantal untuk keluarga. Bantal untuk bapak, untuk kakak dan yang paling sering adalah bantal untuk cucu-cucunya. Aku sering membantu mengisi dakron sambil mendengarkan beliau menjelaskan hal-hal yang saat itu terdengar sangat sederhana.
Katanya, bantal yang paling enak adalah bantal yang dibuat sesuai orang yang akan memakainya.
Karena setiap orang punya kenyamanan yang berbeda.
Ada yang suka empuk.
Ada yang suka padat.
Ada yang suka tinggi.
Ada yang suka rendah.
Waktu kecil aku mengira beliau sedang mengajariku cara membuat bantal.
Sekarang aku sadar beliau sedang mengajariku cara mencintai seseorang.
Memperhatikan hal-hal kecil.
Mengingat apa yang membuat seseorang nyaman.
Peduli pada sesuatu yang mungkin tidak akan diperhatikan orang lain.
Ibuku sudah tidak ada.
Tapi kadang aku menemukannya di tempat-tempat yang tidak terduga.
Di caraku mengingat pesanan kopi seseorang.
Di caraku bertanya apakah mereka sudah makan.
Di caraku memperhatikan hal-hal kecil yang membuat orang lain nyaman.
Dan ya, di sebuah bantal yang pernah kubuat untuk seseorang.
Orang-orang sering berkata bahwa ketika seseorang telah pergi, yang tersisa hanyalah kenangan.
Aku rasa itu tidak sepenuhnya benar.
Kadang yang tersisa bukan hanya kenangannya.
Kadang yang tersisa adalah cara mereka mencintai kita.
Lalu tanpa sadar, kita membawanya ke dalam hidup orang lain.
Dan mungkin itu sebabnya aku masih merindukan ibuku.
Karena sampai hari ini, sebagian cara aku mencintai orang lain masih terdengar seperti suaranya.
