CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Anggrek Bulan Mama
AB

Anggrek Bulan Mama

oleh Ressti Nurlaely
CerpenGratis5 menit baca6 dibacaJFMM Participant

ANGREK BULAN MAMA

Setiap kali pergi ke pasar, perempuan itu selalu punya satu kebiasaan yang membuat ibunya geleng-geleng kepala.

Ia akan berhenti di depan lapak penjual bunga.

Bukan sekadar lewat, lalu melihat sebentar.

Ia bisa berdiri cukup lama di sana, memandangi bunga-bunga yang berjajar dalam pot-pot kecil. Matanya berbinar, seolah-olah menemukan sesuatu yang sangat indah di tengah ramainya pasar.

Dan dari sekian banyak bunga yang dijual, ada satu yang selalu berhasil membuatnya berhenti lebih lama.

Anggrek bulan.

Bunga dengan kelopak lembut yang tumbuh berjajar di sepanjang tangkainya. Ada yang putih bersih, ada yang merah muda, ada pula yang memiliki semburat ungu di bagian tengahnya.

“Lihat itu…” katanya suatu kali.

Matanya tak beranjak dari sekumpulan anggrek di hadapannya.

Ibunya hanya tersenyum.

“Memangnya mau beli?”

Perempuan itu menggeleng.

“Enggak.”

“Terus ngapain dilihat lama-lama?”

Ia tertawa kecil.

“Cantik.”

Hanya satu kata.

Cantik.

Mungkin bagi orang lain, bunga hanyalah bunga. Sesuatu yang tumbuh, mekar, lalu layu.

Tapi entah mengapa, bagi perempuan itu, anggrek bulan selalu punya tempat tersendiri.

Setiap kali pergi ke pasar, kebiasaan itu kembali terulang.

Berhenti di depan penjual bunga.

Memandangi anggrek bulan.

Tersenyum.

Lalu pulang.

Kadang tanpa membeli satu pun.

Cerita itu selalu diulang oleh nenek.

Entah sudah berapa kali aku mendengarnya.

Mungkin karena nenek tidak pernah bosan menceritakannya.

Atau mungkin karena ada seseorang yang tidak pernah bosan mendengarkannya.

Aku.

Aku tumbuh dengan cerita tentang seorang perempuan yang seharusnya kupanggil Mama.

Hanya saja, aku tidak pernah benar-benar mengenalnya.

Mama meninggal ketika aku masih sangat kecil. Bahkan aku belum masuk taman kanak-kanak.

Terlalu kecil untuk mengingat wajahnya.

Terlalu kecil untuk mengingat suaranya.

Terlalu kecil untuk menyimpan kenangan tentang tangan yang pernah menggenggam tanganku atau pelukan yang mungkin pernah membuatku merasa aman.

Maka aku mengenal Mama dengan cara yang berbeda.

Melalui cerita.

Dari nenek.

Dari kakek.

Dari tetangga-tetangga yang pernah mengenalnya.

Kadang, ketika mereka melihatku, ada saja yang berkata,

“Wajahmu mirip sekali dengan mamamu.”

Aku biasanya hanya tersenyum.

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Sebab aku bahkan tidak tahu seperti apa wajah Mama selain dari foto-foto yang sesekali kulihat.

Katanya, Mama cantik.

Kulitnya putih.

Ada tetangga yang pernah mengatakan wajahnya seperti orang Cina karena kulitnya yang putih dan matanya yang terlihat lembut.

Aku mendengarkan semua cerita itu seperti seseorang yang sedang mengumpulkan potongan-potongan puzzle.

Satu cerita dari nenek.

Satu cerita dari kakek.

Satu cerita dari tetangga.

Sedikit demi sedikit, aku mencoba membentuk sosok seorang perempuan yang tidak sempat tinggal cukup lama dalam ingatanku.

Kadang aku bertanya-tanya.

Apakah Mama benar-benar seperti yang mereka ceritakan?

Apakah suaranya lembut?

Apakah dia mudah tertawa?

Apakah dia suka memasak?

Apakah dia suka melihat hujan?

Apakah dia pernah menggendongku sambil menyanyikan sesuatu?

Tidak ada yang bisa menjawab semuanya.

Karena orang-orang hanya bisa menceritakan apa yang mereka ingat.

Dan aku hanya bisa membayangkan sisanya.

Tapi ada satu hal tentang Mama yang selalu kembali diceritakan nenek.

Anggrek bulan.

“Dulu mamamu itu kalau lihat anggrek bulan di pasar, bisa lama berdirinya,” kata nenek suatu sore.

Aku tertawa kecil.

“Serius?”

“Iya.”

“Padahal nggak beli?”

“Nggak selalu.”

Nenek ikut tertawa.

“Cuma dilihat saja sudah senang.”

Aku membayangkan seorang perempuan muda berdiri di tengah keramaian pasar.

Di sekelilingnya orang-orang sibuk berbelanja.

Pedagang memanggil pembeli.

Suara kendaraan bersahutan.

Aroma sayuran, buah-buahan, bumbu dapur dan makanan bercampur menjadi satu.

Namun di tengah semua itu, Mama berdiri diam di depan lapak bunga.

Memandangi anggrek bulan.

Dengan mata yang berbinar.

Aku tidak tahu kenapa bayangan itu terasa begitu dekat.

Padahal aku tidak pernah melihatnya.

Mungkin karena terlalu sering mendengar cerita itu.

Atau mungkin karena ada bagian dari Mama yang diam-diam hidup di dalam diriku.

Beberapa tahun kemudian, aku mulai menyadari sesuatu.

Nenek memiliki banyak tanaman anggrek.

Terlalu banyak, menurutku.

Ada anggrek putih.

Anggrek ungu.

Anggrek merah muda.

Ada yang bunganya sedang mekar sempurna, ada yang baru menumbuhkan kuncup, dan ada pula yang hanya menyisakan daun-daun hijau panjang.

Dulu aku mengira nenek memang menyukai bunga.

Sampai suatu hari aku berdiri di teras rumahnya dan memperhatikan satu pot anggrek bulan yang sedang bermekaran.

Aku memandangi bunga itu cukup lama.

Entah kenapa, tiba-tiba aku teringat cerita lama.

Tentang Mama.

Tentang pasar.

Tentang perempuan muda yang bisa berhenti begitu lama hanya untuk melihat bunga yang menurutnya cantik.

Aku menoleh kepada nenek.

Ia sedang menyiram tanaman di sudut halaman.

“Nek…”

Nenek menoleh.

Aku menunjuk bunga yang ada di depanku.

“Jadi, Nek…”

Aku berhenti sebentar.

Ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus sesak di dada.

“Mama suka sekali bunga anggrek bulan?”

Nenek terdiam.

Matanya mengikuti arah pandanganku.

Ke bunga yang sedang mekar.

Kemudian ia tersenyum kecil.

“Iya.”

Suaranya pelan.

“Mamamu suka sekali.”

Aku kembali memandang bunga itu.

Untuk pertama kalinya, aku merasa seperti sedang mengenal Mama sedikit lebih dekat.

Bukan melalui foto.

Bukan melalui cerita orang lain.

Tetapi melalui sesuatu yang pernah membuat matanya berbinar.

Anggrek bulan.

Mungkin selama ini aku memang tidak memiliki banyak kenangan tentang Mama.

Tapi mungkin, aku tidak benar-benar kehilangan semuanya.

Sebagian kecil dari dirinya masih tinggal di rumah nenek.

Tumbuh dalam pot-pot tanah liat.

Menjalar melalui akar.

Mekar dalam diam.

Dan setiap kali bunga-bunga itu bermekaran, mungkin ada sedikit bagian dari Mama yang kembali pulang.

Aku tersenyum.

Lalu memandangi anggrek bulan itu sekali lagi.

Cantik.

Seperti kata yang dulu pernah diucapkan Mama di depan lapak bunga.

Dan untuk pertama kalinya, aku mengerti mengapa nenek memiliki begitu banyak anggrek.

Bukan sekadar karena ia menyukai bunga.

Tetapi karena ada seorang anak perempuan yang pernah begitu mencintai bunga itu.

Seorang perempuan yang tidak sempat kukenal.

Namun akan selalu kucari melalui cerita-cerita tentangnya.

Melalui wajahku sendiri.

Dan melalui bunga anggrek bulan yang sampai hari ini masih mekar di rumah nenek.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen