CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Andai Dulu Aku Mendengarkan Ibu
AD

Andai Dulu Aku Mendengarkan Ibu

oleh Irna Cahyani
CerpenGratis6 menit baca7 dibacaJFMM Participant

Sejak kecil, Laras selalu menjadi kebanggaan ibunya. Ia adalah anak perempuan satu-satunya yang dibesarkan dengan penuh perhatian. Ibunya, Bu Ratna, bukan orang kaya. Namun ia selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Laras. Jika ada uang lebih, ia menyimpannya untuk biaya sekolah. Jika Laras membutuhkan buku, seragam, atau perlengkapan belajar, Bu Ratna akan berusaha membelinya meskipun harus mengurangi kebutuhan dirinya sendiri.

“Yang penting kamu sekolah yang baik, Nak,” begitu pesan Bu Ratna setiap kali membayar uang sekolah Laras.

Laras tumbuh menjadi gadis yang cerdas. Ia mendapat kesempatan bersekolah di tempat yang bagus, mengikuti berbagai kegiatan, bahkan dibimbing agar memiliki keterampilan yang bisa membantunya ketika dewasa. Ibunya ingin Laras memiliki kehidupan yang lebih baik darinya.

Namun ketika memasuki masa remaja, perhatian Laras mulai berubah. Ia lebih sibuk dengan ponselnya, teman-temannya, dan terutama pacarnya, Dika.

Hampir setiap malam mereka berbicara melalui telepon. Ketika ibunya meminta Laras belajar, ia menjawab dengan kesal.

“Sebentar, Bu!”

Ketika ibunya meminta Laras membantu pekerjaan rumah, jawabannya semakin kasar.

“Aku capek! Dari tadi belajar!”

Padahal Bu Ratna tahu, sebagian besar waktu Laras justru dihabiskan untuk berbicara dengan Dika.

Suatu malam, Bu Ratna mengetuk pintu kamar.

“Laras, besok kamu ujian. Jangan tidur terlalu malam.”

“Aku tahu!”

“Kalau mau menelepon teman, jangan sampai mengganggu belajarmu.”

Laras langsung membuka pintu.

“Dika itu bukan cuma teman, Bu!”

Bu Ratna terdiam.

“Ibu tidak melarang kamu berteman. Ibu hanya ingin kamu punya masa depan.”

“Aku bisa mengurus hidupku sendiri!”

Kalimat itu membuat hati Bu Ratna terasa sakit.

Namun ia tidak membalas.

Ia hanya berkata pelan, “Ibu berharap suatu hari kamu benar-benar bisa.”

Laras menutup pintu dengan keras.

Sejak memiliki pacar, Laras semakin sulit diarahkan. Nilainya mulai menurun. Ia sering terlambat, beberapa kali tidak mengerjakan tugas, dan mulai mengabaikan rencana yang telah dibuat ibunya untuk masa depannya.

Bu Ratna berkali-kali mencoba berbicara.

“Nak, Ibu bukan ingin melarang kamu punya pacar. Tapi jangan sampai hubungan itu membuat kamu kehilangan dirimu sendiri.”

“Aku tahu, Bu.”

“Belajar dulu sampai kamu punya tujuan yang jelas.”

“Dika juga mendukung aku.”

“Bagaimana kalau suatu hari dia tidak ada?”

Laras menatap ibunya dengan kesal.

“Kenapa Ibu selalu berpikir buruk tentang Dika?”

“Karena Ibu tidak ingin seluruh masa depanmu bergantung kepada seseorang.”

Laras menggeleng.

“Ibu tidak mengerti cinta.”

Bu Ratna tersenyum sedih.

“Mungkin Ibu tidak mengerti cinta seperti yang kamu rasakan. Tapi Ibu mengerti bagaimana rasanya berjuang untuk hidup.”

Laras tidak peduli.

Baginya, ibunya terlalu banyak mengatur.

Tahun-tahun berlalu.

Laras lulus sekolah, tetapi ia tidak benar-benar memiliki rencana untuk masa depannya. Ia pernah mencoba kuliah, tetapi tidak bertahan lama. Ia pernah bekerja, tetapi berhenti ketika merasa tidak cocok. Hampir semua keputusan hidupnya selalu menunggu arahan orang lain.

Sementara itu, hubungan dengan Dika juga tidak seperti yang dibayangkannya.

Dika pergi ketika mendapatkan pekerjaan di kota lain.

Awalnya mereka masih sering berkomunikasi.

Lalu semakin jarang.

Sampai akhirnya Dika mengatakan bahwa hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan.

Laras hancur.

Ia pulang ke rumah dan menangis di depan ibunya.

“Aku sudah bilang dia akan meninggalkanku,” kata Laras.

Bu Ratna tidak berkata, “Ibu sudah bilang.”

Ia hanya memeluk anaknya.

“Tidak apa-apa. Kamu masih punya banyak waktu untuk memulai lagi.”

Laras menangis di pelukan ibunya.

Namun beberapa minggu kemudian, ia kembali sibuk dengan kehidupannya sendiri.

Bu Ratna tidak pernah berhenti mendukungnya.

Ia bahkan mendaftarkan Laras ke sebuah kursus agar anaknya memiliki keterampilan.

“Ibu sudah bayar kursusnya. Kamu bisa belajar menjahit dan mengelola usaha kecil.”

Laras menggeleng.

“Aku tidak mau, Bu.”

“Kenapa?”

“Bukan bidangku.”

“Coba dulu.”

“Nanti saja.”

Selalu begitu.

Nanti.

Nanti.

Nanti.

Sampai suatu hari, waktu tidak lagi memberi kesempatan.

Bu Ratna jatuh sakit.

Awalnya hanya terlihat seperti kelelahan biasa. Laras bahkan tidak terlalu memperhatikannya.

“Ibu istirahat saja.”

Namun penyakit itu semakin berat.

Laras mulai sering menemani ibunya ke rumah sakit. Di sanalah ia melihat sesuatu yang selama ini tidak pernah ia sadari.

Ibunya ternyata sudah sangat lelah.

Tubuh yang selama bertahun-tahun bekerja untuk membiayai hidupnya kini terlihat begitu rapuh.

Suatu sore, Bu Ratna memanggil Laras.

“Nak…”

“Iya, Bu?”

“Kalau suatu hari Ibu tidak ada, kamu harus bisa menjaga dirimu sendiri.”

Laras langsung menangis.

“Jangan bicara begitu, Bu.”

“Ibu hanya ingin kamu belajar mandiri.”

“Aku akan belajar.”

Bu Ratna tersenyum.

“Janji?”

“Janji.”

Beberapa hari kemudian, Bu Ratna meninggal dunia.

Dunia Laras seperti berhenti.

Untuk pertama kalinya, ia pulang ke rumah dan tidak mendengar suara ibunya.

Tidak ada lagi yang bertanya apakah ia sudah makan.

Tidak ada lagi yang mengingatkan untuk bangun pagi.

Tidak ada lagi yang menyiapkan pakaian ketika ia terburu-buru.

Tidak ada lagi seseorang yang mengatakan, “Jangan menyerah, Nak.”

Pada minggu-minggu pertama, Laras hanya menangis.

Namun setelah beberapa bulan, kenyataan mulai terasa.

Ia harus mengurus dirinya sendiri.

Ia harus membayar listrik.

Ia harus memasak.

Ia harus mencari penghasilan.

Ia harus mengambil keputusan tanpa bertanya kepada ibunya.

Dan di situlah Laras menyadari sesuatu yang sangat menyakitkan.

Selama ini ia merasa ibunya terlalu banyak mengatur.

Ternyata ibunya bukan mengatur.

Ibunya sedang mengajarinya hidup.

Laras membuka lemari lama milik ibunya.

Di dalamnya ia menemukan sebuah buku catatan.

Pada halaman pertama tertulis namanya.

“Rencana Masa Depan Laras.”

Di dalam buku itu terdapat catatan kecil tentang sekolah, keterampilan, pekerjaan, tabungan, bahkan rencana usaha yang pernah ditawarkan ibunya.

Di halaman terakhir ada tulisan:

“Ibu tidak tahu apakah Ibu bisa selalu mendampingi Laras. Karena itu, Ibu ingin Laras bisa berdiri sendiri.”

Air mata Laras langsung jatuh.

Ia memeluk buku itu erat.

“Kenapa aku tidak pernah mau mendengarkanmu, Bu?”

Untuk pertama kalinya, Laras memahami semuanya.

Ibunya tidak pernah ingin mengambil kebebasannya.

Ibunya hanya takut suatu hari anaknya harus menghadapi dunia tanpa persiapan.

Dan hari itu akhirnya datang.

Sayangnya, ibunya sudah tidak ada.

Laras mulai belajar dari awal.

Ia belajar memasak.

Belajar mengatur uang.

Belajar mencari pekerjaan.

Belajar mengambil keputusan.

Belajar menerima kegagalan tanpa mencari seseorang untuk disalahkan.

Tidak mudah.

Berkali-kali ia menangis.

Setiap kali menghadapi masalah, tangannya refleks ingin mengambil ponsel dan menelepon ibunya.

Namun nomor itu sudah tidak bisa lagi menjawab.

Suatu malam, Laras duduk sendirian di meja makan.

Di kursi yang biasanya ditempati ibunya, ia meletakkan foto Bu Ratna.

“Ibu…”

Suaranya bergetar.

“Sekarang aku mengerti.”

Ia mengusap foto itu dengan air mata yang terus mengalir.

“Dulu aku marah setiap kali Ibu menasihatiku.”

“Aku pikir Ibu cerewet.”

“Aku pikir Ibu tidak mengerti aku.”

“Aku pikir hidupku akan baik-baik saja tanpa mendengarkan Ibu.”

Laras tersenyum pahit.

“Ternyata aku yang tidak mengerti.”

Ia menundukkan kepala.

“Ibu menyekolahkanku supaya aku punya masa depan. Ibu mengajariku supaya aku bisa berdiri sendiri. Ibu mengingatkanku supaya aku tidak kehilangan arah.”

“Tapi aku terlalu sibuk mengejar cinta.”

Air mata jatuh di atas meja.

“Dan ketika akhirnya aku membutuhkan Ibu…”

Laras terdiam lama.

“…Ibu sudah tidak ada.”

Malam semakin sunyi.

Laras memeluk foto ibunya.

“Maaf, Bu.”

“Aku baru mengerti sekarang.”

“Maaf karena dulu aku sering marah.”

“Maaf karena aku menganggap perhatian Ibu sebagai beban.”

“Maaf karena aku baru belajar mandiri setelah kehilangan orang yang seharusnya menjadi tempatku belajar.”

Ia menangis sendirian.

Tidak ada tangan yang mengusap kepalanya.

Tidak ada suara yang berkata, “Sudah, Nak.”

Namun untuk pertama kalinya, Laras tidak melarikan diri dari kesedihannya.

Ia bangkit.

Membuka buku catatan milik ibunya.

Kemudian mulai menulis di halaman kosong terakhir:

“Bu, aku mungkin terlambat memahami semua yang Ibu ajarkan. Tapi mulai hari ini, aku akan mencoba menjadi perempuan yang dulu Ibu harapkan. Bukan karena Ibu masih bisa melihatku, tetapi karena aku ingin setiap pengorbanan Ibu tidak sia-sia.”

Laras menutup buku itu.

Ia menatap foto ibunya sambil tersenyum di antara air mata.

Kini ia tahu, seorang ibu terkadang terlihat seperti orang yang paling banyak melarang.

Padahal di balik setiap larangan, ada kekhawatiran.

Di balik setiap nasihat, ada pengalaman.

Dan di balik setiap kemarahan yang pernah ia terima, ada cinta yang begitu besar.

Sayangnya, Laras baru memahami semuanya setelah kehilangan kesempatan untuk mengatakan satu kalimat secara langsung.

“Terima kasih, Bu. Maafkan aku. Seandainya dulu aku mau mendengarkan, mungkin aku tidak harus belajar tentang kehilangan dengan cara yang sesakit ini.”

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen