Suara detak jam di dinding ruang tamu terdengar nyaring. Bagi Jessica Malino, suara itu adalah irama kesepian yang mengiringi hari-harinya. Rumah dua lantai itu memang berdiri megah, tetapi ia sama sekali tak merasakan kehangatan di dalamnya.
Setiap kali Jessica pulang, yang menyambut hanyalah ruang tamu gelap, meja makan dengan tudung saji yang menutupi lauk dingin buatan tadi pagi, serta selembar kertas kuning tertempel di pintu kulkas.
Mama ada tugas dinas mendadak tiga hari. Uang jajan sudah Mama taruh di meja belajar. Makan yang teratur ya, Sayang.
Sudah bertahun-tahun kalimat semacam itu menjadi pengganti sang ibu. Memang, sang ibu merupakan sosok wanita karier dengan mobilitas tinggi. Berangkat sebelum fajar, pulang larut malam, atau menghilang berhari-hari untuk dinas ke luar kota. Sudah lama Jessica tidak merasakan bagaimana rasanya disambut pelukan hangat saat pulang sekolah, atau duduk bercengkrama sambil bercerita tentang teman-temannya di sekolah.
Ketika malam kian larut, Jessica memilih duduk di depan televisi yang menyala, sekadar mencari cara untuk mengusir sepi. Namun, di dalam rumah sebesar itu, bayang-bayang ketakutan selalu berhasil merayap di tengkuknya, membawa perasaan cemas akan hadirnya tamu yang tak diundang, atau kelebatan tak kasat mata yang berbisik di sudut-sudut gelap.
Namun perasaan itu buru-buru lenyap, berganti dengan keterkejutan ketika suara bel pintu rumahnya berbunyi.
Jessica menoleh ke arah sumber suara. Kemudian perlahan bergerak menuju pintu utama, lalu melihat melalui layar interkom.
Jonathan Adam.
Jessica lantas membuka pintu.
“Kau belum makan malam, kan?” Jonathan mengangkat dua kantong plastik di tangannya. “Ibuku membuat ini. Ayo kita makan.”
“Seharusnya kau tidak perlu repot-repot.”
“Kalau aku tidak datang, kau pasti melewatkan makan malam lagi,” tutur lelaki itu hafal dengan kebiasaan Jessica.
Jessica mendengkus, tetapi tetap membiarkannya masuk. Jonathan sudah sering berada di rumah itu. Ia adalah teman sekelas yang perlahan berubah menjadi sosok seperti kakak bagi Jessica.
Tanpa banyak bicara, Jonathan menuju dapur dan mengeluarkan dua mangkuk sup ayam hangat.
“Mamamu dinas lagi?” tanya Jonathan sembari menyodorkan semangkuk sup itu ke hadapan Jessica.
Jessica mendengkus. “Untuk apa bertanya? Pasti dia sudah menghubungimu, kan. Seperti biasa. Dia selalu tidak pernah punya waktu untukku.”
“Jangan marah pada mamamu, Jess. Mamamu sedang berjuang keras mengusahakan yang terbaik untukmu.”
“Aku tahu, mama banting tulang demi menghidupiku,” tutur Jessica. “Tapi apa salah kalau sesekali aku ingin dia meluangkan waktu untukku?”
Jonathan membisu, membiarkan keheningan kembali memegang kendali dalam ruangan itu.
Rasa kecewa yang dipendam oleh Jessica selama bertahun-tahun itu terus menumpuk. Puncaknya terjadi di hari wisuda sekolah menengah pertama Jessica kala itu. Saat nama Jessica Malino dipanggil ke atas panggung sebagai lulusan terbaik, aula sekolah riuh oleh tepuk tangan.
Namun, Jessica lagi-lagi harus menelan kekecewaan. Ibunya tidak terlihat hadir untuk menyaksikan pencapaian itu. Hanya ada Jonathan yang berdiri paling depan di barisan siswa, bertepuk tangan paling kencang dengan senyum bangga.
Malam harinya, sang ibu tiba di rumah, diiringi suara roda koper yang menggelinding perlahan. Ketika pintu kamarnya terbuka pelan, Jessica bergeming. Ia sengaja membelakangi pintu, menarik selimut hingga menutup kepala dan berpura-pura tidur, sebagai bentuk protes atas rasa kecewanya pada sang ibu.
Suara langkah kaki ibunya mendekat dengan perlahan, seolah takut mengganggu lelapnya sang putri. Kemudian, tak lama terdengar suara benda diletakkan perlahan di atas nakas samping tempat tidurnya.
“Mimpi indah, Sayang,” tutur sang ibu sebelum akhirnya langkah kaki itu menjauh dan menutup kembali pintu kamar Jessica.
Usai memastikan bahwa sang ibu sudah pergi, Jessica menurunkan selimut. Ia menoleh ke arah pintu sebelum mengalihkan pandangannya pada nakas.
Matanya tertuju pada sebuah kotak eboni dengan ukiran emas. Di samping kotak kayu itu, tergeletak selembar kertas merah muda berbentuk hati.
Selamat atas wisudamu, Anak Gadis Mama. Maafkan Mama tidak bisa hadir, ya.
Jessica meraih kotak eboni itu dan membukanya. Di atas bantalan beludru, melingkar sebuah gelang yang indah. Namun, Jessica hanya menatap hadiah itu dengan pandangan nanar. Bagi Jessica kala itu, seindah apa pun benda dalam genggaman, itu tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran sang ibu di aula sekolahnya.
Tanpa menyentuh gelang itu, Jessica menutup kembali kotak tersebut sebelum meletakkannya ke atas nakas.
***
Setahun berlalu. Namun, tidak banyak yang berubah dalam kehidupannya, selain jarak yang makin tebal di antara dirinya dan sang ibu.
Siang itu, ketika bel istirahat berbunyi, Jessica masih sibuk menata buku-bukunya. Tiba-tiba, sebungkus roti dan kotak susu diletakkan begitu saja di hadapannya.
Jessica mendongak, mendapati Jonathan yang lagi-lagi menjadi teman sekelasnya berdiri di samping meja.
“Makanlah. Kau tidak membawa bekal, kan?” ujar lelaki itu sembari mengurai senyum.
Jessica menatap roti di depannya dengan alis terangkat. “Sok tahu.”
Jonathan terkekeh pelan. “Mamamu bilang harus berangkat lebih awal, jadi tidak sempat menyiapkan sarapan dan bekal untukmu. Jadi dia menitipkanmu padaku.”
Mendengar penuturan itu, raut wajah Jessica seketika berubah. Kepahitan yang bertengger di dadanya kembali mencuat.
“Wanita jahat itu selalu saja pandai bersandiwara,” celetuk Jessica sinis. “Memanfaatkan orang lain hanya untuk menutupi rasa bersalahnya.”
“Jess, jangan berkata begitu,” tegur Jonathan lembut. “Mamamu hanya—”
“Hanya apa?” potong Jessica cepat, menatap Jonathan dengan pandangan tajam. “Hanya sibuk? Hanya mementingkan pekerjaannya dibanding anaknya sendiri? Kau tidak usah membelanya.”
Jonathan menarik napas panjang, menatap Jessica dengan pandangan penuh keprihatinan. Ia tahu betul, di balik kalimat tajam yang baru saja keluar dari bibir gadis itu, ada luka menganga yang tak kunjung sembuh.
“Aku bukan membelanya, Jess,” ucap Jonathan pelan berusaha agar tidak terpancing emosi. Ia menarik kursi, lantas duduk di hadapan Jessica. “Aku hanya tidak mau rasa kesal membuatmu buta sampai tidak bisa melihat betapa kerasnya usahanya untukmu.”
Jessica memilih untuk tidak menanggapi. Ia lalu meraup rotinya tanpa niat, membiarkan luka di dadanya mengendap makin dalam. Tanpa pernah menduga betapa sedikitnya waktu yang tersisa untuknya.
Hingga malam nahas itu datang tanpa peringatan.
Siaran berita darurat di televisi mendadak membuat Jessica terperangah. Sebuah pesawat komersial dihantam cuaca buruk dan jatuh di lepas pantai.
Saat grafik nomor penerbangan DA-777 berkedip merah di layar kaca, jantung Jessica seolah berhenti berdetak. Itu adalah nomor penerbangan yang sama persis dengan yang tertera pada pesan singkat yang dikirim ibunya tadi pagi.
Jessica segera meraih ponselnya dengan jemari gemetar, berniat memastikan keadaan sang ibu. Namun, belum sempat ia bergerak, sebuah panggilan dari nomor asing masuk. Hanya butuh beberapa detik bagi Jessica untuk memahami kabar duka yang disampaikan suara formal di ujung saluran. Tanpa sanggup mendengar lebih lanjut, ia memutus panggilan sepihak.
Ponselnya pun terjatuh ke lantai. Semua terjadi begitu tiba-tiba, tanpa memberikannya satu kesempatan pun untuk memeluk sang ibu.
Dengan langkah layu, Jessica melangkah masuk ke kamar sang ibu. Aroma parfum lembut sang ibu masih tertinggal tipis di sana. Di antara tumpukan berkas di atas nakas, ia menemukan sebuah buku catatan berwarna emas.
Perlahan Jessica membuka halaman pertama. Ia membaca tulisan tangan rapi sang ibu dengan hati-hati.
15 Juni. Hari ini Jessica wisuda SMP. Anak gadisku jadi lulusan terbaik. Maafkan mama tidak bisa datang, Sayang. Mama benar-benar bangga padamu, Nak.
Ia membalik lembaran berikutnya. Dada Jessica kian sesak saat matanya menyusuri catat-catatan kecil di lembar selanjutnya. Tulisan yang mengisahkan betapa sepi dan beratnya hidup sang ibu.
3 November. Kamar hotel di Singapura ini luas sekali, tapi rasanya sepi. Malam ini aku kangen rumah. Kangen mendengarkan ocehan Jessica.
18 Januari. Pulang larut malam dan melihat pintu kamar Jessica tertutup rapat. Aku tahu dia marah dan berpura-pura tidur. Maafkan Mama ya, Sayang. Mama juga lelah berpura-pura kuat.
24 Februari. Penerbangan delay lima jam dan aku harus langsung lanjut bekerja. Rasanya ingin sekali istirahat, tapi ingat ada masa depan Jessica yang harus kujamin. Aku hanya ingin anak gadisku punya segalanya dan tidak pernah merasa berkecil hati di depan teman-temannya meski tanpa sosok ayah di sampingnya.
Air mata Jessica mengalir deras tanpa terbendung lagi. Dadanya digodam penyesalan yang luar biasa. Di saat ia membelakangi pintu dan membenci ketidakhadiran ibunya, sang ibu ternyata menyimpan kerapuhan yang sama besarnya.
Dengan jemari yang semakin gemetar, Jessica menyusuri tiap goresan tinta, lalu membaca tulisan terakhir.
12 Agustus. Penerbangan dinas luar negeri kali ini adalah yang terakhir. Aku sudah mengajukan penarikan tugas permanen di kantor pusat. Tidak ada lagi perjalanan jauh. Mulai minggu depan, aku bisa memasak sarapan tiap pagi untuk Jessica dan menemaninya ngobrol tiap malam. Tunggu Mama pulang ya, Sayang. Kali ini Mama benar-benar pulang untukmu.
Buku catatan itu terjatuh dari genggaman Jessica, disusul dengan tubuhnya yang terduduk lemas. Janji sang ibu untuk benar-benar pulang telah hanyut bersama dinginnya samudra.
Ia meremas dadanya yang terasa dicabik-cabik sembilu, kemudian menangis meraung-raung menyibakkan kesunyian dalam ruangan itu.
Ibunya bukan wanita dingin yang gila kerja. Ibunya hanyalah seorang wanita kesepian yang diam-diam menangisi jarak di antara mereka. Di dalam cerita pengorbanan seorang ibu, Jessica akhirnya menyadari satu kebenaran pahit yang datang terlambat. Ibunya adalah pahlawan sejati, dan penjahat sebenarnya dalam cerita ini adalah gengsi dan prasangkanya sendiri.
Dengan pandangan yang kabur oleh air mata, ia memandangi buku catatan yang terbuka di atas lantai. Di sela-sela lipatan halaman, Jessica melihat sebuah foto yang terselip. Jemarinya pun menarik foto itu keluar.
Itu adalah foto mereka bertahun-tahun lalu. Potret sederhana di mana ibunya tersenyum lepas sambil merangkul Jessica kecil yang tertawa riang.
Di baliknya, terdapat sebuah catatan kecil yang lagi-lagi membuat Jessica merasa betapa piciknya ia selama ini, menuduh sang ibu sebagai wanita dingin yang jahat, tanpa pernah mau tahu seberapa besar luka yang disimpan ibunya rapat-rapat.
Jika nanti Mama tidak bisa lagi menemanimu, berjanjilah kau harus tetap kuat untuk Mama, Sayang. Karena seluruh alasan Mama bertahan dan berjuang di dunia ini, hanya untukmu.
Usai membaca baris kalimat tersebut, tangis Jessica pecah sejadi-jadinya. Ia memeluk foto tersebut erat-erat, memeluk sosok sang ibu dalam lembaran kertas yang kini menjadi satu-satunya peninggalan paling berharga.
Semua pengorbanan itu dipikul sang ibu tanpa pernah mengeluh, demi memastikan putri kecilnya tidak pernah merasa kekurangan. Akhirnya, Jessica paham bahwa tiap peluh dan lelah yang dipikul ibunya selalu berujung untuk dirinya. Dan kini, bagian terberat yang harus Jessica jalani adalah belajar merelakan.
“Terima kasih, Ma,” bisik Jessica parau. “Maafkan anakmu yang jahat ini.”
Ia tidak bisa mengubah masa lalu. Tidak bisa mengulang malam ketika sang ibu berdiri di depan pintunya. Namun, ia berjanji akan melanjutkan hidup dengan baik. Demi hidup yang telah diperjuangkan sang ibu.

