CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Aku Tumbuh dari Hal-Hal yang Tidak Pernah Kau Ajarkan
AT

Aku Tumbuh dari Hal-Hal yang Tidak Pernah Kau Ajarkan

oleh Serafina Effendi
CerpenGratis6 menit baca41 dibacaJFMM Participant
Aku tidak pernah tahu bagaimana rasanya menjadi anak perempuan yang dekat dengan ibunya.
Ada orang-orang yang menyimpan masa kecil di dalam aroma masakan dari dapur. Ada yang mengenang tangan ibunya yang merapikan rambut sebelum sekolah, suara yang memanggil dari ambang pintu, atau pelukan yang selalu menjadi tempat paling aman ketika dunia terasa terlalu besar.
Aku tidak memiliki kenangan seperti itu.
Jika masa kecil adalah sebuah album, barangkali halaman-halamanku terlalu banyak yang ingin kulewati.
Aku tumbuh dengan ibu di rumah yang sama, tetapi entah bagaimana, kami seperti tinggal di dua dunia yang berbeda.
Aku mengenal suaranya sebelum mengenal kelembutan yang seharusnya datang bersamanya.
Aku mengenal langkah kakinya, perubahan nada bicaranya, bahkan diamnya. Aku belajar membaca udara di dalam rumah seperti seorang anak belajar membaca buku. Aku tahu kapan harus diam. Kapan harus pergi ke kamar. Kapan harus menyimpan sesuatu di dalam hati agar tidak menjadi alasan untuk sebuah luka yang baru.
Mungkin begitulah seorang anak belajar bertahan.
Bukan dengan memahami dunia, melainkan dengan memahami suasana hati orang dewasa yang seharusnya melindunginya.
Aku tidak ingat kapan tepatnya aku berhenti berharap.
Mungkin bukan pada satu hari tertentu.
Mungkin harapan itu mati sedikit demi sedikit.
Seperti bunga yang tidak langsung layu, tetapi kehilangan air setiap hari.
Aku pernah mencoba mencintaimu, Bu.
Dengan caraku yang paling sederhana.
Aku mencoba menjadi anak yang baik. Aku mencoba mengerti. Aku mencoba tidak membantah. Aku mencoba menelan kata-kata yang sebenarnya ingin kukatakan. Aku mencoba memberikan apa yang kupikir bisa membuatmu bahagia.
Barangkali waktu itu aku berpikir, kalau aku cukup baik, suatu hari nanti kau akan melihatku.
Bukan hanya sebagai anakmu.
Tetapi sebagai seorang anak perempuan yang juga ingin disayangi.
Aku tidak tahu bahwa cinta seorang anak tidak seharusnya menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan sampai berdarah.
Aku tidak tahu bahwa seorang anak tidak seharusnya merasa harus mendapatkan haknya untuk dicintai.
Aku hanya tahu satu hal:
Aku ingin ibu menyayangiku.
Sesederhana itu.
Dan ternyata, sesederhana itu pun terasa terlalu mahal.
Ada masa ketika aku menyalahkan diriku sendiri.
Barangkali aku kurang baik.
Barangkali aku terlalu keras kepala.
Barangkali aku terlalu banyak meminta.
Barangkali aku bukan anak yang cukup mudah untuk dicintai.
Anak-anak memang begitu.
Mereka lebih mudah percaya bahwa dirinya yang salah daripada percaya bahwa orang dewasa yang mereka cintai telah menyakiti mereka.
Maka aku membawa kesalahan yang sebenarnya bukan milikku ke mana-mana.
Aku tumbuh bersamanya.
Ia ikut duduk di sampingku ketika aku belajar.
Ia ikut tidur di dalam kepalaku ketika malam datang.
Ia ikut berdiri di depan cermin ketika aku mulai bertanya apakah aku cukup cantik, cukup baik, cukup layak untuk dicintai.
Dan mungkin tanpa kusadari, luka-luka itu ikut tumbuh bersamaku menjadi seorang perempuan.
Aku pernah iri melihat perempuan lain memanggil ibunya hanya untuk bercerita tentang hari yang melelahkan.
Iri pada anak perempuan yang bisa mengirim foto makanan kepada ibunya.
Iri pada mereka yang ketika sakit masih ingin pulang.
Aku tidak pernah mengerti bagaimana seseorang bisa begitu mudah mengatakan,
"Aku kangen Ibu."
Kalimat itu selalu terasa seperti bahasa asing bagiku.
Bukan karena aku tidak punya ibu.
Aku punya.
Hanya saja, tidak semua orang yang melahirkan kita berhasil menjadi tempat pulang.
Dan mungkin itulah salah satu kesedihan terbesar yang pernah kupelajari:
bahwa seseorang bisa hadir sepanjang hidupmu, tetapi tetap terasa begitu jauh.
Aku pernah mencoba lagi.
Berkali-kali.
Karena bagaimanapun juga, kau adalah ibuku.
Ada bagian kecil dalam diriku yang selalu berharap bahwa mungkin kali ini akan berbeda.
Mungkin setelah aku dewasa, kita bisa saling memahami.
Mungkin setelah aku bisa berdiri sendiri, kita bisa berbicara sebagai dua orang perempuan.
Mungkin waktu akan membuat segala sesuatu menjadi lebih lembut.
Aku kira waktu akan menyembuhkan semuanya.
Ternyata waktu hanya mengajariku bagaimana hidup berdampingan dengan sesuatu yang belum sepenuhnya sembuh.
Aku belajar bahwa memaafkan tidak selalu berarti melupakan.
Dan mencintai seseorang tidak selalu berarti harus terus membiarkan diri sendiri terluka.
Ada begitu banyak hal yang tidak pernah kau ajarkan kepadaku.
Kau tidak mengajariku bagaimana rasanya memiliki ibu yang menjadi tempat paling aman untuk pulang.
Kau tidak mengajariku bagaimana meminta pertolongan tanpa merasa bersalah.
Kau tidak mengajariku bahwa seorang anak boleh lelah.
Bahwa seorang anak boleh menangis.
Bahwa seorang anak tidak harus menjadi kuat hanya karena dunia orang dewasa sedang terlalu berat untuk ditanggung.
Kau tidak mengajariku bagaimana mencintai tanpa takut kehilangan.
Maka aku mempelajarinya sendiri.
Pelan-pelan.
Dengan banyak kesalahan.
Dengan hati yang berkali-kali patah.
Dengan menjadi perempuan yang terlalu sering merasa harus menyelamatkan dirinya sendiri.
Aku tidak ingin berbohong dalam tulisan ini dan mengatakan bahwa semuanya sudah baik-baik saja.
Tidak.
Ada luka yang sudah tidak berdarah, tetapi masih meninggalkan bekas ketika disentuh.
Ada bagian dari masa kecilku yang mungkin tidak akan pernah kembali menjadi indah.
Dan sekarang aku mengerti, mungkin aku tidak perlu memaksanya menjadi indah.
Aku hanya perlu menerimanya sebagai bagian dari cerita hidupku.
Sebab aku tidak bisa mengubah ibu yang dulu.
Aku tidak bisa kembali kepada anak perempuan kecil yang pernah berdiri sendirian dengan hati yang penuh pertanyaan.
Aku tidak bisa memeluk dirinya dari masa lalu dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Tetapi aku bisa melakukan sesuatu yang dulu tidak bisa kulakukan.
Aku bisa memeluk diriku sendiri sekarang.
Bu,
Aku tidak menulis ini untuk mengadili siapa yang benar dan siapa yang salah.
Aku juga tidak menulisnya untuk membuatmu merasa bersalah.
Aku hanya ingin sekali, untuk pertama kalinya, menceritakan kisah kita tanpa harus berpura-pura bahwa semuanya indah.
Aku pernah mencintaimu dengan seluruh kemampuan seorang anak.
Aku pernah berusaha menjadi cukup baik agar bisa mendapatkan sedikit kelembutan darimu.
Dan ketika itu tidak pernah cukup, aku sempat berpikir mungkin akulah yang tidak cukup.
Sekarang aku tahu aku salah.
Bukan karena aku tidak layak dicintai.
Aku hanya seorang anak yang meminta cinta dari tempat yang tidak tahu bagaimana cara memberikannya kepadaku.
Dan itu bukan salahku.
Hari ini aku sudah dewasa, Bu.
Aku sudah belajar banyak hal tanpa tanganmu.
Aku belajar bahwa rumah tidak selalu berupa sebuah alamat.
Bahwa keluarga tidak selalu berarti tempat kita merasa aman.
Bahwa darah tidak selalu membuat dua hati menjadi dekat.
Dan bahwa menjadi anakmu tidak berarti aku harus menghabiskan seluruh hidupku untuk menanggung semua luka yang pernah terjadi di antara kita.
Aku tidak tahu akan seperti apa hubungan kita di masa depan.
Mungkin akan tetap jauh.
Mungkin suatu hari nanti akan menjadi lebih baik.
Mungkin juga tidak pernah menjadi seperti yang dulu kuimpikan.
Untuk pertama kalinya, aku tidak ingin memaksanya.
Aku tidak lagi ingin mengejar sesuatu hanya karena sejak kecil aku diajarkan bahwa seorang anak harus selalu mencintai ibunya, apa pun yang terjadi.
Aku ingin belajar mencintaimu tanpa kehilangan diriku sendiri.
Dan kalau suatu hari nanti aku memilih untuk memaafkanmu sepenuhnya, aku ingin itu lahir dari kedamaian, bukan dari kewajiban.
Barangkali inilah ironi paling lembut dalam hidupku.
Kau tidak mengajariku banyak hal tentang menjadi seorang ibu.
Tetapi dari semua yang tidak pernah kau ajarkan, aku justru belajar menjadi perempuan yang ingin memperlakukan dirinya sendiri dengan lebih lembut.
Aku belajar mengatakan tidak.
Aku belajar pergi dari tempat yang menyakitkan.
Aku belajar bahwa cinta tidak seharusnya membuat seseorang terus-menerus merasa kecil.
Aku belajar bahwa kelembutan bukan kelemahan.
Aku belajar bahwa seorang perempuan boleh memilih dirinya sendiri.
Dan akhirnya, aku belajar sesuatu yang paling lama kucari:
aku tidak perlu lagi menjadi anak yang sempurna untuk pantas dicintai.
Aku hanya perlu menjadi diriku sendiri.
Jadi, Bu,
jika suatu hari nanti kau bertanya apa yang kau tinggalkan dalam hidupku, jawabannya bukan hanya luka.
Kau meninggalkan banyak hal yang harus kupelajari dengan susah payah.
Tetapi aku juga menemukan sesuatu di dalam perjalanan itu.
Diriku sendiri.
Anak perempuan yang dulu begitu ingin dicintai akhirnya tumbuh menjadi perempuan yang tahu bagaimana mencintai dirinya sendiri.
Mungkin aku tidak tumbuh dari pelukanmu.
Mungkin aku tumbuh dari keheningan.
Dari kehilangan.
Dari kata-kata yang tidak pernah terucap.
Dari malam-malam ketika aku harus menguatkan diriku sendiri.
Dari segala sesuatu yang tidak pernah kau ajarkan.
Dan mungkin, pada akhirnya, itulah cara hidup menyelamatkanku.
Kau tidak pernah mengajariku bagaimana menjadi rumah.
Maka aku membangunnya sendiri.
Di dalam diriku.
Dan kali ini,
aku tidak akan membiarkan siapa pun mengusirku dari sana.
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen