CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Aku Tidak Ingin Menjadi Seperti Mama
Aku Tidak Ingin Menjadi Seperti Mama

Aku Tidak Ingin Menjadi Seperti Mama

oleh Tita Melati
CerpenGratis4 menit baca35 dibacaJFMM Participant

Aku Tidak Ingin Menjadi Seperti Mama

Dulu, aku pernah berjanji pada diriku sendiri: aku tidak akan pernah menjadi seperti Mama.

Aku mengucapkannya dalam hati, berkali-kali, setiap kali melihat Mama berangkat kerja sebelum aku benar-benar terbangun.

Sepatu kerja. Tas. Rambut yang sudah rapi. Wajah yang selalu tampak terburu-buru.

Kadang aku hanya melihat punggungnya dari balik pintu.

Kadang aku bangun dan Mama sudah pergi.

Dan ketika malam datang, aku sudah mengantuk ketika akhirnya mendengar suara kunci diputar dari luar.

Begitulah masa kecilku.

Mama bekerja.

Mengejar karier. Mengejar sesuatu yang mungkin dulu tidak pernah benar-benar kupahami.

Sementara aku mengejar Mama.

Sayangnya, kami sama-sama tidak pernah sampai.

Aku tumbuh dengan perasaan bahwa Mama bukan perempuan yang hangat.

Ia tidak pandai memeluk.

Tidak pandai mengatakan, "Mama sayang kamu."

Tidak banyak bertanya bagaimana hariku.

Tidak selalu ada ketika aku membutuhkan seseorang untuk bercerita.

Hubungan kami jauh dari kata ideal.

Aku bahkan pernah berpikir, mungkin Mama memang tidak terlalu membutuhkan aku.

Atau mungkin... aku yang tidak terlalu dibutuhkan olehnya.

Lalu aku menjadi seorang ibu.

Dan tiba-tiba, hidup seperti memaksaku membaca ulang semua kenangan yang pernah kusimpan dengan marah.

Aku tahu rasanya bangun ketika anak belum bangun.

Aku tahu rasanya pergi meninggalkan rumah dengan kepala penuh urusan.

Aku tahu bagaimana rasanya mengejar pekerjaan, mengejar penghasilan, mengejar masa depan, sambil diam-diam merasa bersalah karena hari ini terlalu sedikit waktu yang diberikan kepada anak.

Aku tahu rasanya menjadi perempuan yang harus kuat bahkan ketika sebenarnya ingin berhenti sebentar.

Dan untuk pertama kalinya, aku mulai bertanya:

"Jangan-jangan dulu Mama juga seperti ini?"

Mungkin ia bukan tidak sayang.

Mungkin ia hanya tidak tahu bagaimana cara menunjukkannya.

Mungkin pelukan bukan bahasa cintanya.

Mungkin hadir setiap hari bukan sesuatu yang mampu ia berikan.

Mungkin, dengan caranya sendiri, Mama sedang berjuang.

Untuk anak-anaknya.

Untuk kami.

Hanya saja, perjuangan kadang memang punya bentuk yang tidak bisa langsung dikenali oleh anak.

Aku masih tidak bisa mengatakan bahwa hubungan kami tiba-tiba menjadi dekat.

Tidak.

Aku tidak ingin membuat cerita ini menjadi kisah manis yang tidak pernah terjadi.

Kami tetap punya jarak.

Ada percakapan yang tidak pernah selesai.

Ada luka yang tidak mudah hilang hanya karena aku sekarang sudah menjadi ibu.

Tetapi ada sesuatu yang berubah dalam diriku:

aku mulai memahami.

Dan ternyata memahami tidak selalu berarti melupakan luka.

Kadang, memahami hanya berarti berhenti menyalahkan seseorang atas hal-hal yang dulu tidak mampu kita mengerti.

Aku pernah begitu takut menjadi seperti Mama.

Karena aku takut anakku nanti tumbuh dengan perasaan yang sama seperti yang pernah kurasakan.

Maka ketika anakku kecil dan berlari memelukku, aku membalas pelukannya lebih lama.

Ketika ia bercerita tentang sesuatu yang mungkin bagi orang dewasa terdengar sepele, aku berusaha mendengarkan.

Ketika ia membutuhkan aku, sebisa mungkin aku hadir.

Bukan karena aku ibu yang lebih baik.

Aku juga masih sering gagal.

Aku masih lelah.

Masih pernah kehilangan kesabaran.

Masih pernah terlalu sibuk dengan pekerjaan.

Tapi aku ingin anakku tahu satu hal yang dulu begitu ingin kuketahui:

bahwa ia dicintai.

Aku tidak ingin menjadi seperti Mama.

Setidaknya, itu yang dulu selalu kukatakan.

Sekarang aku mulai sadar...

Mungkin aku memang tidak perlu menjadi seperti Mama.

Aku hanya perlu menjadi versi diriku sendiri.

Mengambil perjuangannya tanpa harus mewarisi caranya.

Mengambil kekuatannya tanpa harus mengulang kesunyiannya.

Dan mencintai anakku dengan bahasa cinta yang dulu mungkin tidak pernah Mama miliki.

Entah suatu hari nanti aku akan mampu mengatakan semua ini kepada Mama atau tidak.

Mungkin aku tidak akan pernah benar-benar mengatakannya.

Tapi malam ini, ketika aku melihat anakku tidur, aku tiba-tiba ingin berbisik pada seseorang yang mungkin tidak akan pernah mendengarnya:

"Ma, sekarang aku mengerti sedikit."

"Aku masih berharap dulu Mama lebih sering memelukku."

"Tapi sekarang aku tahu, mungkin selama ini Mama juga sedang belajar menjadi seorang ibu."

Dan mungkin...

aku juga masih belajar.

Karena ternyata menjadi ibu bukan tentang menjadi sempurna.

Bukan tentang selalu hadir.

Bukan pula tentang selalu tahu cara mencintai.

Kadang, kita hanya berusaha memberikan kepada anak kita sesuatu yang dulu paling kita rindukan.

Dan mungkin, tanpa kusadari...

itulah caraku berdamai dengan Mama.

Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen