Sejak lahir, aku menyaksikan sebagian besar alur kehidupan mamaku. Sayangnya aku baru banyak memahaminya ketika aku mulai dewasa.
Walaupun hanya lulusan SMA, mamaku orangnya cerdas. Mama pernah bekerja sebagai admin di suatu perusahaan. Tapi, ketika adikku lahir, mama berhenti dan memilih fokus mengurus kami di rumah.
Hidup mama pun berubah hampir 180 derajat. Hanya berputar di dapur, cucian, aku, adikku, dan ayah. Aku dulu menganggapnya biasa saja. Bukankah memang seperti itu pekerjaan seorang ibu?
Aku mulai memahaminya ketika beranjak dewasa. Setelah mama berhenti bekerja, mama tidak punya penghasilan sendiri. Setiap membutuhkan uang, mama tidak bisa meminta tambahan lagi ke ayah.
Mama juga jarang pergi jalan-jalan. "Siapa yang mengurus rumah kalau mama keluar?," katanya.
Begitu pula soal makanan. Sering kudengar ucapnya, "Mama tidak lapar." Padahal mama hanya menahannya demi melihat anak-anak dan suaminya kenyang.
Mama tidak banyak meminta, bahkan ketika berulang tahun sekalipun. "Mama butuh bahan makanan dan perlengkapan dapur saja," jawabnya ketika ditanya mau hadiah apa. Sampai aku mengerti, mama hanya selalu merasa cukup meski banyak angan-angan yang harus ia kubur.
Ketika aku lulus SMA, aku ingin langsung bekerja. Meski bercita-cita menjadi dosen, aku tidak ingin kuliah. Aku tau kondisi orang tuaku yang tidak mampu membayar biaya kuliah. Tapi, kata mama, "Kamu harus kuliah dan capai cita-citamu! Nanti mama dan ayah cari uang pinjaman."
Akhirnya aku lanjut S1. Tapi, ayah harus membayar cicilan uang pinjaman, sehingga uang bulanan mama berkurang. Aku pun bertekad akan kuliah sambil bekerja.
Di semester 3, aku mendapat pekerjaan sebagai guru privat. Gajinya tidak banyak, tapi cukup untuk membayar biaya kuliah. Ada hari dimana aku lelah menyelesaikan tugas kuliah dan harus tetap berangkat kerja. "Kalau capek kerja, berhenti saja, nak," kata mama. Tapi, aku bertahan karena aku tidak mau membebani mama dengan biaya kuliahku lagi.
Setelah lulus S1, aku mulai memiliki penghasilan yang lebih baik. Saat itu, setelah bertahun-tahun hidup di rumah kontrak, kami akhirnya bisa tinggal di rumah sendiri. Rumah cicilan yang belum lunas. Aku membayar DP rumah, lalu ayah yang membayar cicilannya.
Aku ingin mengambil alih cicilan rumah, tapi aku mau lanjut S2. Ingat kata mama, aku harus mencapai cita-citaku.
Akhirnya aku lanjut S2. Dan di usia 25 tahun, aku lulus.
Di hari wisuda itu, aku melihat mama. Aku melihat senyumnya.
Mama yang tidak bisa lanjut kuliah. Mama yang berhenti bekerja ketika adikku lahir. Mama yang tidak lagi punya penghasilan sendiri. Mama yang jarang keluar rumah. Mama yang tidak membeli barang impiannya. Mama yang sering mengalah soal makanan. Mama yang mengabaikan hari ulang tahunnya. Mama yang ingin aku mencapai cita-citaku.
Aku pun memahami sesuatu. Selama ini, aku sudah berjalan di jalan yang berbeda dengan mama.
Aku melanjutkan pendidikan. Aku punya pekerjaan. Aku juga belum menikah, bukan karena tidak mau, bukan pula karena tidak punya calonnya. Tapi, aku punya pilihan. Aku memilih tidak ingin menjadi seperti mama.
Mama juga menginginkan hal yang sama untukku. "Capai cita-citamu, nak. Beli apa yang kamu mau, pergi ke tempat impianmu. Lalu, menikahlah ketika kamu sudah bahagia. Bagi kebahagiaan itu kepada anak-anakmu. Maaf ya mama tidak maksimal membahagiakan kamu, nak."
Aku bahagia mama adalah mamaku, tapi aku tidak harus menjadi seperti mamaku.

