"Riko sayang sama Mama?"
Setiap hari sebelum tidur pasti Mama tanya begitu ke aku. Jawabanku selalu sama. "Ngga. Aku ngga sayang sama Mama," ujarku lirih.
Pasti wajah Mama jadi sedih setelah mendengar jawabanku. "Kenapa?" tanya Mama lagi.
"Mama lebih sayang sama Nara," aku menyebut nama adik perempuanku yang sudah tidur pulas.
"Ngga dong. Mama sayang sama Riko dan Nara. Sayangnya sama besar," sanggah Mama. "Kenapa Riko pikir Mama lebih sayang sama Nara?"
Biasanya aku cuma diam kalau Mama tanya begitu. Soalnya aku bingung harus jawab gimana. Tapi sekarang sepertinya aku tahu harus jawab apa. "Mama udah ngga pernah bantuin Riko pakai sepatu lagi. Udah ngga mau suapin makan. Mama udah ngga mau mandi sama Riko lagi,"
Mama tertawa kecil. "Astaga, jadi itu,"
"Mama juga kalau cium Nara jumlahnya lebih banyak daripada Mama cium Riko,"
Mama tertawa lagi. "Masa sih? Mama ngga sadar,"
Aku membalikkan tubuhku membelakangi Mama. Tawa Mama sudah mereda. Mama mengelus kepalaku. "Maaf ya kalau sudah membuat Riko berpikir seperti itu. Mama pasti sayang dong sama Riko. Riko kan sekarang sudah 6 tahun, sudah TK B, sebentar lagi masuk SD, Riko sudah harus lebih mandiri. Makanya Mama sekarang mau Riko coba pakai sepatu sendiri, makan sendiri, mandi sendiri, karena nanti kalau di SD Riko sudah tidak dibantu lagi dengan Bu Guru,"
Mama mencium kepalaku. "Riko anak hebat kan? Riko mau jadi kakak laki-laki yang keren kan?"
Aku mengangguk.
"Nah, berarti Riko harus jadi contoh buat Nara. Riko harus tunjukkan ke Nara kalau Riko keren. Sudah bisa mandi sendiri, makan sendiri, pakai sepatu sendiri," Mama mengacungkan jempolnya.
Iya juga sih, pikirku. Aku harus jadi anak hebat. Harus jadi kakak laki-laki yang keren biar Nara bangga punya kakak seperti aku.
"Nanti kalau Nara sudah TK B juga Mama akan minta Nara untuk mandi, makan, dan pakai sepatu sendiri kok. Sekarang Nara masih perlu bantuan Mama," tambah Mama.
Aku ngga membalas apapun lagi. Mataku mulai berat. Ngantuk banget.
"Jadi, Riko sayang sama Mama ngga?" tanya Mama lagi.
Aku mengangguk.
"Mana buktinya kalau sayang sama Mama?"
Aku mengulurkan tangan untuk memeluk Mama. Mama menyambut pelukanku lalu mencium pipi dan kepalaku berkali-kali. Lebih banyak jumlahnya dari tadi waktu Mama cium Nara.
Besoknya, seperti biasa Mama sibuk menyiapkan keperluanku dan Nara berangkat sekolah.
"Nara, ayo rotinya sambil dimakan ya. Kita sudah harus segera berangkat," seru Mama sambil mengisi air minum di botolku.
Aku melihat Nara malah asyik mainan bonekanya. Aku mengambil roti tawar selai stroberi di piring Nara dan menyuapkan ke mulut Nara. "Mainnya nanti lagi, makan dulu habisin buruan," kataku.
Aku melihat Mama tersenyum ke arahku.
Selesai makan, aku menggendong tas lalu mengambil sepatuku dan Nara dari rak. Aku duduk di lantai memakai sepatu kemudian memanggil Nara. "Duduk sini, pakai sepatu sama Abang,"
Nara menurut. Aku membantu Nara pakai sepatunya.
Mama melihatku kembali dengan senyum lebar lalu mengarahkan tangannya ke aku, mengajak tos. Tak lupa mencium kepalaku sambil berbisik, "Riko memang anak hebat. Terima kasih, ya,"
Aku tersenyum lebih lebar dari Mama.

