CeritaGW
Cerpen
Cerpen1.339 kata

Aku Juga Ingin Menjadi Anak Ayah

L

Lindayanti

Sekali duduk selesai

22 Oktober 2026

Mulai membaca

Sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya, bagaimana rasanya menjadi anak perempuan yang memiliki ayah di rumah?

Bukan sekadar punya nama ayah di akta kelahiran. Bukan sekadar tahu bahwa seorang laki-laki pernah menjadi bagian dari hidup ibunya. Aku ingin memiliki ayah yang menungguku pulang, menanyakan bagaimana hariku, memarahiku ketika aku berbuat salah, lalu memelukku ketika dunia membuatku menangis.

Sayangnya, sejak kedua orang tuaku berpisah, aku hanya mengenal ayah sebagai seseorang yang sesekali terdengar namanya dalam percakapan orang dewasa.

Aku anak perempuan pertama. Katanya, anak pertama harus kuat, harus mengerti keadaan, dan harus bisa menjadi contoh bagi adik-adiknya.

Padahal, saat itu aku masih terlalu kecil untuk memahami mengapa rumah kami tidak lagi sama.

Aku tidak mengerti mengapa Ibu menangis diam-diam. Aku tidak mengerti mengapa Ayah tidak lagi tidur di rumah. Aku juga tidak mengerti mengapa setiap kali melihat teman-temanku dijemput ayah mereka, ada sesuatu yang terasa sesak di dadaku.

Aku hanya tahu satu hal sejak hari itu, aku tidak lagi memiliki tempat untuk menjadi anak kecil.


Aku masih ingat ketika teman-temanku bercerita tentang ayah mereka. Ada yang dibelikan sepeda. Ada yang diantar sekolah. Ada pula yang bercerita betapa menyebalkannya ayah mereka karena terlalu protektif.

Aku mendengarkan sambil tersenyum.

Ketika mereka bertanya tentang ayahku, aku selalu menjawab singkat, “Aku sama Ayah sudah nggak tinggal bareng.”

Setelah itu, aku mengganti topik pembicaraan. Aku tidak ingin mereka tahu bahwa terkadang aku menangis setelah pulang sekolah hanya karena melihat seorang anak berlari menyambut ayahnya di depan gerbang.

Aku juga ingin berlari seperti itu.

Aku ingin memeluk seseorang sambil bercerita tentang nilai ulanganku, tentang temanku yang menyebalkan, atau tentang hal kecil yang membuatku bahagia hari itu.

Aku ingin punya seseorang yang bisa kupanggil Ayah tanpa merasa canggung.

Namun, aku tidak tahu harus memulai dari mana. Ayah masih hidup. Aku tahu itu. Hanya saja, keberadaannya terasa begitu jauh, seolah-olah aku sedang merindukan seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku.

Dan bukankah itu menyakitkan?

Bagaimana mungkin aku merindukan seseorang yang tidak pernah kupeluk setiap hari?

Bagaimana mungkin aku menangisi seseorang yang masih bisa bernapas, tertawa, dan menjalani hidupnya, sementara aku bahkan tidak tahu apakah ia pernah merindukanku dengan cara yang sama?


Semakin dewasa, aku semakin pandai menyembunyikan perasaan. Aku tidak lagi menangis ketika melihat anak lain bersama ayahnya. Setidaknya, tidak di depan orang-orang.

Aku belajar tersenyum ketika ditanya tentang keluarga. Aku belajar menjawab bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun ada bagian dalam diriku yang selalu merasa kurang.

Sebagai anak perempuan pertama, aku terbiasa mengalah.

Aku berusaha memahami keadaan Ibu. Aku berusaha tidak menambah beban pikirannya. Aku menyimpan pertanyaan-pertanyaan tentang Ayah karena takut membuatnya sedih.

Aku bahkan merasa bersalah setiap kali merindukan Ayah.

Seolah-olah dengan merindukannya, aku sedang mengkhianati Ibu yang telah berjuang membesarkanku.

Jadi, aku memilih diam.

Aku menelan semua pertanyaan yang tidak pernah berani kusampaikan.

Apakah Ayah pernah mencari tahu bagaimana sekolahku?

Apakah Ayah tahu makanan kesukaanku?

Apakah Ayah tahu aku pernah sakit dan berharap ada tangannya yang mengusap kepalaku?

Apakah Ayah tahu bahwa anak perempuan pertamanya ini tumbuh dengan banyak ketakutan, termasuk ketakutan bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi perempuan yang tidak tahu bagaimana rasanya dicintai dengan utuh?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus hidup di kepalaku. Namun, tidak satu pun memiliki jawaban yang bisa kupeluk ketika malam datang.


Suatu hari, aku melihat seorang anak perempuan berjalan bersama ayahnya di sebuah pusat perbelanjaan.

Anak itu merengek meminta sesuatu. Ayahnya berpura-pura kesal, lalu mengacak rambutnya sebelum akhirnya menuruti permintaannya.

Mereka tertawa.

Sederhana sekali.

Tidak ada kejadian istimewa. Tidak ada sesuatu yang luar biasa. Namun, aku berdiri cukup lama untuk menyaksikan mereka menjauh. Tiba-tiba aku membayangkan diriku berada di posisi anak itu.

Mungkin aku juga akan merengek. Mungkin aku juga akan menggenggam tangan Ayah erat-erat. Mungkin aku akan meminta hal-hal kecil hanya supaya bisa menghabiskan waktu lebih lama dengannya.

Lalu aku tersadar bahwa selama ini aku bukan iri karena anak itu mendapatkan sesuatu yang tidak kumiliki.

Aku iri karena ia bisa mencintai ayahnya tanpa harus memikirkan jarak. Aku iri karena ia tidak perlu bertanya-tanya apakah dirinya masih diingat. Aku iri karena ia bisa mengeluh tentang ayahnya, sedangkan aku bahkan tidak memiliki cukup kenangan untuk dikeluhkan.

Malam itu, sesampainya di rumah, aku masuk kamar dan menangis. Aku menutup mulut dengan bantal agar Ibu tidak mendengarnya. Di antara isak yang kutahan, ada satu kalimat yang terus kuulang.

“Yah, aku juga ingin seperti mereka.”

Aku juga ingin punya ayah yang bisa kuajak bercanda.

Aku juga ingin punya ayah yang bangga melihatku tumbuh dewasa.

Aku juga ingin punya ayah yang berkata bahwa aku cantik, bahwa aku berharga, dan bahwa tidak ada seorang pun yang boleh membuatku merasa kecil.

Aku juga ingin menjadi anak perempuan yang ketika terluka, bisa pulang dan menangis di pelukan ayahnya.

Kenapa keinginanku sesederhana itu terasa begitu sulit?


Kadang-kadang, aku membenci diriku sendiri karena masih berharap.

Aku sudah besar. Aku seharusnya mengerti bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Aku seharusnya menerima bahwa kedua orang tuaku memiliki jalan hidup masing-masing.

Aku mengerti mereka manusia biasa.

Aku mengerti perpisahan mungkin menjadi pilihan terbaik bagi mereka.

Namun, apakah ada yang pernah bertanya apakah pilihan itu mudah bagi anak-anak mereka?

Orang dewasa bisa memutuskan untuk berpisah, mengemas barang-barang, lalu memulai kehidupan baru.

Sementara seorang anak hanya bisa menerima perubahan yang bahkan tidak pernah ia minta.

Aku tidak pernah meminta dilahirkan ke dalam keluarga yang harus berpisah.

Aku tidak pernah meminta tumbuh dengan pertanyaan tentang mengapa Ayah tidak ada.

Dan aku tidak pernah meminta untuk menjadi kuat sebelum aku sempat merasakan bagaimana rasanya dilindungi.

Aku tahu Ibu sudah berjuang keras. Aku menyayanginya lebih daripada yang bisa kuungkapkan. Aku tahu ia melakukan banyak hal agar aku tetap bisa tersenyum.

Namun, ada ruang dalam hatiku yang tidak bisa diisi oleh siapa pun, bahkan oleh cinta Ibu yang begitu besar.

Bukan karena cinta Ibu tidak cukup.

Melainkan karena aku merindukan sesuatu yang berbeda.

Aku merindukan sosok Ayah.

Dan untuk pertama kalinya, aku ingin mengakui bahwa merindukannya bukan berarti aku tidak bersyukur atas semua yang Ibu lakukan.

Aku hanya seorang anak perempuan yang kehilangan sebagian masa kecilnya.

Anak perempuan yang masih menyimpan harapan kecil, meskipun ia sudah terlalu sering berpura-pura tidak membutuhkannya.


Yah, jika suatu hari nanti Ayah membaca tulisan ini, aku ingin Ayah tahu sesuatu.

Aku sudah tumbuh besar.

Aku bisa melakukan banyak hal sendiri. Aku bisa menyelesaikan masalahku tanpa harus meminta bantuan siapa pun. Aku bisa tersenyum di depan orang-orang, bahkan ketika hatiku sedang tidak baik-baik saja.

Tapi, Yah, menjadi mandiri bukan berarti aku tidak pernah membutuhkan Ayah.

Ada banyak hari ketika aku ingin bercerita kepadamu. Ada banyak pencapaian yang ingin kutunjukkan. Ada banyak malam ketika aku ingin bertanya apakah Ayah bangga memiliki anak perempuan sepertiku.

Aku tidak tahu apakah Ayah pernah merindukanku.

Aku tidak tahu apakah Ayah pernah diam-diam mencari tahu bagaimana kehidupanku sekarang.

Aku juga tidak tahu apakah Ayah pernah merasa kehilangan saat melihat anak perempuan lain tumbuh bersama ayahnya.

Aku tidak ingin menyalahkan siapa pun selamanya.

Aku hanya ingin Ayah tahu bahwa di dalam diriku masih ada seorang anak kecil yang menunggu.

Anak kecil yang dahulu tidak mengerti mengapa ayahnya pergi.

Anak kecil yang terus berharap suatu hari pintu rumah akan terbuka, lalu seseorang datang dan berkata, “Ayah pulang, Nak.”

Mungkin sekarang aku sudah terlalu dewasa untuk berlari menyambut Ayah seperti anak-anak dalam bayanganku.

Mungkin aku juga akan canggung jika suatu hari kita duduk berhadapan, karena ada terlalu banyak tahun yang tidak kita lalui bersama.

Namun, jika Ayah bertanya apakah aku masih ingin mengenalmu, jawabannya masih sama.

Iya, Yah.

Aku masih ingin.

Karena sebesar apa pun aku berusaha meyakinkan diriku bahwa aku baik-baik saja, aku tetap ingin tahu bagaimana rasanya memiliki Ayah.

Aku tetap ingin merasakan kasih sayangmu, meski mungkin terlambat.

Dan aku tetap ingin menjadi anak perempuanmu, bukan hanya dalam nama, tetapi juga dalam kehidupan yang nyata.

Yah, aku tidak pernah meminta Ayah menjadi sempurna. Aku hanya ingin, sekali saja dalam hidupku, merasakan bahwa aku juga punya seorang ayah.

Karena ternyata, kehilangan sosok ayah sejak kecil bukan hanya tentang tumbuh tanpa kehadirannya.

Melainkan tentang menghabiskan bertahun-tahun bertanya-tanya apakah kita cukup berharga untuk diperjuangkan agar tidak kehilangan kehadirannya sejak awal.

Dan sampai hari ini, pertanyaan itu masih menjadi bagian paling sunyi dari diriku.

Aku anak perempuan pertama.

Aku sudah belajar menjadi kuat.

Tapi jauh di dalam hati, aku masih seorang anak kecil yang ingin dipeluk ayahnya.

Aku tidak kehilangan Ayah karena kematian. Aku kehilangan Ayah dengan cara yang membuatku harus melihatnya tetap hidup, sementara aku belajar menjalani hidup tanpa sosoknya.

Dan entah sampai kapan, sebagian diriku akan terus merindukan seseorang yang sebenarnya masih ada di dunia ini.

Seseorang yang kupanggil Ayah.

Seseorang yang, meski jauh, tetap menjadi bagian dari pertanyaan yang belum pernah selesai dalam hidupku.

Mengapa, Yah, aku harus belajar hidup tanpamu, padahal sejak awal aku hanya ingin tumbuh bersamamu?