CeritaGWCeritaGW
Blog
⌕⌘K
CeritaGWCeritaGW
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
CeritaGW by IAS

Platform baca dan tulis cerita online untuk penulis Indonesia. Bagian dari Isoke Amoke Studio.

Dunia CGW
© 2026 CeritaGW. All rights reserved.
Kembali
Aku Gagal Menjadi Anak Laki-Laki yang Mereka Harapkan
Aku Gagal Menjadi Anak Laki-Laki yang Mereka Harapkan

Aku Gagal Menjadi Anak Laki-Laki yang Mereka Harapkan

oleh Adi nurdiansyah
CerpenGratis4 menit baca6 dibacaJFMM Participant
Aku Gagal Menjadi Anak Laki-Laki yang Mereka Harapkan

Namaku a....
Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga, sejak kecil aku punya bayangan bahwa suatu hari nanti aku harus menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Membantu orang tua, menjaga keluarga, bekerja, dan membuat mereka bangga.

Aku kuliah sampai S1. Di balik gelar itu ada banyak pengorbanan keluarga. Aku pikir setelah lulus, semuanya akan menjadi awal yang baru.

Aku akan bekerja.

Aku akan punya penghasilan.

Aku akan membantu keluarga.

Aku akan membalas semua yang sudah mereka berikan.

Tapi ternyata hidup punya jalan yang berbeda.

Setelah lulus, aku justru harus menghadapi kondisi tubuh yang membuat banyak hal menjadi sulit. Penyakit autoimun datang dan mengubah banyak rencana yang sudah kubayangkan.

Aku ingin bekerja, tetapi tidak selalu mampu.

Aku ingin membantu keluarga, tetapi sering kali justru merasa menjadi orang yang membutuhkan bantuan.

Aku ingin menjadi laki-laki yang bisa diandalkan, tetapi terkadang untuk mengandalkan diriku sendiri saja terasa berat.

Itulah yang paling menyakitkan.

Bukan hanya karena aku belum berhasil.

Tapi karena aku merasa gagal menjadi anak laki-laki yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan keluarga.

Kadang aku melihat teman-temanku sudah bekerja, menikah, memiliki keluarga, dan menjalani hidup mereka. Sementara aku masih berjuang mencari jalan untuk sekadar berdiri kembali.

Aku sering bertanya dalam hati,

"Apa aku benar-benar gagal?"

Mungkin iya, kalau keberhasilan hanya diukur dari pekerjaan, uang, dan pencapaian.

Tapi mungkin juga tidak.

Karena sampai hari ini aku masih mencoba.

Masih mencari pekerjaan yang bisa kulakukan.

Masih belajar.

Masih berusaha membantu sebisa mungkin.

Dan meskipun berkali-kali merasa hancur, aku masih punya keinginan untuk bangkit.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa menjadi laki-laki yang keluargaku harapkan.

Tapi aku ingin terus berjuang sampai hari itu datang.

Karena aku bukan tidak ingin membahagiakan keluargaku.

Aku hanya sedang berjuang dengan keadaan yang tidak pernah aku pilih.

Dan jika suatu hari nanti aku berhasil bangkit, mungkin aku akan menoleh ke belakang dan berkata kepada diriku sendiri:

“Ternyata aku bukan gagal. Aku hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke tempat yang ingin kutuju.”Aku Gagal Menjadi Anak Laki-Laki yang Mereka Harapkan

Namaku Adi.

Sebagai satu-satunya anak laki-laki di keluarga, sejak kecil aku punya bayangan bahwa suatu hari nanti aku harus menjadi seseorang yang bisa diandalkan. Membantu orang tua, menjaga keluarga, bekerja, dan membuat mereka bangga.

Aku kuliah sampai S1. Di balik gelar itu ada banyak pengorbanan keluarga. Aku pikir setelah lulus, semuanya akan menjadi awal yang baru.

Aku akan bekerja.

Aku akan punya penghasilan.

Aku akan membantu keluarga.

Aku akan membalas semua yang sudah mereka berikan.

Tapi ternyata hidup punya jalan yang berbeda.

Setelah lulus, aku justru harus menghadapi kondisi tubuh yang membuat banyak hal menjadi sulit. Penyakit autoimun datang dan mengubah banyak rencana yang sudah kubayangkan.

Aku ingin bekerja, tetapi tidak selalu mampu.

Aku ingin membantu keluarga, tetapi sering kali justru merasa menjadi orang yang membutuhkan bantuan.

Aku ingin menjadi laki-laki yang bisa diandalkan, tetapi terkadang untuk mengandalkan diriku sendiri saja terasa berat.

Itulah yang paling menyakitkan.

Bukan hanya karena aku belum berhasil.

Tapi karena aku merasa gagal menjadi anak laki-laki yang seharusnya bisa menjadi kebanggaan keluarga.

Kadang aku melihat teman-temanku sudah bekerja, menikah, memiliki keluarga, dan menjalani hidup mereka. Sementara aku masih berjuang mencari jalan untuk sekadar berdiri kembali.

Aku sering bertanya dalam hati,

"Apa aku benar-benar gagal?"

Mungkin iya, kalau keberhasilan hanya diukur dari pekerjaan, uang, dan pencapaian.

Tapi mungkin juga tidak.

Karena sampai hari ini aku masih mencoba.

Masih mencari pekerjaan yang bisa kulakukan.

Masih belajar.

Masih berusaha membantu sebisa mungkin.

Dan meskipun berkali-kali merasa hancur, aku masih punya keinginan untuk bangkit.

Aku tidak tahu apakah suatu hari nanti aku bisa menjadi laki-laki yang keluargaku harapkan.

Tapi aku ingin terus berjuang sampai hari itu datang.

Karena aku bukan tidak ingin membahagiakan keluargaku.

Aku hanya sedang berjuang dengan keadaan yang tidak pernah aku pilih.

Dan jika suatu hari nanti aku berhasil bangkit, mungkin aku akan menoleh ke belakang dan berkata kepada diriku sendiri:

“Ternyata aku bukan gagal. Aku hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk sampai ke tempat yang ingin kutuju.”
Lanjutkan menulis ceritamu sendiri

Setiap cerita berharga. Dunia menunggumu.

Cerpen lainnyaTulis cerpen