Ibu selalu terburu-buru. Melompat dari tidurnya di pagi buta yang disangkanya sudah terik. Berteriak dari depan kompor pada mata kami yang masih rapat. Menuang sepanci air panas dalam bak ketika cuaca menggigit. Tangannya dua, melakukan seribu kerja. Kakinya sibuk mengejar hari.
Ibu selalu terburu-buru. Dipasangkan dasi di leherku. Dipasangkan pula kaus kaki adikku, kiri di kanan, kanan di kiri. “Tak apalah,” katanya sambil tertawa kecil, matanya sibuk melirik jam dinding dinding. Seolah lirikan tajamnya mampu membuat sungkan jarumnya agar berdetik lebih lambat. Tentu saja waktu tak acuh. Tetap dikejarnya ibu dengan sempitnya waktu dan banyaknya hal yang ia kira harus dikerjakan sendiri.
Ibu selalu terburu-buru. Diiyakan saja cepat-cepat amarah bapak. Diterima saja nada-nada tinggi yang berhamburan menghujani hatinya yang tak berpayung. Dipinggirkan perasaannya, berdiri ia di tengah, dilerainya anak dan bapak yang sayang sekali wataknya serupa. “Mengalah saja ya, nduk, turuti bapakmu.” Bahkan tangisnya pun tergesa, tak pernah sempat air mata itu mengular di pipinya yang mulai berkerut.
Dua puluh dua April 2008, lagi-lagi ibu terburu-buru. Di musala diumumkan, nama ibu yang disebut. Ibu pulang. Berbalut kain dalam peti ia dibujurkan. “Jangan dibuka,” kata bapak. Aku diam saja. Ditemuinya pelayat, senyum mengembang tapi tak mencapai matanya yang merah dan tergenang. Bapak kehilangan. Sekali dalam hidup, cintanya hilang.
Hari itu ibu tampak tenang, matanya pejam dalam peti yang sempit. Napasnya berhenti begitu saja, di tengah-tengah rencana dan urusan yang belum usai. Setelah berpuluh tahun, tidak ada hari yang perlu ia kejar, tidak ada jarum jam yang ingin dicongkel agar berhenti berdetak. Kali ini ia menjalani hidupnya sendiri, atau apapun yang tersisa dari itu.
Kucium keningnya terakhir kali, hangat. Apa iya ibu sudah pergi? Rasa-rasanya ibu hanya ke pasar dan setelahnya memasak sambal goreng kentang.
Delapan belas tahun kemudian, rasanya masih sama. Ibu hanya ke pasar, tapi kali ini sedikit lebih lama. Kali ini ia tidak terburu-buru.

